Kamis, 03 Desember 2015

Makalah Pendek Benarkah Nabi SAW bermi'roj ke Langit ke 7



BENARKAH NABI MUHAMMAD SAW
BERMI’ROJ KE LANGIT KE-7 ?
Mengkaji pendapat Abu Najdi Haraki  
dan Stephen Hawking 
Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi
Pendahuluan
Isro’ dan Mikroj adalah dua perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dalam waktu satu malam saja.
Isro’ adalah perjalanan dari Masjidil Harom di Mekah ke Masjidil Aqso di Palestina. Sedang Mi’roj adalah naiknya Nabi Muhamad Saw dari Masjidil Aqso di Palestina ke Sidrotil Muntaha dan seterusnya.
Isro’ Mikroj terjadi sewaktu Nabi Muhamad Saw. tinggal di Mekah sebelum hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isro’ Mi'roj terjadi pada tahun pertama sebelum hijroh (antara tahun 620-621 M).
 Pada tahun 617 M. kaum musyrikin Quroisy memboikot kaum Muslimin, Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutholib (tidak boleh berdagang). Jumlah mereka kira-kira 40 orang dewasa. Lama boikot itu 3 tahun (sampai 620 M.).
Pendapat Abu Najdi Haraki
Abu Najdi Haraki dalam buku “Misteri Isra’ Mi’raj” DIVA Press, Jogjakarta, 2007, menilai hadits-hadits tentang isro’ mi’roj kurang bisa dipercaya karena banyak hadits palsu. Karena waktu itu di kota Mekah jumlah kaum muslimin masih sedikit dan posisinya terpencar-pencar, sehingga para perowi hadits di sekitar Nabi Muhammad Saw. jumlahnya sangat sedikit.
Selain itu, setelah Nabi Muhammad Saw. wafat timbul “Fitnah kubro” yaitu pertengkaran kaum musli-min antara Sayidina Ali Kw. dan Muawiyah Ra., di mana untuk memperkuat kedudukannya, masing-masing golongan sama-sama membuat hadits-hadits palsu sehingga jumlah hadits tentang isro’ mi’roj itu menjadi berlipat ganda.
Hadits tentang Isro’ Mi’roj
"...dari Anas bin Malik (dari Malik bin Sha'-sha'ah) bahwa Rosulullah Saw bersabda, "Aku telah didatangi Buroq. Yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. Ia merendahkan tubuhnya sehingga perut buroq tersebut mencapai ujungnya." Dia bersabda lagi: "Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis." Dia bersabda lagi: "Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para nabi. Sejurus kemudian aku masuk ke dalam masjid dan mendirikan sholat sebanyak 2 rokaat. Setelah selesai aku terus keluar, tiba-tiba aku didatangi oleh Jibril dengan membawa semangkuk arak dan se-mangkuk susu, dan aku pun memilih susu. Lalu Jibril berkata, 'Kamu telah memilih fitroh'. Lalu Jibril mem-bawaku naik ke langit .dst. ... di ke-7 langit itu Nabi Muhammad Saw bertemu dengan Nabi-nabi yaitu Nabi Adam As. di langit pertama, Nabi Isa bin Maryam As. di langit ke-2, Nabi Yusuf As.di langit ke-3, Nabi Idris As. di langit ke-4, Nabi Harun As. di langit ke-5, Nabi Musa As. di langit ke-6, Nabi Ibrahim As. di langit ke-7, dia sedang menyandar di Baitul Makmur. Keluasannya setiap hari bisa mema-sukkan 70.000 malaikat. Setelah keluar, mereka tidak kembali lagi kepadanya (Baitul Makmur). Kemudian aku dibawa ke Sidratul Muntaha. Daun-daunnya besar seperti telinga gajah dan ternyata buahnya sebesar tempayan." Dia bersabda: "Ketika dia menaikinya dengan perintah Alloh, maka Sidratul Muntaha berubah Tidak seorang pun dari makhluk Alloh yang mampu menggambarkan keindahannya. Lalu Alloh memberikan wahyu kepadanya dengan mewajibkan sholat 50 waktu sehari semalam   Lalu aku turun dan bertemu Nabi Musa As, dia bertanya, 'Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu kepada umatmu? ' Aku menjawab: "Sholat 50 waktu 'Nabi Musa berkata, 'Kembalilah kepada Tuhanmu, minta-lah keringanan karena umatmu tidak akan mampu melaksanakannya. Aku pernah mencoba Bani Isroil dan menguji mereka'. Dia bersabda: "Aku kembali kepada Tuhan seraya berkata, 'Wahai Tuhanku, berilah keringanan kepada umatku'. Lalu Allah Swt. mengurangkan 5 waktu sholat dari dia'. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa dan berkata, 'Alloh telah mengurangkan 5 waktu sholat dariku'. Nabi Musa berkata, 'Umatmu tidak akan mampu melaksana-kannya. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi'. Dia bersabda: "Aku masih saja bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa, sehingga Allah berfirman: 'Wahai Muhammad! Sesungguhnya aku fardukan 5 waktu sehari sema-lam. Setiap sholat fardu dilipatgandakan dengan 10 x lipat. Maka itulah 50 sholat fardu. Begitu juga ba-rangsiapa yang berniat, untuk melakukan kebaikan tetapi tidak melakukannya, niscaya akan dicatat baginya satu kebaikan. Jika dia melaksanakannya, maka dicatat 10 kebaikan baginya. Sebaliknya barangsiapa yang berniat ingin melakukan kejahatan, tetapi tidak melakukannya, niscaya tidak dicatat baginya sesuatu pun. Lalu jika dia mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan baginya". Shohih Muslim, Kitab Iman, Bab Isro' Rosulullah ke langit, hadits no. 234.
Komentar penulis
1. Penulis setuju dengan pendapat Abu Najdi Haraki bahwa hadits ini dibuat sewaktu terjadi “Fitnah Kubro” (perang antara Sayidina Ali Kw. melawan Muawiyan Ra.) mengatas namakan Anas bin Malik Ra. Padahal Anas bin Malik Ra. waktu itu belum ada di Mekah. Beliau baru bertemu dengan Nabi Muhammad Saw. di Madinah sewaktu berumur 10 tahun lalu menjadi pembantu Nabi Saw. Pada versi lain Anas bin Malik ra. menerima berita ini dari Malik bin Sha’sha’ah. Apakah Malik bin Sha’-sha’ah termasuk dalam 40 orang muslimin di Mekah sewaktu terjadinya Isro’ Mi’roj ? Tidak jelas.
2. Nabi Muhammad Saw. bertemu dengan 7 Nabi di ke-7 langit.
Arwah para nabi itu tidak mungkin berada di langit, karena semua arwah setelah wafat oleh Alloh Swt. ditempatkan di alam Qubur / Barzakh / dinding yang membatasi Alam Dunia dan Akhirot. Ulama menyebutnya dalam genggaman Alloh Swt, atas dasar Surah Azzumar ayat 42 menunggu datangnya Hari Berbangkit (Qs. Al-Kahfi [18] : 47)
“Allah mematikan anfusu (orang-orang) ketika matinya dan (memegang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia tahanlah yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang berfikir”. (Qs. Az-Zumar [39] : 42).
3. Dimanakah letak langit itu ?
Langit adalah segala sesuatu yang berada di atas bumi, contohnya adalah mega dan awan yang menurunkan air hujan.
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya. (QS. Al-Hijr [15]:22)
System langit yang kita kenal di antaranya adalah
(1) System langit di atas permukaan bumi. Trofosfer, stratosfer, mesosfer, termosfer dan eksosfer.
(2) System langit bumi dan satelit bulan.
(3) System langit tatasurya.
(4) System langit galaksi Bimasakti.
(5).System langit kelompok galaksi (cluster)
(6) System langit alam semesta.
4. Dalam hadits itu dikatakan bahwa Nabi Musa As. pernah diperintahkan Alloh Swt untuk melaksanakan sholat 50 waktu.

 Tom McElwain
 









Pada buku Bacalah Bibel, Penerbit Citra, Jakarta, 2006, karangan Thomas McElwain seorang pendeta Amerika, disebutkan bahwa Tata-cara ibadah secara Islam itu juga dilakukan oleh para Nabi dan pengikut-pengikutnya di dalam Bibel yaitu Perjanjian Lama dan Baru

 
 Gambar sholat dalam Kitab Kuno Yahudi
Pada waktu damai Bani Isroil melakukan sholat 7 waktu sebagai berikut :
(1), Solat Sa'at al-Awwal = Solat Subuh
(5). Solat Sa'at al-Ghurub = Solat Maghrib
(6). Solat al-Naum = Solat Isya'
(7). Solat as-Satar = Solat al-Lail
Pada waktu Bani Isroil ditawan di Babilonia sholat Bani Isroil ini hanya dilakukan 3 x sehari yaitu pada malam hari (Ma'ariv), di pagi hari (Shacharit), dan pada sore hari (Minchah). Mereka tidak pernah solat 50 waktu seperti yang diberitakan dalam hadits tadi. Sholat Bani Isroil itu menghadap ke Baitul Maqdis yang didirikan oleh Nabi Sulaiman As. Di dalam masjid itu disimpan kotak tempat bayi Musa hanyut di Sungai Nil dan Lempeng batu berisi 10 perintah Tuhan.
5. Kewajiban sholat telah dilakukan Nabi Saw dan kaum muslimin sebelum peristiwa Isro Mi’roj.
Muhammad Husain Haekal dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, edisi besar, Penerbit Litera antar Nusa, 1998, hal. 87–88 menyatakan bahwa jauh sebelum terjadinya Isra’ dan Mi’roj, Nabi Muhammad dipercaya telah melakukan Sholat berjemaah dengan Khodijjah sebagaimana yang pernah dilihat dan ditanyakan oleh Ali bin Abu Tholib yang kala itu masih remaja.
Pada hadits di bawah ini (di luar Isro Mi’roj) malaikat Jibril As telah menuntun Nabi Muhammad Saw melaksanakan sholat 5 waktu:
 Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi saw didata-ngi oleh Jibril as, lalu Jibril mengatakan kepadanya, “Berdirilah, lalu sholatlah”, Kemudian Nabi sholat zhuhur ketika matahari sudah tergelincir. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu ‘ashor, lalu ia berkata , “Berdirilah, lalu sholatlah” kemudian Nabi sholat ashor ketika bayangan sesuatu menjadi sama. Ke-mudian Jibril mendatanginya di waktu maghrib, lalu ia berkata , “Berdirilah, lalu sholatlah” kemudian Nabi sholat maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu ‘isya’, lalu ia berkata , “Berdirilah, lalu sholatlah” kemudian Nabi sholat ‘isya’ ketika cahaya merah telah lenyap. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu fajar, lalu ia berkata , “Ber-dirilah, lalu sholatlah”, kemudian Nabi sholat shubuh ketika fajar menyingsing, atau ia berkata ketika fajar memancar. Kemudian esok harinya Jibril mendatangi (Nabi) kembali pada waktu zhuhur, lalu ia berkata  “Berdirilah, lalu sholatlah”, kemudian Nabi sholat zhuhur ketika bayangan segala sesuatu menjadi sama. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu ashor, lalu ia berkata , “Berdirilah, lalu sholatlah” kemudian Nabi sholat ashor ketika bayangan segala sesuatu menjadi dua kali. Kemudian Jibril mendata-nginya di waktu maghrib, dalam waktu yang sama dengan yang pertama, tidak bergeser daripadanya. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu ‘isya’, ketika pertengahan malam telah lewat, atau ia berkata: sepertiga malam telah lewat, lalu Nabi sholat ‘isya’. Kemudian Jibril mendatangi kepadanya di waktu sudah terang benderang, lalu ia berkata , “Berdirilah, lalu sholatlah”, kemudian Nabi sholat shubuh. Kemu-dian Jibril berkata: Apa-apa yang di antara kedua waktu ini, itulah waktu sholat.” (HR. Ahmad dan Al-Nasa’i. Dan Al-Tirmidzi meriwayatkan seperti itu. Al-Bukhori berkata: Hadits ini adalah hadits yang paling shoh dalam menerangkan waktu-waktu sholat) Dikutip dari Nailul Author jilid 1 halaman 685.

 
Masjidil Aqsho /  Baitul Maqdis
Pada mulanya Nabi Muhammad Saw dan kaum muslimin sholat menghadap ke Baitul Maqdis seperti Bani Isroil. Pada waktu sholat dzuhur di Masjid qiblat-ain turun perintah sholat menghadap ke Ka’bah. Sehingga Nabi Saw dan kaum muslimin sholat 2 rokaat menghadap ke Baitul Maqdis di utara, beralih menghadap ke Ka’bah di selatan.

6. Maka, tujuan Isro Mi’roj bukanlah untuk memerintahkan sholat. Melainkan seperti yang tertulis di dalam Al Qur-an QS Al-Isro’[17] :1-4 dan QS An-Najm [53]: 17
Salah satu dari enam rukun iman yang harus kita percayai adalah Iman akan adanya hari akhirot. Di dalam Al Qur-an sangat banyak diberitakan tentang peristiwa di akhirot yang akan terjadi setelah hari Kiamat di masa depan.
Sebagai seorang Nabi yang menerima wahyu Al Qur-an Nabi Muhammad Saw. harus bisa menerang-kan segala kejadian di akhirot itu. Untuk itu beliau harus pernah melihatnya dengan mata beliau sendiri, mendengar suaranya, mencium baunya dan meraba dengan tangannya.
Agar bisa mengalaminya maka Alloh Swt. memba-wa beliau pergi ke akhirot yang ada di masa depan dalam bentuk Isro’ Mi'roj. Mula-mula beliau menjalani Isro’ atau perjalanan malam dari Masjidil Harom di Mekah ke Masjidil Aqsho di Palestina.
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Harom ke Al Masjidil Aqsho yang telah Kami berkahi sekelilingnya  agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isro [17] :1).
Dari situ kemudian Nabi Muhammad Saw. menjalani miroj ke Sidrotil Muntaha, dimana beliau bisa melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya. 
 Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Mun-taha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal (Jannatul Ma’wa). (QS. An Najm [53] : 13-15)
Ke Jannatul Ma’wa itulah Alloh Swt. membawa Nabi Muhammad pergi di waktu mi’roj. Jannatul Ma’wa adalah bagian dari akhirot yang letaknya ada di masa depan.
Untuk bisa memahami bagaimana Nabi Muhammad Saw. pergi ke akhirot yang ada di masa depan ini kita harus mempelajari teori Stephen Hawking yang menggunakan Fisika Kuantum yang sedikit rumit.
Mengenal teori Stephen Hawking

 
 










Menurut Stephen Hawking ada 2 macam waktu yaitu waktu nyata (waktu manusia) dan waktu maya (waktu Alloh Swt.)
Waktu nyata hanya berjalan maju dengan laju tetap menuju nanti, besok pagi, lusa, seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi dst. Tidak bisa mundur ke waktu tadi, kemarin dst.
Waktu maya (waktu Alloh Swt) berlaku seperti terowongan waktu dimana bila dengan kekuasaan Alloh Swt. kita bisa masuk ke dalamnya, kita bisa pergi ke masa lalu melihat penciptaan alam semesta atau ke masa depan melihat hari kiamat dan hari akhirot,.
Seluk Beluk Sidrotul Muntaha

Sidr berarti pohon bidara, pohon yang tumbuh di Asia, Afrika dan Australia. Dipakai sebagai sumber makanan, obat-obatan dan bahan bangunan.
Termasuk pohon yang sangat berguna, tetapi bukan merupakan pohon yang istimewa.
Fungsi pohon bidara ini di Sidrotil Muntaha adalah sebagai batas terjauh perjalanan di langit dan bumi dalam waktu nyata, yang dapat ditempuh oleh makhluk Alloh Swt. yaitu manusia, jin dan malaikat termasuk Malaikat Jibril.
Di seberang pohon pembatas ini terdapat Jannatul Ma’wa (sorga) yang letaknya ada di masa depan.
Maka Sidrotul Muntaha selain sebagai batas jarak atau ruang terjauh, juga merupakan batas antara waktu nyata dan waktu maya. Merupakan pintu masuk ke terowongan waktu yang berada di waktu maya menuju ke masa depan.
Melalui jalan inilah Nabi Muhammad Saw. sewaktu mi’roj diperjalankan Alloh Swt. ke masa depan, yaitu hari kiamat, hari kebangkitan dan pengadilan di padang Mahsyar, mizan, pergi ke neraka dan shiroth, kemudian pergi ke surga.
Dengan perjalanan itu Nabi Muhammad Saw. adalah satu-satunya manusia di muka bumi (kecuali Nabi Adam dan Siti Hawa), yang pernah pergi ke akhirot dengan jasad dan ruh beliau. Sehingga beliau bisa menerangkannya kepada kita dalam hadith-hadith beliau.
Waktu yang digunakan oleh Nabi Muhammad Saw. untuk pergi ke akhirot tidak terbatasi oleh waktu mi’roj yang hanya semalam, tetapi bisa ber-hari-hari, karena waktu di akhirot tidak diikat oleh waktu di dunia.
Kemudian Nabi Muhammad kembali melalui jalan yang sama ke Sidrotil Muntaha, kembali masuk ke waktu nyata pada waktu yang sama dengan waktu berangkatnya, selanjutnya pulang kembali ke Mekah.
Kesimpulan
Abu Najdi Haraki dalam buku “Misteri Isra’ Mi’raj” tahun 2007, menilai hadits-hadits tentang isro’ mi’roj kurang bisa dipercaya karena banyak hadits palsu.
Dalam Hadits tentang Isro Mi’roj, Anas bin Malik Ra. tidak mungkin meriwayatkannya karena beliau tidak berada di Mekah sewaktu peristiwa itu terjadi.
Menurut M.Husain Haekal dalam buku Sejarah Hidup Muhammad tahun 1998, sholat lima waktu telah diperintahkan Alloh Swt. kepada Nabi Muham-mad Saw. melalui malaikat Jibril As. jauh sebelum peristiwa Isro’Mi’roj.
Tujuan Alloh Swt. memperjalankan Nabi Muham-mad Saw. pada Isro’ mi’roj di dalam QS Al-Isro’[17]: 1-4 dan QS An-Najm [53]: 17 adalah memperlihatkan kemuliaan Masjidil Aqsho / Baitul Maqdis yang didirikan oleh Nabi Sulaiman As. sebagai qiblat para Nabi beserta umatnya, serta memperlihatkan kebesaran ayat-ayatnya yaitu Jannatul Ma’wa dan alam akhirot yang ada di masa depan.
Penulis berusaha menjelaskan peristiwa kepergian Nabi Muhammad Saw. ke masa depan melalui Sidrotil Muntaha itu dengan mengutip Teori Stephen Hawking bersama Fisika Kuantumnya yang agak rumit..

Jember 2 Desember 2015
Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilpun (0331) 481127
Jember 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar