Sabtu, 17 Maret 2018

Leaflet Assalam Qoblal Kalam



ASSALAM
QOBLAL KALAM

Oleh : Dr. H. M. Nasim Fauzi

Pendahuluan
Pada siaran TV kita sering menyaksikan sang pembicara mengucap basmalah (bismillahirrohmanir-rohim), bahkan ada yang ditambah taawudz (audzu billahi minasysyaithonirrojim) sebelum mengucap salam. Pada hadits “Assalam qoblal kalam” riwayat Ibnu Najjar serta Thobroni dan Abu Naim, hal ini    tidak dibenarkan.
Berikut ini penulis kutipkan beberapa tulisan yang membahasnya.
1. Membaca Basmalah atau Salam Dahulu.  Dikutip dari Fajar Santoso 
a. Ihyaa’ Uluumiddin II/200
Sebagian kewajiban muslim atas muslim lainnya adalah memulai salam sebelum pembicaraan, sambil berjabat tangan saat salam,
Hadits ke-1 Nabi Muhammad Saw. bersabda “Barangsiapa memulai pembicaraan sebelum salam maka tidak usah dijawab hingga ia memulainya dengan salam terlebih dahulu(HR. Thobroni dan Abu Na’im)
b. Kejadian di masyarakat
Kebiasaan di pengajian-pengajian, sebelum mem-bahas persoalan pokoknya, didahului oleh:
1. Membaca salam, biasanya : “Assalamu ’Alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh”.
2. Setelah itu membaca : “Bismillahirrohmanirrohim”.3. Lalu dilanjutkan membaca Hamdalah : “Alhamdu-lillahirobil ’alamin”.
4. Lalu dilanjutkan membaca sholawat : “Washsholaatu Wassalaamu ‘Alaa Asyrofil Mursalin Wa’alaa Aalihi wa Ashhaabihi Ajma’in”.
Baru setelah itu membaca “Ammaa Ba’du”.
Ada juga yang singkat saja, setelah salam langsung : “Bismillah – Alhamdulillah – Washsholaa-tu Wassalaamu ‘Alaa Rosuulillah wa ‘Alaa Aalihi wa Ashhaabihi Waman Waalah”, ada juga yang di-tambah “Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billah”.
Ada yang  bicara dahulu yang lama, kemudian baru salam, jadi setelah kepada…, kepada… kepada…, baru “Assalamu ‘Alaikum”.
Menurut Fajar Santoso yang diucapkan dulu adalah : Salam, lalu Basmalah,  lalu Hamdalah, lalu Sholawat Salam kepada Nabi Muhammad Saw., jadi dirangkaikan satu, dua, tiga.
Dalilnya  adalah Hadits ke-2  : Qoola Rosuulullloh Saw. : Assalaamu qoblal kalaam., ‘An Jaabir (H.R. Imam Ibnu Najjar).
Hadits ke-3   : “Bersabda Rosululloh Saw. : Mengucap salam itu lebih dahulu sebelum bicara”. Assalamu qoblassu-aal faman bada-akum bissuaali qoblas-salaam falaa tujibuhu.
Artinya : “Salam itu lebih dahulu sebelum ber-tanya, siapa orangnya yang mengawali dari kamu semua dengan pertanyaan sebelum mengucap salam, maka janganlah dijawab pertanyaannya”.
Jadi sebelum bertanya, muqoddimahnya harus salam: “Assalaam Qoblal Kalam” : Salam dahulu sebelum komunikasi / hubungan antara sesama manusia.                ha 

   Hadits ke-4   Qoola Rosuululloh Saw. : Assalaamu tathowwu’un warroddu faridlotun. (Al-Hadits)
Artinya : “Bersabda Rosululloh Saw. : Salam itu sunat dan menjawab salam itu fardlu”.
Keutamaan Mengucapkan Salam
Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah yang bukan rumah kalian sebelum kalian meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27)
Hadits ke-5 Dari Abdullah bin Amr Ra. dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi Saw., “Apakah yang paling baik menurut Islam?” Nabi Saw. menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. (HR. Al-Bukhari no. 11, 27 dan Muslim no. 3)
Hadits ke-6 Dari Al-Barra` bin Azib Ra. dia berkata: “Nabi Saw. memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara: (1) Beliau memerintahkan untuk menjenguk orang sakit, (2) mengiringi jenazah, (3 )mendoakan orang yang bersin, (4) memenuhi undangan, (5) me-nyebarkan salam, (6) menolong orang yang ter-zhalimi, serta   (7) melaksanakan sumpah. Dan beliau melarang kami (1) memakai cincin dari emas, (2 )minum dari bejana yang terbuat dari perak, (3) mayasir / judi, (4) qassiy, (5) harir / gelang emas, (6)dibaj / sutra tebal, dan (7) istabraq (pakaian yang terbuat dari sutera atau campuran sutera).” (HR. Al-Bukhari no. 2265, 5204, 5414, 5754, 5766 dan Muslim no. 2066)
Hadits ke-7 Dari Abu Hurairah: Ra. Nabi Saw.bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling me-nyayangi. Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Keutamaan Membaca Basmalah.
 “Setiap perkara yang mengandung kebaikan yang tidak diawali dengan basmalah kurang berkah”
Yang dimaksud ‘setiap perkara’ mencakup semua jenis ucapan seperti bacaan dan semua jenis perbuatan seperti mengarang (kitab). Yang dimaksud dengan ‘yang mengandung kebaikan’ adalah setiap keadaan yang oleh syara’ dipandang penting untuk diawali dengan bismillah, bukan hal yang haram bukan pula hal yang makruh.
Disyaratkan juga bukan berupa dzikiran murni dan bukan hal yang oleh syara’ ditetapkan keberadaan-nya dengan selain basmalah dan hamdalah seperti shalat yang oleh syara’ telah ditetapkan tidak diawali dengan basmalah dan hamdalah tapi awalilah dengan takbir. (Tuhfah al-Muriid halaman 3)
Membaca Basmalah Dapat membuat setan menjadi kecil
Hadits ke-8  Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnadnya meriwayatkan dari seseorang yang dibonceng oleh Nabi Saw., ia berkata, “Tunggangan Nabi Saw. tergelincir, maka aku katakan: ‘Celaka setan.’ Nabi Saw. bersabda, ‘Janganlah engkau mengucapkan ‘celakalah setan.’ Karena jika engkau mengucapkannya, maka ia akan membesar dan berkata: ‘dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia.’ Jika engkau mengucapkan bismillah, maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.’” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Ini merupakan berkah dari ucapan “Bismillah
Disunnahkan membaca basmalah sebelum memulai pekerjaan
h   Oleh karena itu disunnahkan membaca basmalah pada awal setiap ucapan maupun perbuatan. Disunnahkan juga membacanya pada awal khuthbah. Dan disunnahkan juga membaca basma-lah sebelum masuk kamar mandi.
Tidak sempurna wudhu sebelum membaca basmalah
Hadits ke-9  Berdasarkan hadist dalam musnad Imam Ahmad dan juga dalam kitab Sunan dari riwayat Abu Huraira, Sai’id bin Zaid dan Abu Sa’id Ra. Secara marfu’, Rasululllah Saw. bersabda, “Tidak sah wudhu seseorang yang tidak menyebut nama Allah Ta’ala (mengucap basmalah)”  (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibn Majah)
Membaca Basmalah sebelum jima’  kelak anaknya akan dijauhkan dari gangguan setan.
Hadits ke-10 Berdasarkan hadist dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seandainya salah seorang dari kalian hendak mencampuri istrinya ia membaca : ‘Bismillah allahumma janibnasy syaithaana wa janibisy syaithaana maa razaqtanaa (dengan menyebut nama Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau anugrahkan kepada kami),’ maka jika Allah menaqdirkan lahirnya anak maka anak itu tidak akan diganggu oleh setan selamanya.”
Menjauhkan rumah dari setan.
Hadits ke-11  Dari Jabir Ra. berkata, saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Jika seseorang masuk ke dalam rumahnya lalu ia menyebut asma Allah Ta’ala saat ia masuk dan saat ia makan, maka setan berkata kepada teman-temannya, ‘ tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam.’ Dan jika ia masuk, tanpa menyebut asma Allah Ta’ala saat hendak masuk rumahnya berkatalah syaithan: ‘kalian mendapatkan tempat bermalam, dan apa bila dia tidak menyebut nama Allah ketika hendak makan,maka setan berkata : ‘ kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.’” (Muttafaqun ‘alaih)
4 Situasi Bacaan Basmalah dalam membaca Al Qur-an  Dikutip dari
Salah satu adab membaca Al-Qur’an ialah membaca basmalah. Dalam membaca basmalah tak lepas dari 4 keadaan:
Pertama, Membaca basmalah di awal surat. Membaca basmalah di awal tiap surat Al-Qur’an, selain surat At-Taubah hukumnya sunnah.
Kedua, membaca basmalah di pertengahan surat. Misalnya saat melanjutkan bacaan Alquran yang dimulai dari pertengahan.
Ketiga, tidak perlu membaca basmalah di awal surat At-Taubah. Melainkan membaca taawudz yang dilanjutkan dengan membaca ayat pertama surat ke-9 tersebut.
Keempat, menurut Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami disunnahkan membaca basmalah jika membaca surat At-Taubah dari pertengahan dan bukan dari awal surat. 


Jember, 27 Maret 2017


Dr. H.M. Nasim Fauzi.
Jalan Gajah Mada 118
Tilpun (0331) 481127
Jember.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar