Jumat, 03 Juni 2016

Makalah pendek Pemeriksaan ABC untuk DM dan HT



 PEMERIKSAAN ABC
UNTUK PENDERITA
DIABETES MELLITUS
DAN HIPERTENSI

Oleh : Dr. H. M. Nasim Fauzi
Pendahuluan
Banyak penderita Diabetes Mellitus (penyakit Kencing Manis) dan Hipertensi (penyakit Tekanan Darah Tinggi) yang ada di masyarakat  Bila tidak dikelola dengan baik bisa menjadi cacat bahkan kematian.
Dengan semakin banyaknya Tenaga kesehatan, Rumah Sakit, Laboratorium serta obat-obatan dengan beaya yang terjangkau (bila dimanfaatkan dengan baik) bisa sangat mengurangi kasus kematian kedua penyakit itu.
Maka para penderiita Diabetes Mellitus (DM) dan Hipertensi (HT) harus selalu memeriksakan dirinya secara teratur, di antaranya dengan pemeriksaan ABC.
Pemeriksaan ABC
A adalah singkatan dari A1c lebih lengkapnya pemeriksaan kadar HbA1c di dalam darah untuk penyakit Kencing manis,
B adalah singkatan dari Blood pressure atau pemeriksaan Tekanan darah untuk penyakit Tekanan darah tinggi, sedang
C adalah singkatan dari Cholesterol atau pemeriksaan kadar Kolesterol di dalam serum darah.
Penyakit Kencing Manis
                                    Pancreas



Diabetes mellitus atau penyakit kencing manis adalah penyakit metabolik akibat kurangnya insulin secara absolut (pada DM tipe 1) atau relatif (pada DM tipe 2) sehingga mengganggu metabolisme karbohidrat serta lemak dan protein. Hormon insulin diproduksi oleh sel-sel Beta / Islet of Langerhan di dalam kelenjar pan creas. Pada DM tipe 2, tubuh kurang peka / resisten terhadap insulin di antaranya akibat kegemukan, kadar kolesrerol darah yang tinggi dan DM yang disertai dengan  hipertensi.
Jumlah penderita DM di Indonesia sebanyak 1,5 – 2,3 % dari penduduk usia di atas 15 tahun, yang pada tahun 2015 berjumlah sekitar 9,1 juta orang.
Pengendalian Penyakit DM
Ternyata 15 % penderita Diabetes mellitus dapat dikendalikan dengan diet saja, 15 % memerlukan insulin, sedang 70% memerlukan obat hipoglikemik oral (OHO), di samping pengaturan makan (diet) dan olahraga.
Pengendalian gula darah adalah hal yang terpenting dalam menurunkan resiko komplikasi.
------------------------------------------------------------------------------
Pemeriksaan A atau A1c
------------------------------------------------------------------------------
A1C atau lengkapnya Hemoglobin A1c atau HbA1c  (A adalah singkatan dari adult), disebut juga Hemoglobin glycosilat adalah zat yang terbentuk dari reaksi kimia antara glukosa dan hemoglobin (bagian dari sel darah merah). A1c yang terbentuk dalam tubuh akan disimpan di dalam sel darah merah dan akan terurai secara bertahap bersama dengan berakhirnya masa hidup sel darah merah (rata-rata umur sel darah merah adalah 120 hari).
A1c menggambarkan konsentrasi glukosa darah rata-rata selama periode 1-3 bulan. Jumlah A1c yang terbentuk sesuai dengan konsentrasi glukosa darah. Pemeriksaan A1c digunakan untuk mengontrol kadar glukosa jangka panjang pada penderita diabetes.
A1C adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui apakah penyakit DM terkendali dengan baik atau tidak.
ADA (America Diabetic Association) menetapkan Nilai normal A1c adalah < 7%, namun IDF (International Diabetic Federation) menetapkan A1c  < 6,5% adalah angka yang paling ideal yang harus dicapai oleh seorang penderita DM.
Kadar A1C yang tinggi biasanya diikuti dengan kadar glukosa darah yang tinggi juga. Hal ini dapat meningkatkan resiko komplikasi seperti jantung coroner / gagal jantung, stroke, gagal ginjal, retinopati dan kebutaan, neuropati, disfungsi ereksi dan gangren.
Kadar A1c yang tinggi merupakan faktor resiko utama pada kejadian penyakit jantung koroner (PJK) dan infarc jantung. Peningkatan kadar A1C 1 % akan meningkatkan PJK sebesar 11 %.
Perbedaan Pemeriksaan A1c dan Pemeriksaan Glukosa Darah
Pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan hanya dapat mencerminkan konsentrasi glukosa darah pada saat diukur saja dan sangat dipengaruhi oleh makanan, olahraga dan obat yang baru dikonsumsi. Jadi, tidak dapat menggambarkan bagaimana pengendalian konsentrasi glukosa dalam jangka panjang.
Bila pemeriksaan A1c tak normal (lebih dari 7 %)
1. Pertama-tama yang dilakukan adalah mengatur pola makanan. Mengurangi obesitas sampai lingkar perut mencapai 90 cm pada pria dan 80 cm pada wanita. Larangan makanan harus ditaati yaitu menghindari makanan dan minuman yang mengandung gula yaitu gula dari tebu, gula kelapa dan gula aren. Diganti dengan pemanis buatan yaitu saccorit, tropicana slim, equal, diasweet atau diabetasol. Berolahraga.
2. Bila kadar A1c belum berhasil mencapai harga normal, maka dilakukan pengaturan dosis OAD-nya.
3. Bila cara ini belum berhasil mungkin perlu ditambahkan injeksi insulin.
5, Selanjutnya pemeriksaan A1C dilakukan setiap 3 bulan sekali.
Pentalogi Diabetes Mellitus:
1). Pengaturan makan 
2). Latihan fisik  
3). Penyuluhan              
4). Obat berkhasiat hipoglikemik  
5). Cangkok pankreas
------------------------------------------------------------------------------
Pemeriksaan B atau Blood pressure
------------------------------------------------------------------------------
Hipertensi adalah naiknya tekanan darah sistolik (bacaan atas) > 140 mmHg dan atau diastolik (bacaan bawah) > 90 mmHg pada 2 X pengukuran dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Commitee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure sebagai tekanan  > 140 / 90 mmHg.
Diagnosis hipertensi
Diagnosa hipertensi dengan pemeriksaan fisik paling akurat menggunakan spyghmomanometer air raksa. Sebaiknya dilakukan dengan > 1 X pengukuran dengan posisi lengan menekuk di atas meja dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas dan posisi lengan sebaiknya setinggi jantung. Pengukuran dilakukan dalam keadaan tenang. Pasien diharapkan tidak mengonsumsi makanan yang dapat mempengaruhi tekanan darah misalnya kopi, soda, makanan tinggi kolesterol, alkohol dsb.
Komplikasi / penyulit hipertensi
Hipertensi dapat menimbulkan komplikasi seperti stroke, kelemahan jantung (decompensatio cordis), penyakit jantung koroner (PJK), gangguan ginjal dll. Yang berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak,   ginjal dan jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. Hipertensi atau yang disebut the silent killer yang merupakan salah satu faktor resiko paling berpengaruh penyebab penyakit jantung (cardiovascular).
Perubahan pola makan dan gaya hidup dapat memperbaiki kontrol tekanan darah dan mengurangi resiko terkait komplikasi kesehatan. Meskipun demikian, obat seringkali diperlukan bila perubahan gaya hidup saja terbukti tidak efektif atau tidak cukup dan biasanya obat harus diminum seumur hidup sampai dokter memutuskan tidak perlu lagi minum obat. Seseorang yang pernah mengalami tekanan darah tinggi, dapat mengalami tekanan darah tinggi lagi, banyak kasus stroke terjadi saat seseorang lepas obat. Oleh karena itu pengontrolan tekanan darah secara rutin mutlak dilakukan. Pengukuran itu dilakukan antara seminggu 1 X sampai satu bulan 1 X . Sedang orang yang tekanan darahnya normal dikontrol setahun 1 X.
Klasifikasi JNC7 (Joint National Commitee)
Normal                                      90–119   /  60–79 mmHg
Prahipertensi (normal tinggi)  120–139 /   80–89 mmHg
Hipertensi Derajat 1                140–159 /   90–99 mmHg    
Hipertensi Derajat 2                ≥160      /   ≥100   mmHg
Hipertensi sistolik tersendiri    ≥140      /   < 90     mmHg
Hipertensi tergolong “resisten” bila obat penurun tekanan darah tertentu tidak mengurangi tekanan darah (menjadi normal) dan perlu mencoba obat yang lain.
-------------------------------------------------------------------------
Pemeriksaan C (Cholesterol)
-----------------------------------------------------------------------------
Diabetes Mellitus dan Hipertensi dapat menyebabkan Penyakit jantung dan Stroke yang merupakan penyebab utama kematian di dunia. Kedua penyakit ini selain akibat dari DM dan HT juga disebabkan oleh atherosklerosis akibat pengendapan Low Density Lipoprotein (LDL) cholesterol yang disebut Kolesterol jahat. LDL Cholesterol yang tinggi ditimbulkan oleh konsumsi Minyak Buruk yaitu minyak kelapa sawit, minyak kedelai dan minyak-minyak yang mengandung asam lemak rantai panjang / Long Chain Triglycerides (LCT) lainnya.


                                                                                                             Perjalanan LCT
 


LCT ini setelah di konsumsi, dalam bentuk Chiylomicron masuk ke saluran lemak dan limfe / cisterna chyli, lalu ke thoracic duct, selanjutnya masuk ke vena jugularis interna dan subclavia, akhirnya masuk ke peredaran darah umum.
     Kadar LCT yang tinggi akan meningkatkan kadar kolesterol di antaranya LDL cholesterol yang bisa menimbulkan atherosklerosis. Selain menghindari minyak buruk kita juga harus menghindari lemak jahat yaitu margarin yang mengandung lemak trans, yang selain menimbulkan kanker juga bisa meningkatkan kadar kolesterol.
Sebagai gantinya kita memakai minyak baik, yaitu minyak kelapa, yang mengandung asam lemak rantai sedang / Medium Chain Triglyceride (MCT). Dari usus, MCT ini  langsung masuk ke hati dijadikan keton bodies dan ATP sebagai bahan bakar tubuh. Sangat sedikit minyak / trigliserida dan kolesterol yang masuk ke peredaran darah umum.
Contoh kasus perubahan konsumsi minyak sawit ke minyak kelapa.
Tn. IM. 64 th. Pensiunan Puslit Kopi Kakao Jember.
Tanggal
14-04-2015
   12-05-2015
Diet
Minyak sawit
   Minyak kelapa
TG
99 mg%
97 mg%
HDL
38 mg%
31 mg%
LDL
260 mg%
97 mg%
TG   = Triglyceride         Harga Normal < 150 mg%
HDL =  High Density Lipoprotein,
         = Kolesterol baik.  Harga Normal  > 35 mg%
LDL = Low Density Lipoprotein   
         = Kolesterol jahat  Harga Normal  < 135 mg%
Ternyata konsumsi minyak kelapa dapat menurunkan kadar LDL (kolesterol jahat) yang bisa menimbulkan penyakit jantung koroner dan stroke, dari 260 mg% menjadi 97 mg%
Maka sangat bijaksanalah bila kita tidak lagi mengonsumsi minyak kelapa sawit, kemudian beralih mengonsumsi minyak kelapa.
Jember 02 Juni 2016
Dr. H. M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilpun (0331) 481127
Jember



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar