Minggu, 20 September 2015

Makalah Pendek Mengapa Tafsir Al Qur-an Modern Berbeda dengan Tafsir Al Qur-an Klasik ?



Mengapa Tafsir
Al Qur-an Modern
Berbeda dengan
Tafsir Al Qur-an Klasik ?
Pengaruh Virus pikiran mata-mata Inggris


Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi


Definisi-definisi
Tafsir Al Qur-an Modern adalah Tafsir Al Qur-an yang
dikarang setelah masuknya Inggris ke Timur Tengah, yaitu.
1. Kitab Tafsir Al-Manar, Muhammad Rasyid Ridho.
2  Kitab Tafsir Al-Maraghi, Ahmad Musthafa Al-Maraghi
3  Kitab Tafsir Fii Dzilali Al-Qur an, Sayid Quthub
4. Kitab Tafsir Al-Misbakh, Quraisy Shihab
5. Kitab Tafsir An-Nur, Hasbi Ash-Shiddiqy
6. Kitab Tafsir Al-Azhar, HAMKA
7. Kitab Tafsir Departemen Agama
Kitab Tafsir Al Qur-an Klasik adalah Tafsir Al Qur-an yang dikarang sebelum masuknya Inggris ke Timur Tengah yaitu :
1. Kitab Tafsir Al-Jalalain yang dikarang pada tahun 1455 M.
2. Kitab Tafsir Ibnu Katsir yang dikarang pada tahun 1372 M.
Sejak abad ke 18, Inggris sudah mengirimkan mata-matanya ke Timur Tengah.
Beberapa Contoh Perbedaan
1. Masalah poligami. Di dalam Kitab Tafsir Al Qur-an Klasik poligami dan monogami dinilai sama-sama baiknya, sedang di dalam Kitab Tafsir Al Qur-an Modern, monogami dinilai baik sedang poligami dinilai buruk. Uraian lengkapnya dapat dibaca pada  makalah “Tafsir Analisa Surat An-Nisa Ayat 1 dan 2.”
2. Pemakaian jilbab bagi wanita muslimah. Di dalam Kitab Tafsir Al Qur-an Klasik pemakaian jilbab diwajibkan, sedang di dalam Kitab Tafsir Al Qur-an Modern termasuk masalah khilafiyah.
3. Jihad. Di dalam Kitab Tafsir Klasik jiha berarti perang membela agama, sedang dalam Kitab Tafsir Modern jihad berarti berjuang membela kebenaran
Pengaruh Mata-mata Inggris di Timur Tengah.
Informasi ini dikutip dari buku “Confession of a British Spy”  karangan  Hempher alias M. Siddiq Gumus dan telah diterjemah-kan ke dalam bahasa Indonesia berjudul “Pengakuan Mata-mata Inggris dalam Menghancurkan Kekuatan Islam”.
Kutipan dari buku “Confession of a British Spy”



Pada tahun 1710, mata-mata Hempher dikirim ke Mesir, Irak, Hijaz dan Istambul untuk memecah-belah Islam. Selain dia, ada 9 mata-mata lagi yang dikirim oleh penjajah Inggris.
Hempher pergi ke Istambul, ibu kota Kekhalifahan Turki ‘Utsmani hingga tahun 1712. Namun setelah tugas mereka usai, hanya 6 orang saja yang kembali ke London. Kemudian Hempher diberi cuti selama 6 bulan, yang dipakainya untuk menikah.
Hempher lalu diberi tugas yang ke-2 Yaitu : Menemukan berbagai titik lemah kaum muslimin yang dapat dipakai untuk memecah-belah mereka. Kelemahan ini langsung digunakan untuk menimbulkan perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam.
Untuk tugas ke-2 ini dia berangkat ke Bashrah, Irak. Di Baghdad Hempher berjumpa dengan Muhamad Ibnu Abdul Wahab Annajd. Hempher melihat bahwa beliau ini sangat potensi-al. Maka dibinanya pemuda itu. Di belakang hari Muhamad ibn Abdul Wahab Annajd ini bersekutu dengan Muhamad Ibnu Saud mendirikan Kerajaan Saudi Arabia dengan bantuan Inggris.
Faham mereka disebut Wahabi yang sangat radikal. Dalam pandangan Wahabi, hanya mereka saja yang benar. Golongan lain dianggap sesat dan kafir sehingga boleh dibunuh  Maka pada awal berdirinya negara itu banyak terjadi pembunuhan di Saudi Arabia. Uraian lebih lengkap tentang Wahabi dapat dibaca pada makalah Sejarah “Hitam” Kaum Wahabi 02.


     Sekretaris Persemakmuran sangat puas dengan tugas   Hempher yang dianggap sebagai mata-mata Inggris yang paling sukses. Hempher dihadapkan ke menteri yang sangat senang dengan keberhasilannya membina Muhamad Annajd. Sekretaris membawanya ke sebuah ruangan dimana ada 10 orang duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Ada yang menyamar sebagai khalifah Turki, sebagai Syaikhul Islam di Istambul, sebagai Syah Iran, sebagai Perdana Mentri Iran dan sebagai Ulama besar Syi'ah di Najaf. Masing-masing dengan asisten yang memberikan informasi yang diperlukan dari Istambul, Iran dan Najaf. Sekretaris berkata, "Kami berani menjamin penyamaran ini  70 % sesuai dengan keadaan yang sesungguhnya.” Hempher mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Ulama Najaf palsu tersebut. Semua jawabannya sangat sesuai dengan yang dia terima dari Ulama Syi'ah di Najaf.
Kemudian sekretaris memberinya sebuah buku setebal 1000 halaman berisi hasil penelitian lima perwakilan di atas. Buku itu berisi rencana Inggris untuk menghancurkan kekhilafahan Turki Usmani dalam waktu kurang dari satu abad. Demikianlah, Inggris telah berhasil menciptakan mata-mata yang sangat pandai, yang menyamar sebagai ulama dan pejabat di Timur Tengah.
Kemudian mata-mata yang menyamar sebagai Ulama tadi disusupkan ke sentral pendidikan Al-Azhar, Istambul, Najaf, dan Karbala.
Kutipan dari buku “Devil’s Game” karangan Robert Dreyfus.


Pada tahun 1885, seorang aktivis Persia-Afghon bertemu dengan para pejabat Kerajaan Inggris di London untuk menawarkan suatu ide kontroversial  Apakah Inggris bersedia mengorganisir sebuah aliansi Pan-Islamisme antara Mesir, Turki, Persia dan Afghonistan untuk melawan kaum czarist diktator Rusia? Waktu itu Inggris telah menguasai India, kemudian Mesir pada tahun 1881. Kekaisaran Turki Utsmani yang mencakup Irak, Syria, Libanon, Yordania, Israel, Saudi Arabia, dan negara-negara Teluk sedang goyah.
Kekaisaran Turki sangat potensial untuk dianeksasi. Inggris yang ahli dalam memanipulasi afiliasi suku, etnik, agama, dan ahli dalam membuat kelompok-kelompok minoritas agar saling menyerang, tertarik dengan ide untuk membangkitkan spirit revivalisme Islam..Rusia  dan Prancis juga memiliki ide yang sama. Namun selanjutnya Inggris dengan puluhan juta warga muslim di Timur Tengah dan Asia Selatan yang diuntungkan.
Aktivis Persia-Afghon yang mengajukan ide Pan-Islamisme di bawah kendali Inggris pada tahun 1885 adalah Jamaluddin al-Afghoni. Sejak 1870-an sampai1890-an, Afghoni  memperoleh dukungan Inggris. Menurut sebuah arsip rahasia badan intelijen pemerintah India, Afghoni secara resmi menawarkan diri untuk pergi ke Mesir sebagai agen intelijen Inggris.
Bila kita ingin membuat geneologi biblikal Islamisme sayap kanan, maka akan terbaca seperti berikut:
Afghoni (1838-1897) menurunkan Muhammad  Abduh (1849-1905), seorang aktivis Pan-Islamisme dari Mesir, murid utama serta penyebar ajaran-ajaran Afghoni. Abduh menurunkan Muha-mad Rosyid Ridlo (1865-1935), murid Abduh dari Syria, berpindah ke Mesir dan membuat majalah al-Manar, mengkampanyekan ide-ide Abduh dalam mendukung sebuah Republik Islam
Rosyid Ridlo menurunkan Hassan al-Banna (1906-1949), yang mempelajari Islamisme dari majalah al-Manar dan mendirikan al-Ikhwan al-Muslimun di Mesir pada 1928. Banna menurunkan banyak keturunan, antara lain adalah menantunya, Said Romadon, organisator al-Ikhwan al-Muslimun internasional yang berkantor pusat di Swiss. Banna juga menurunkan Abul A'la al-Maududi, pendiri Jamaati Islami di Pakistan, sebuah partai politik Islam pertama yang banyak terilhami oleh karya-karya Banna. Para pewaris Banna lainnya mendirikan cabang-cabang Ikhwan di setiap negara Muslim, Eropa, bahkan di Amerika Serikat..
Seorang keturunan ideologis Banna lainnya adalah Osama bin Laden, seorang warga Saudi yang terlibat Jihad Afghonnya Amerika yang paling dikambing-hitamkan dari keluarga genealogi biblikal Islamisme sayap kanan tersebut. Selama kurun setengah abad, dari 1875 hingga 1925, building block kanan Islam dibangun Inggris. Afghoni membuat pondasi intelektual bagi gerakan Pan-Islamisme dengan patronase Inggris dan dukungan dari orientalis Inggris terkemuka, E.G. Browne. Abduh, murid utama Afghoni, dengan bantuan proconsul London untuk Mesir, Evelyn Baring Lord Cromer, mendirikan gerakan Salafiyyah, sebuah gerakan arus fundamentalis kanan radikal yang berprinsip "kembali ke dasar" yang masih eksis hingga kini.
Abduh menjalin hubungan dengan penguasa Inggris di Mesir. Dia juga membina al-Ikhwan al-Muslimun yang mendominasi kanan Islam pada abad ke-20. Inggris juga mendukung Abduh kala pra Perang Dunia I beliau memobilisasi semangat Islam.
Di Jazirah Arob, Inggris membantu kelompok di bawah pimpinan keluarga Ibnu Saud yang berhasil menciptakan negara fundamentalis Islam pertama di dunia yaitu Saudi Arobia. Pada saat yang sama, Inggris juga mendukung Hasyimiyyah dari Makkah -keluarga Arab kedua dengan klaim palsu sebagai keturunan Nabi Muhammad- di mana anak-anaknya dipasang oleh London sebagai raja Irak dan Yordania.
Masuknya Virus fikiran ke dalam Kitab-kitab Tafsir Al Qur-an yang berorientasi Universitas Al-Azhar
Fenomena Jamaluddin Al-Afghoni dan ulama-ulama palsu ciptaan Inggris itu menciptakan faham islam yang menyimpang. Meminjam istilah Virus komputer- fenomena ini penulis namakan Virus fikiran. Tujuannya adalah memecah belah ummat Islam, merusak moralnya serta memadamkan api semangat jihad melawan Inggris.
Virus fikiran ini disebarkan ke kalangan akademis dan masyarakat umum.di seluruh dunia Islam dalam bentuk Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan Islam. Virus pikiran itu menyusup ke dalam buku-buku referensi di Perguruan tinggi di Mesir, Iraq dan Iran. Maka para Civitas Academica itu secara tidak sadar menye-rap pemikiran yang merusak Islam itu.
Termasuk para sarjana Indonesia yang belajar di Timur Tengah. Sehingga menjadikan buku-buku karangan mereka di antaranya Kitab Tafsir Al Qur-an Modern berbeda dengan Kitab Tafsir Al Qur-an Klasik.
Jember, 27 Juli 2015
Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilpun (0331) 481127 
 Jember




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar