Minggu, 06 November 2016

Hadis Isrok Mikroj Sanadnya sohih Matannya tidak sohih





Hadis-hadis Isro’ Mi’roj
SANADNYA SOHIH
TETAPI MATANNYA
TIDAK SOHIH
(Sanad  =  Periwayat Hadis
Matan  =  Isi Hadis)

Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi

Pendahuluan
Di dunia Islam, Hadis-hadis tentang riwayat Isro’ dan Mi’roj sangat terkenal. Para ulama umumnya menafsirkan Hadis-hadis itu akan pentingnya sholat wajib 5 waktu, sehingga Alloh Swt. perlu memanggil langsung Nabi Muhammad Saw. ke langit untuk menerima perintah pelaksanaannya. Sedang ibadah lainnya cukup melalui wahyu Al Qur-an yang diturunkan melalui malaikat Jibril As.
Untuk memudahkan diskusi, kutipan Hadis-hadis tentang riwayat Isro’ dan Mi’roj penulis tempatkan pada bagian lampiran di akhir makalah.
Termasuk Hadis-hadis sohih
Hadis-hadis tentang Isro’ dan Mi’roj ada di dalam Kitab-kitab Riwayat Hadis yang ditulis oleh Imam Bukhori dan Muslim serta Imam-imam Hadis lainnya. Termasuk Hadis-hadis sohih. Hadis-hadis sohih yang diriwayatkan oleh ke-2 Imam Hadis ini bernilai hukum tertinggi ke-2 setelah Al Qur-an. Sangat terpercaya, sehingga umat Islam tidak berani mengritik Hadis-hadis tentang Isro’ mi’roj itu.
Fungsi Hadis dalam hukum Islam
Fungsi hadis sebagai sumber hukum Islam ada 3 :
1. Sebagai penguat bagi dalil yang sudah tertera dalam Al Qur-an (muakkadah),
2. Sebagai penafsir bagi ayat-ayat Al Qur-an (mubayyinah).
3. Mendatangkan hukum-hukum yang tidak tercantum dalam Al Qur-an.
Definisi Hadis Sohih
Ibnu As-Sholah mendefinisikan Hadis Sohih sebagai Hadis Musnad (tersambung sampai ke Nabi Muhamad Saw.) yang bersambung sanadnya dengan perowi yang adil (jujur) dan dhabit (kuat hafalannya), (yang diterima) dari perowi lain yang adil dan dhabith hingga ke akhir sanad, serta tidak syadz (bertentangan dengan perowi lain) dan tidak ber’illat (cacat).
--------------------------------------------------------------------------------------------
Nyata disini bahwa kesohihan hadis terutama ditekankan pada segi sanad (periwayat) nya (bukan pada matan / isinya).
---------------------------------------------------------------------------------------------
Kesohihan Hadis dari segi matan (isi) nya.
Menurut sebagian ahli hadis, kriteria kesohihan matan hadits sehingga dapat dinyatakan maqbul (diterima) apabila memenuhi unsur-unsur sbb. :
1. Tidak bertentangan dengan akal sehat.
2. Tidak bertentangan dengan hukum Al Qur-an yang telah muhkam (ketentuan hukum yang telah tetap).
3. Tidak bertentangan dengan hadits mutawatir.
4. Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama masa lalu (Ulama Salaf)
5. Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti.
6. Tidak bertentangan dengan hadits ahad yang kualitas kesohihannya lebih kuat.
Pendapat ulama bila terjadi perbedaan antara Al-Hadis dan Al Qur-an
Imam Syafii (pendiri madzhab Syafii) mengatakan  : Al-Hadits berangkat dari dhonni / duga-duga atau kontroversi, sedangkan  Al Qur-an berangkat dari qoth’i (mutlak kebenarannya). Suatu hadis yang sanadnya sohih, tetapi matannya bertentangan dengan Al Qur-an, tidak ada jalan lain kecuali mempertahankan wahyu yang diterima secara meyakinkan (Al Qur-an) dan mengabaikan yang tidak meyakinkan (hadis). 
     Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Al-Sunnah Al-Nabawiyyah Baina Ahl Al-Fiqh wa Ahl Al-Hadits, menyatakan bahwa "Para imam fiqih menetapkan hukum-hukum dengan ijtihad yang luas berdasarkan Al Qur-an terlebih dahulu. Apabila mereka menemukan riwayat (hadits) yang sejalan dengan Al Qur-an, mereka menerimanya, tetapi kalau tidak sejalan, mereka menolaknya karena Al Qur-an lebih utama untuk diikuti."
Adapun alasannya adalah
Al Qur-an sudah ditulis menjadi mushaf tunggal pada zaman Kholifah Abu Bakar Ra. satu tahun setelah Nabi Muhamad Saw. wafat (tahun 632 M.).  Dikutip dari tulisan-tulisan dan hafalan para sohabat. Kemudian Kholifah Utsman bin Affan Ra. pada tahun 647 M. memerintahkan Zaid bin Tsabit Ra. dan tiga sohabat yang lain menyalin mushaf pertama tadi menjadi beberapa mushaf dan mengirimkannya ke berbagai propinsi di wilayah kekuasaan Islam (Kufah, Basra, Madinah, Mekah, Mesir, Suriah, Bahrain, Yaman dan Al-Jazirah)
Sedangkan Al-Hadis baru dikumpulkan dan ditulis dua abad (empat generasi) setelah Nabi Muhammad Saw. wafat oleh para Imam Hadis yaitu (i) Imam Al-Bukhori (814-876 M.), (ii) Al-Muslim (824-881 M.), (iii) An-Nasa'i (835-923 M.), (iv) Abu Daud (820-895 M.), (v) At-Turmudzi (829-899 M.) dan (vi) Ibnu Majah (829-893 M.) melalui penyaringan hadis.
Penyaringan Hadis
Hadis-hadis itu disaring dari ratusan ribu hadis yang dihafalkan oleh para perowinya (periwayat hadis).
Contohnya Imam Bukhori bersama gurunya Syekh Ishaq, menghimpun Hadis-hadis sohih dalam satu kitab, dari satu juta hadis yang diriwayatkan oleh 80.000 perowi lalu disaring menjadi 7275 hadis.
Imam Muslim dalam Kitab Sohih Muslim, dari sekitar 300.000 hadis beliau saring menjadi 4.000 Hadis sohih selama 15 tahun.
Penyaringan itu terutama dilakukan terhadap periwayatnya (sanad Hadis), sedikit dari isi Hadis (matan Hadis).
Demikian banyaknya hadis-hadis yang disaring sehingga ada kemungkinan lolosnya hadis yang isi (matan)nya tidak sohih.
Kritik terhadap matan (isi) Hadis riwayat Isro’ dan Mi’roj
Akhir-akhir ini ada beberapa sarjana yang mengritisi Hadis-hadis riwayat Isro’ dan Mi’roj. Penulis tidak menemukan kritik terhadap Sanad (periwayat) Hadis, semua kritik ditujukan kepada matan (isi) Hadis-hadis itu.
Hadis riwayat Isro’ dan Mi’roj, ditulis pada abad ke-9 (12 abad yang lalu). Selama itu telah berkembang ilmu-ilmu yang waktu itu belum ada atau keadaannya sederhana.
Di antaranya adalah Ilmu sejarah, ilmu astronomi (perbintangan), ilmu fisika modern, ilmu Tafsir Al Qur-an, ilmu perbandingan agama dll..
Beberapa hal yang dikritik
1. Para Imam Hadis tidak mengetahui sejarah Masjidil Aqso
Masjidil Aqso terletak di kota Yerusalem Timur
atau dikenal dengan nama wilayah Al-Harom Asy-Syarif bagi umat Islam atau Har Ha-Bayit (Bukit Bait Allah atau Temple Mount / Kuil Bukit) bagi umat Yahudi dan Nasrani.

    Banyak orang (termasuk para Imam Hadis yang hidup pada abad ke-9 M.) yang mengira, masjid inilah yang dikunjungi oleh Nabi Muhammad Saw. di waktu beliau Isro’ pada tahun 620 M. 
     Padahal masjid ini baru dibangun oleh Kholifah Umar bin Khottob Ra. pada tahun 637 M. (5 tahun setelah Nabi wafat) di lokasi kiblat Masjidil Aqso sebelumnya, yang telah dihancurkan oleh Romawi pada tahun 70 M.

Masjid Al-Aqso pada awalnya adalah masjid kecil yang didirikan oleh Kholifah Umar bin Khottob Ra. pada tahun 637 M., direnovasi oleh kholifah Umayyah Abdul Malik dan diselesaikan oleh putranya Al-Walid pada tahun 705 M. 
     Setelah gempa bumi tahun 746 M., masjid ini hancur seluruhnya dan dibangun kembali oleh kholifah Abbasiyah Al-Mansur pada tahun 754 M., dan dikembangkan lagi oleh penggantinya Al-Mahdi pada tahun 780 M.
     Gempa berikutnya menghancurkan sebahagian besar Masjid Al-Aqso pada tahun 1033 M., namun dua tahun kemudian kholifah Fatimiyyah Ali Azh-Zhahir membangun kembali masjid ini yang masih tetap berdiri hingga kini.
Pada zaman Imam Hadis Bukhori dan Imam Muslim pada abad ke-9 M. Masjidil Aqso telah berdiri dan direnovasi oleh Bani Abbasiyah pada abad ke-8 M..
Panjang bangunannya sekarang sekitar 83 meter. Lebar 56 meter. Sekitar 5.000 orang mampu ditampung masjid ini. Jika ditambah dengan daerah sekelilingnya, luasnya sekitar 144.000 meter persegi. Muat untuk 400.000 jamaah.
Di sebelah utara masjid ini terdapat Masjid As-Sakhro / The Dome of the Rock yang bukan sebuah masjid. Melainkan sebuah bangunan peringatan untuk tapak lokasi peristiwa malam Isro’ Mi’roj. The Dome of the Rock dibangun antara tahun 687 M. hingga tahun 691M. oleh Kholifah Abdul Malik bin Marwan, kholifah Umaiyyah

                                                        Al-Harom Asy-Syarif
1a. Hancurnya Masjidil Aqso / Temple of Solomon sebelumnya.
Hancurnya Masjid ini tertulis di dalam Al Qur-an sbb.
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqso II pada tahun 70 M.) sebagaimana mereka memasukinya pertama kali (tahun 586 SM.) dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-isro’ [17] : 7) 
66 M. pemberontakan ke-1 Yahudi vs Romawi (zaman Kaisar Nero yang mengirim Jendral Vespasianus) 
69 M. Kaisar Nero diganti Kaisar Vespasianus yang mengirim puteranya Jendral Titus untuk menumpas pemberontakan Yahudi 
70 M. Jendral Titus menghancurkan Masjidil Aqsho II  / Bait Sulaiman di Yerusalem.
Kutipan dari Kitab Tafsir Al Qur-an Depag RI.
     Di dalam Kitab Tafsir Al Qur-an yang diterbitkan oleh Departemen Agama RI tahun 2009 disebutkan bahwa Tentara Romawi memasuki Masjidil Aqso II (Haikal Sulaiman) secara paksa dan sewenang-wenang, merampas kekayaan di dalamnya dan menghancurkan bangunannya, hanya tembok barat (tembok ratapan) yang masih ada. 
     2. Tujuan Nabi Isro’ ke Masjidil Aqso
Tujuan Nabi Isro’ sudah tertulis pada QS.Al-isro’ : 1
Maha Suci (Alloh) yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari, dari Masjidil Harom (di Mekah) ke Masjidil Aqso (di Yerusalem) yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Alloh) Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-isro’ [17] : 1)
Perjalanan Nabi Saw. ber-Isro’ adalah hal yang luar biasa sehingga ayat itu didahului oleh kata Maha Suci Alloh (sub-hana). Sehingga tujuannya juga luar biasa yaitu diperlihatkan bukti kebesaran (ayat-ayat) Alloh
     Bukan sekedar mampir ke masjid lalu sholat 2 rokaat .
.
 Masjidil Aqsho sewaktu Nabi Saw. Isro’  
             Setelah Masjidil Aqso II / Bait Sulaiman hancur, yang dimaksud dengan Masjidil Aqsho adalah seluruh komplex Al-Harom Asy-Syarif. 
     Sewaktu Isro’, Nabi Muhammad Saw. turun di lokasi Masjid As-Sakhro / The Dome of the Rock.
     Setelah Masjidil Aqso dibangun oleh Kholifah Umar bin Khottob Ra. dan para Raja Islam, lalu pada zaman Kholifah Turki Usmaniyah nama Masjidil Aqsho diberikan kepada Baitul Maqdis sampai sekarang.
2a. Masjidil-Aqso adalah lokasi Padang Mahsyar pada hari kiamat. Semua orang akan diisro’kan ke sana.
Masjidil-Aqso merupakan tempat dikumpulkannya manusia dan jin pada hari kiamat nanti, seperti diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya bahwa Maimunah, saudara perempuan Sa’ad dan pembantu Rosulullah Saw, berkata : Wahai Nabi, berikanlah kami sebuah pernyataan tentang Baitul Maqdis.’ Nabi menjawab, ‘Dia adalah tanah tempat manusia dibangkitkan dan dikumpulkan.” (HR. Ahmad)
Dan ditiuplah sangkakala (kedua), maka tiba-tiba mereka keluar dari kuburnya (menuju) ke Robb mereka. (QS. Yaa-siin [36] : 51).
Semua manusia dibangkitkan di tempat mereka dikubur di seluruh dunia. Lalu masing-masing dibawa terbang (isro) oleh seorang malaikat ke padang mahsyar yang lokasinya di Masjidil-Aqso untuk diadili oleh Alloh Swt.
Pada mulanya padang mahsyar itu gelap gulita karena matahari telah padam. Kemudian Alloh Swt. menampakkan diriNya sehingga menjadi terang benderang.
Isro’ adalah rekonstruksi kebangkitan di hari kiamat.
3. Penggambaran langit dalam hadis ini tidak sesuai dengan ilmu astronomi
Dalam Hadis ini langit digambarkan dengan sangat sederhana, seperti gedung 7 tingkat, dimana tiap tingkatnya dihuni oleh seorang Nabi (yang sudah wafat, lalu dihidupkan lagi) untuk menyambut Nabi Muhammad Saw. yang bermi’roj.

Gambaran Ilmu Bumi dan Astronomi
     Panas matahari dan angin membentuk siklus hidrologi, awan dan hujan.
Bumi yang bulat berputar pada porosnya dengan disinari matahari dalam 24 jam membuat siang dan malam. Adanya bulan membentuk pasang surut air laut.
     Bulan mengitari bumi dalam 30 hari membuat hitungan bulan.
     Bumi dalam posisi miring 23,44o mengelilingi matahari dalam 365 hari membentuk hitungan tahun dan 4 musim untuk daerah subtropis atau 2 musim untuk daerah katulistiwa (hujan dan kemarau). 
     Matahari bersama 9 planetnya berputar mengelilingi Bimasakti.
Di alam semesta sangat banyak gugus bintang / galaksi mirip Bimasakti. Galaksi-galaksi itu membentuk Cluster.
     Dalam ilmu astronomi besarnya langiit sangat luar biasa. Penampangnya adalah 14 milyard tahun cahaya. Jarak ini mustahil ditempuh hanya dalam semalam. Dengan piring terbang Alien saja yang kecepatannya 6 x cahaya ditempuh bermilyard-milyard tahun (mustahil).
Sangat berbeda dengan jarak Masjidil Harom ke Masjidil Aqso yang sekarang dapat ditempuh dengan  pesawat jet dalam waktu 1 jam.
Maka perjalanan ke langit itu  mustahil / irrasional.
4. Ruh para Nabi sekarang ada di alam kubur. Tidak mungkin berada di langit.
Dalam hadits ini digambarkan bahwa Para Nabi yang sudah wafat itu berada di langit dengan jasadnya. Sedangkan di dalam Al Qur-an disebutkan bahwa seluruh manusia, termasuk para Nabi yang sudah wafat berada di alam Qubur / Barzakh / dinding yang membatasi Alam Dunia dan Akhirot. Ulama menyebutnya dalam genggaman Alloh Swt. atas dasar QS.[39] : 42 menunggu datangnya Hari Berbangkit
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang berfikir”.(QS. Az-Zumar [39]:42)
5. Salah memahami kalimat “Bila Alloh menghendaki”
Umumnya fihak yang setuju dengan hadis ini berhujjah: Bila Alloh Swt. menghendaki bisa saja menhghidupkan kembali para Nabi itu lalu menempatkan mereka di langit untuk menyambut kedatangan Nabi Muhamad Saw. sewaktu mikroj.
 Bila demikian halnya, boleh kita sanggah pula: “Itu kalau Allah Swt mau, kalau tidak mau kan tidak mungkin terjadi”. Nah itu debat kusir atau pokrol bambu yang tidak punya dasar hukum.
Al Qur-an menggunakan kata “Kalau Allah Menghendaki” (Wa lau Syaa-a, walau Syi-naa dan walau Yasyaa)  dalam 23 ayat,
Pada ayat-ayat tersebut ternyata Allah TIDAK menghendaki.
Kita lihat salah satu contoh ayat di bawah ini:
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?”  (QS Yunus [10]:99)
Lalu apa kenyataannya? Berimankah kepada Alloh semua orang di muka bumi ini ?
Ternyata, sebagian besar ummat manusia di bumi ini tidak mengimaniNya. Dengan pernyataan satu ayat ini saja, sebaiknya janganlah mengeluarkan argumentasi: “Kalau Allah Swt. Menghendaki…….”, karena Alloh Swt. memiliki aturan / takdir (sunnatulloh) yang tidak pernah berubah.
6. Alloh Swt. tidak berada di langit
Dikatakan bahwa sewaktu Mi’roj, Nabi Muhammad Saw. menjemput atau menerima perintah Sholat dari Alloh Swt., kemudian sesudah berjumpa dengan Nabi Musa As., beliau naik kembali berulang-kali menemui Alloh Swt. untuk memohon keringanan. Hal ini menyimpulkan bahwa Alloh Swt. tidak berada di bumi atau di langit tempat Nabi Musa As. itu berada.
Sungguh keadaan demikian sangat bertentangan dengan Firman Alloh Swt. yang tidak hanya berada di langit,
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, . (QS. Qoof [50]:16)
”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap maka disitulah wajah Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha luas (rohmatNya) lagi Maha mengetahui”. (QS.Al-Baqoroh [2]: 115) 
7. Sebelum Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad Saw. telah sholat bersama Khodijah dan Ali
Riwayat Hadis : Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Ibnu Ishaq telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abu Asy’ats dari Isma’il bin Iyas bin ‘Afif Al Kindi dari bapaknya dari kakeknya yang berkata;
Saya adalah seorang pedagang. Saya datang untuk menjalankan ibadah haji, lalu saya mendatangi Al Abbas bin Abdul Muththolib untuk membeli dagangan darinya, yang dia juga seorang pedagang. Demi Alloh, pada saat saya di Mina, ada seorang laki-laki yang keluar dari dalam tenda yang tidak jauh darinya, dia melihat ke arah matahari, ketika matahari telah condong, orang itu berdiri dan sholat. Kemudian keluarlah seorang wanita dari tenda itu juga dan berdiri di belakang orang tadi dan ikut sholat. Lalu seorang anak kecil yang menginjak usia baligh keluar dari tenda tersebut dan ikut sholat bersama kedua orang tadi. Maka saya pun bertanya kepada Al Abbas; “Siapa orang itu Wahai Abbas?” dia menjawab; “Itu adalah Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Muththolib anak saudaraku.” Saya bertanya lagi; “Siapakah wanita itu?” dia menjawab; “Itu adalah istrinya Khodijah binti Khuwailid.” Saya bertanya lagi; “Siapa pemuda itu?” dia menjawab; “Itu adalah Ali bin Abu Tholib anak pamannya.” Saya bertanya lagi; “Apa yang mereka lakukan?” dia menjawab; “Dia sedang sholat, dia mengaku bahwa dia adalah seorang Nabi, dan tidak ada yang mengikuti perintahnya kecuali istrinya dan anak pamannya, pemuda tersebut. Dia juga mengaku bahwasanya akan ditaklukkan untuknya perbendaraan-perbendaraan Raja Kisro dan Kaisar.” Kemudian ‘Affif, yaitu anak paman Al Ays’Ats bin Qais berkata; -dan dia masuk Islam setelah itu serta keIslamannya baik- “Seandainya Alloh memberiku rizki Islam pada hari itu, maka aku adalah orang yang ketiga bersama Ali bin Abu Tholib Rodhi Allohu ‘anhu.” (Musnad Ahmad 1691)
7a. Penegasan waktu sholat di dalam Al Qur-an
Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir (zhuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya') dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra’ [17]: 78-79).
7b. Jibril mengajari Nabi sholat 5 waktu (di luar Isro’ dan mi’roj
“Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi saw didatangi oleh Jibril as, lalu Jibril mengatakan kepadanya, “Berdirilah, lalu bersembahyanglah”, Kemudian Nabi sembahyang zhuhur ketika matahari sudah tergelincir. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu ‘ashar, lalu ia berkata, “Berdirilah, lalu bersembahyanglah” kemudian Nabi sembahyang ashar ketika bayangan sesuatu menjadi sama. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu maghrib, lalu ia berkata, “Berdirilah, lalu bersembahyanglah” kemudian Nabi sembahyang maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu ‘isya’, lalu ia berkata, “Berdirilah, lalu bersembahyanglah” kemudian Nabi sembahyang ‘isya’ ketika cahaya merah telah lenyap. Kemudian Jibril mendatanginya di waktu fajar, lalu ia berkata , “Berdirilah, lalu bersembahyanglah”, kemudian Nabi sembahyang shubuh ketika fajar menyingsing, atau ia berkata ketika fajar memancar. Kemudian esok harinya Jibril mendatangi (Nabi) kembali pada waktu zhuhur, lalu ia berkata, “Berdirilah, lalu bersembahyanglah”, kemudian Nabi sembahyang zhuhur ketika bayangan segala sesuatu menjadi sama. Kemudian Jibril mendatangi kepadanya di waktu ashar, lalu ia berkata, “Berdirilah, lalu bersembahyanglah” kemudian Nabi sembahyang ashar ketika bayangan segala sesuatu menjadi dua kali. Kemudian Jibril mendatangi kepadanya di waktu maghrib, dalam waktu yang sama dengan yang pertama, tidak bergeser daripadanya. Kemudian Jibril mendatangi kepadanya di waktu ‘isya’, ketika pertengahan malam telah lewat, atau ia berkata: sepertiga malam telah lewat, lalu Nabi sembahyang ‘isya’. Kemudian Jibril mendatangi kepadanya di waktu sudah terang benderang, lalu ia berkata, “Berdirilah, lalu bersembahyanglah”, kemudian Nabi sembahyang shubuh. Kemudian Jibril berkata: Apa-apa yang di antara kedua waktu ini, itulah waktu sembahyang.” (HR. Ahmad dan Al-Nasa’i. Dan Al-Tirmidzi meriwayatkan seperti itu. Al-Bukhori berkata: Hadits ini adalah hadits yang paling shah dalam menerangkan waktu-waktu sembahyang). Dikutip dari Nailul Authar jilid 1 halaman 685.
8. Para Nabi juga melaksanakan sholat
8a. Ibrohim memohon agar keturunannya tetap mendirikan sholat.
Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat, ya Robb kami, perkenankan do’aku. (QS. Ibrohim [14]:40)
8b. Ismail melaksanakan sholat
Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al Qur-an). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang rosul dan nabi.” “Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) sholat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridoi di sisi Tuhannya  (QS. Maryam [19]: 54-55)
8c. Isa mendirikan sholat
Dan dia menjadikan aku seorang yang berbakti di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) sholat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. (QS. Maryam [19]:31)
9. Bani Isroil solat 7x / hari, bukan 50x
1. Di dalam Kitab Zabur /MAZMUR 119:164 Indonesian - Terjemahan Lama (TL) tertulis sbb. :
Maka tujuh kali dalam sehari memujilah aku akan Dikau, karena sebab segala hukum kebenaranMu itu
2. Buku To Pray As A Jew: A Guide To The Prayer Book And The Synagogue Service karangan Hayim Halevy Donin, seorang rabbi (pendeta) Yahudi Amerika di  Congregation B'nai David, Southfield, Michigan. Dalam buku itu ada gambar tata cara sembahyang kaum Yahudi yang sikap dan gerakannya sangat mirip dengan sholatnya umat Islam  Ritual sholat Yahudi ini dilakukan 3 x sehari yaitu pada malam hari (Ma'ariv), di pagi hari (Shacharit), dan pada sore hari (Minchah)..
http://2.bp.blogspot.com/-On9145zEC5g/T5zcj_lPqdI/AAAAAAAAAMo/7fShvoLV2lI/s1600/jews-1.jpghttps://3.bp.blogspot.com/-UFBETzKupEY/T5zaoc5gd1I/AAAAAAAAAMY/t78ePpE2MmQ/s1600/jews-2.jpg
 
Gambar sembahyang Yahudi
dalam buku Rabbi Hayim Halevy Donin
Pada mulanya sholatnya Yahudi adalah 7 x /hari sebagai berikut. 1 = Solat Subuh, 2 = Solat Dhuha, 3 = Solat Zuhur, 4 = Solat Ashor, 5 = Solat Maghrib, 6 = Solat Isya', 7 = Solat Al-Lail 
Pada tahun 586 SM. Nabukodonosor, raja Babel menduduki Yerusalem dan negara Yuda. Bangsa Yahudi dibawa ke Babil dijadikan budak sehingga mereka tidak leluasa melakukan sholat. Maka sholat mereka dibuat 3 x/hr. sampai kini. (= sholat jamak qosor  zhuhur+asar, maghrub+isyak dan subuh)
10. Tujuan Mi’roj Nabi Muhammad Saw.
Maka tujuan Mi’roj bukanlah menerima perintah sholat 5 waktu karena Nabi Muhammad Saw. telah melaksanakannya bersama Khodijah dan Ali, melainkan seperti yang tertulis pada bagian akhir hadis mi'roj riwayat Bukhori
Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidrotul Muntaha dan Sidrotul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi.'” (HR. Bukhori no. 193, 194)
10a. Hadis ini sesuai dengan ayat Al Qur-an [53]:13-18
Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal (Jannatul Ma’wa). Sidrotulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatan (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhannya yang paling besar (surga). (QS. An Najm [53] : 13-18).

11. Surga bukan berada di langit tetapi ada di masa depan 
     Dalam menguraikan masalah Mi’roj ini penulis menggunakan Fisika Modern yaitu Mekanika Kuantum yang dikembangkan oleh Stephen Hawking Ahli Fisika Inggris. Penggunaan mekanika kuantum pada alam semesta akan menghasilkan alam semesta “tanpa pangkal ujung” karena adanya waktu maya dan ruang kuantum.
     Pada kondisi waktu nyata (waktu manusia) waktu hanya bisa berjalan maju dengan laju tetap, menuju nanti, besok, seminggu, sebulan, setahun lagi dan seterusnya, tidak bisa melompat ke masa lalu atau masa depan.
     Menurut Hawking, pada kondisi waktu maya (waktu Tuhan) melalui terowongan waktu kita bisa pergi ke waktu manapun dalam riwayat bumi, bisa pergi ke masa lalu dan ke masa depan.
     Hal ini bermakna, masa depan dan kiamat (dalam waktu maya) menurut Hawking “telah ada dan sudah selesai” sejak diciptakannya alam semesta. Selain itu melalui terowongan waktu (dengan kekuasaan Allah) kita bisa pergi ke manapun di seluruh alam semesta dengan seketika. 
11 a. Seluk Beluk Sidrotul Muntaha 
     Sidr berarti pohon bidara, pohon yang tumbuh di Asia, Afrika dan Australia. Dipakai sebagai sumber makanan, obat-obatan dan bahan bangunan. Termasuk pohon yang sangat berguna, tetapi bukan merupakan pohon yang istimewa. Fungsi pohon bidara ini di Sidrotil Muntaha adalah sebagai batas terjauh perjalanan di langit dan bumi dalam waktu nyata, yang dapat ditempuh oleh makhluk Alloh Swt. yaitu manusia, jin dan malaikat termasuk Malaikat Jibril.


 
                                                    


                   Pohon Sidr
     Di seberang pohon pembatas ini terdapat Jannatul Ma’wa (sorga) yang letaknya ada di masa depan.  
     Maka Sidrotul Muntaha selain sebagai batas jarak atau ruang terjauh, juga merupakan batas antara waktu nyata dan waktu maya. Merupakan pintu masuk ke terowongan waktu yang berada di waktu maya menuju ke masa depan. Melalui jalan inilah Nabi Muhammad Saw. sewaktu mi’roj diperjalankan Alloh Swt. ke masa depan, yaitu hari kiamat, hari kebangkitan dan pengadilan di padang Mahsyar, mizan, pergi ke neraka dan shiroth, kemudian pergi ke surga.
Dengan perjalanan itu Nabi Muhammad Saw. adalah satu-satunya manusia di muka bumi (kecuali Nabi Adam dan Siti Hawa), yang pernah pergi ke akhirot dengan jasad dan ruh beliau. Sehingga beliau bisa menerangkannya kepada kita dalam hadis-hadis beliau.
Waktu yang digunakan oleh Nabi Muhammad Saw. untuk pergi ke akhirot tidak terbatasi oleh waktu mi’roj yang hanya semalam, tetapi bisa berhari-hari, karena waktu di akhirot tidak diikat oleh waktu di dunia.
Kemudian Nabi Muhammad kembali melalui jalan yang sama ke Sidrotil Muntaha, kembali masuk ke waktu nyata pada waktu yang sama dengan waktu berangkatnya, selanjutnya pulang kembali ke Mekah. 
Kesimpulan pertama 
Ternyata matan (isi) Hadis-hadis riwayat Isro’ dan mi’’roj
Tidak sejalan dengan Al Qur-an pada 
1a (pada QS. Al-Isro ayat 7 disebutkan bahwa Masjidil Aqso yang lama / Temple of Solomon telah dihancurkan oleh Romawi pada tahun 138 M. Sehingga Nabi Muhamad Saw.tidak mungkin sholat di dalamnya) 
2. (Tujuan Isro’ adalah rekonstruksi kejadian di hari kiamat di mana semua manusia dan jin dari seluruh dunia dikumpulkan / diisro’kan di Baitul Maqdis) 
4. (Ruh para Nabi ada di alam kubur, bukan di langit) 
6. (Alloh Swt tidak berada di langit tapi berada di mana-mana) 
7a (sholat 5 waktu ada di dalam Al Qur-an QS. [17]: 78-79) 
 8a, 8b dan 8c (Nabi Ibrohim As., Ismail As., Isa ibnu Maryam As. dll.  melakukan sholat)
Tidak sejalan dengan Hadis lain yang mutawatir 
2a (Baitul Maqdis adalah tempat Padang Mahsyar, bukan tempat sholat). 
7 (Nabi Muhamad Saw. sudah sholat berjamaah dengan Khodijah dan Ali sebelum Isro’ dan mi’’roj) 
7b (Nabi Muhamad Saw. diajari sholat 5 waktu oleh Malaikat Jibril As)
Tidak sejalan dengan ilmu perbandingan agama 
9 (Bani Isroil sholat 7 waktu bukan 50 waktu)
Tidak sejalan dengan ilmu sejarah 
1a (Masjidil Aqso yang ada pada zaman para Imam Hadis didirikan oleh Umar bin Khottob Ra),
Tidak sejalan dengan ilmu astronomi / perbintangan 
3 (Langit yang sangat luas digambarkan seperti gedung 7 tingkat) padahal sangat besar dan rumit 
Kesimpulan akhir 
Telah terbukti bahwa matan Hadis-hadis Isro’ dan mi’roj ini tidak sohih.
Termasuk Hadis mauduk atau palsu atau paling tidak termasuk hadis dhoif (lemah) dan mualal (sisipan) karena isinya diselipkan cerita–cerita Israiliyat dari kaum Bani Israil, yang sengaja secara tersirat ingin mengagungkan bangsa mereka, serta mengecilkan peran Nabi Muhammad beserta pengikutnya.
Tujuan Isro’ Nabi Muhammad Saw
     Isro’ adalah rekonstruksi kejadian di hari kiamat.
     Semua manusia dibangkitkan di tempat mereka dikubur di seluruh dunia. Lalu masing-masing dibawa terbang (isro) oleh seorang malaikat ke padang mahsyar yang lokasinya di Masjidil-Aqso untuk diadili oleh Alloh Swt. 
Tujuan Mi’roj Nabi Muhammad Saw
     Diperlihatkan surga yang ada di masa depan, masuk Terowongan Waktu melalui Sidrotul Muntaha.
     Selain surga Nabi Muhammad Saw. juga diperlihatkan peristiwa Kiamat, Kebangkitan, pengadilan di Padang Mahsyar, Mizan dan Penimbangan Amal, Shiroth, dan Neraka.
     Sehingga Nabi Muhammad Saw. bisa menerangkan kepada kita tentang kejadian di Akhirot karena beliau pernah diperjalankan ke sana sewaktu Mi’roj..


Jember, 5 Nopember 2016
Dr. H. M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilp. (0331) 481127  
Jember


Kepustakaan
01. Abu Najdi Haraki dalam buku “Misteri Isra’ Mi’raj”, DIVA Press, Jogjakarta, 2007
02. Al Imam Muhammad Asy Syaukani, Nailul Authar, Penerjemah Drs. Hadimulyo dkk. Penerbit Asy Syifa, Semarang, 1994, jilid 1 halaman 685.
03. Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Djakarta, 1960.
04. Alkitab Elektronik 2.0.0, Alkitab Terjemahan Baru, @ 1974, Lembaga Alkitab Indonesia.
05. Bey Arifin, Rangkaian Cerita dalam Al-Quran, PT Almaarif, Bandung, 1971
06. Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, CV. Asy-Syifa, Semarang, 1999.
07. Departemen Agama  RI, Tafsir Al Qur-an Jilid 2, Jakarta, 2009
08. Felix Pirani dan Christine Roche, Mengenal Alam Semesta, Mizan "For Beginners", Bandung, 1997.
09. J.P. McEnvoy dan Oscar Zarate, Mengenal Hawking For Beginners, Mizan, Bandung, 1998.
10. Muhammad Muhibuddin, Keajaiban Yerusalem, Araska, Yogyakarta, 2014, halaman 152-156.
11. Stephen Hawking, Riwayat Sang Kala, Grafiti, Jakarta, 1994
12. Thomas McElwain, Bacalah Bibel, Penerbit Citra, Jakarta, 2006
15. https://kanzunqalam.com/2011/10/09/meninjau-kembali-  kisah-isra-miraj-rasulullah
16. www.oocities.org/maurice_osborn/Serpo.htm (planet asal piring terbang)
17. https://id.wikipedia.org/wiki/Hadits
20. https://id.wikipedia.org/wiki/ Imam Muslim

LAMPIRAN
Hadis tentang Isro’ dan Mi’roj
Dari beberapa Hadis tentang Isro’ dan Mi’roj yang ada, penulis mengutip dua buah Hadis sbb..
1. Hadis Sohih Muslim yang sangat panjang sbb. :
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: bahwa Rosulullah Saw. bersabda :
Isro’ ke Baitul-Maqdis
Aku didatangi Buraq. lalu aku menunggangnya sampai ke Baitul Makdis. Aku mengikatnya pada pintu mesjid yang biasa digunakan mengikat tunggangan oleh para nabi. Kemudian aku masuk ke mesjid dan mengerjakan sholat dua rakaat. Setelah aku keluar, Jibril datang membawa bejana berisi arak dan bejana berisi susu. Aku memilih susu, Jibril berkata: Engkau telah memilih fitrah.
Mi’roj ke langit
Lalu Jibril membawaku naik ke langit. Ketika Jibril minta dibukakan, ada yang bertanya: Siapakah engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawab Jibril: Ya, ia telah diutus. Lalu dibukakan bagi kami. Aku bertemu dengan Adam. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Kemudian aku dibawa naik ke langit kedua. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapakah engkau? Jawab Jibril: Jibril. Ditanya lagi: Siapakah yang bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Pintu pun dibuka untuk kami. Aku bertemu dengan Isa bin Maryam as. dan Yahya bin Zakaria as. Mereka berdua menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit ketiga. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa engkau? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad saw. jawabnya. Ditanyakan: Dia telah diutus? Dia telah diutus, jawab Jibril. Pintu dibuka untuk kami. Aku bertemu Yusuf As. Ternyata ia telah dikaruniai sebagian keindahan. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keempat. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jibril menjawab: Dia telah diutus. Kami pun dibukakan. Ternyata di sana ada Nabi Idris as. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah Taala berfirman Kami mengangkatnya pada tempat (martabat) yang tinggi. Aku dibawa naik ke langit kelima. Jibril minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa? Dijawab: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Dijawab: Muhammad. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Dijawab: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana aku bertemu Nabi Harun As. Dia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Aku dibawa naik ke langit keenam. Jibril as. minta dibukakan. Ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Muhammad, jawab Jibril. Ditanya: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Di sana ada Nabi Musa As. Dia menyambut dan mendoakanku dengan kebaikan. Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Jibril minta dibukakan. Lalu ada yang bertanya: Siapa ini? Jawabnya: Jibril. Ditanya lagi: Siapa bersamamu? Jawabnya: Muhammad. Ditanyakan: Apakah ia telah diutus? Jawabnya: Dia telah diutus. Kami dibukakan. Ternyata di sana aku bertemu Nabi Ibrahim as. sedang menyandarkan punggungnya pada Baitulmakmur. Ternyata setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk ke Baitulmakmur dan tidak kembali lagi ke sana.
Pergi ke Sidratul-Muntaha menerima wahyu
Kemudian aku dibawa pergi ke Sidratulmuntaha yang dedaunannya seperti kuping-kuping gajah dan buahnya sebesar tempayan. Ketika atas perintah Allah, Sidratul-muntaha diselubungi berbagai macam keindahan, maka suasana menjadi berubah, sehingga tak seorang pun di antara makhluk Allah mampu melukiskan keindahannya. Lalu Allah memberikan wahyu kepadaku. Aku diwajibkan salat lima puluh kali dalam sehari semalam. Tatkala turun dan bertemu Nabi saw. Musa As., ia bertanya: Apa yang telah difardukan Tuhanmu kepada umatmu? Aku menjawab: Salat lima puluh kali. Dia berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya. Aku pernah mencobanya pada Bani Israel. Aku pun kembali kepada Tuhanku dan berkata: Wahai Tuhanku, berilah keringanan atas umatku. Lalu Allah mengurangi lima salat dariku. Aku kembali kepada Nabi Musa As. dan aku katakan: Allah telah mengurangi lima waktu salat dariku. Dia berkata: Umatmu masih tidak sanggup melaksanakan itu. Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan lagi. Tak henti-hentinya aku bolak-balik antara Tuhanku dan Nabi Musa As. sampai Allah berfirman: Hai Muhammad. Sesungguhnya kefarduannya adalah lima waktu salat sehari semalam. Setiap sholat mempunyai nilai sepuluh. Dengan demikian, lima salat sama dengan lima puluh shplat. Dan barang siapa yang berniat untuk kebaikan, tetapi tidak melaksanakannya, maka dicatat satu kebaikan baginya. Jika ia melaksanakannya, maka dicatat sepuluh kebaikan baginya. Sebaliknya barang siapa yang berniat jahat, tetapi tidak melaksanakannya, maka tidak sesuatu pun dicatat. Kalau ia jadi mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kejahatan. Aku turun hingga sampai kepada Nabi Musa as., lalu aku beritahukan padanya. Dia masih saja berkata: Kembalilah kepada Tuhanmu, mintalah keringanan. Aku menyahut: Aku telah bolak-balik kepada Tuhan, hingga aku merasa malu kepada-Nya. (Shohih Muslim No.234)
2. Ada beberapa Hadis pendek Sohih Bukhori. Penulis mengambil 1 hadisnya yang berisi mi’roj Nabi Muhammad Saw. ke surga
Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda,
Menerima perintah solat (di langit)
 ‘Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, ‘Apa yang diwajibkan Alloh atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh kali sholat (dalam sehari semalam).’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Alloh lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. ‘Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, ‘Tuhan telah membebaskan separonya.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. ‘Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu.’ Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, ‘Sholat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapanKu.’ Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Aku jawab, ‘(Sungguh) aku malu kepada Tuhanku.’
Pergi ke Sidratul Muntaha dan ke Surga
Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi. (HR. Bukhari no. 193, 194)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar