Sabtu, 19 April 2014

Wanita dan poligami 04


Menyingkap Kehidupan Poligami

 

Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi

 

 

Pendahuluan

Kehidupan poligami sering digambarkan sebagai kehidupan yang penuh dengan pertengkaran antara seorang isteri dengan isteri-isteri lainnya, antara seorang anak dengan saudara-saudara tirinya. Biasanya hal itu terjadi karena sang suami tidak bisa melaksanakan prinsip keadilan. Bahkan dikatakan bahwa tidak mungkin seorang suami bisa berbuat adil terhadap isteri-isterinya.
Ternyata anggapan itu tidak selalu benar.
Berikut ini penulis mengutip cerita kehidupan poligami Puspo Wardoyo (lahir di Solo, 30 Nopember 1967), seorang pengusaha Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo berjudul ”Puspo Wardoyo, Pemilik Restoran Wong Solo (penyelenggara Poligami Award.Com)”. 
Selanjutnya penulis kutip cerita kehidupan seorang laki-laki yang berhasil berpoligami dengan 9 (sembilan) orang isteri berjudul "Menyingkap Kehidupan Poligami". Cerita lengkapnya terdiri dari 8 seri, tetapi sengaja penulis potong sampai seri ke-3 karena dalam agama Islam seorang laki-laki tidak boleh mempunyai isteri lebih dari empat. Mohon maaf, penulis tidak bisa menguji kebenaran cerita ini.

  




H. Puspo Wardoyo, Pemilik Restoran Wong Solo (penyelenggara Poligami Award)


THURSDAY, MARCH 25, 2010

Berasal dari Keluarga Penganut Poligami



Dalam keluarga besarnya, ternyata tidak hanya Puspo Wardoyo saja yang melakukan poligami. Selain sang ayah, kakak, dan adik Puspo juga ada yang melakukan poligami. Mengapa mereka memilih untuk hidup berpoligami?
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Puspo Wardoyo, (lahir di Solo30 November 1967; umur 46 tahun) adalah pengusaha pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo dari kota Solo. Puspo Wardoyo memiliki 7 saudara dan terlahir dari keluargan dengan ekonomi sederhana. Orang tuanya berdagang daging ayam dan membuka warung kecil. Puspo kecil membantu menyembelih ayam untuk dijual di pasar. Siang sampai malam, ia membantu orangtuanya menjajakan menu siap saji seperti ayam goreng, ayam bakar, dan menu ayam lainnya di warung milik orangtuanya di dekat kampus UNS Solo. Puspo Wardoyo sempat menjadi PNS yaitu guru seni di SMA Negeri 1 Muntilan. Namun Puspo Wardoyo memilih mengundurkan diri karena ingin menjadi pengusaha.
Riwayat pendidikan
·         SDN Kenangasam Solo
·         SMP Islam Batik Solo
·         SMA Negeri 4 Solo
·         UNS Solo
Perjalanan bisnis
Puspo Wardoyo mulai berprofesi sebagai penjaja makanan dan dicibir oleh temannya. Suatu waktu, temannya yang berjualan bakso di Medan pulang ke Solo, sang sahabat menyarankan agar ia pindah berjualan ke Medan. Prospek bisnis rumah makan di kota itu sangat baik, kata sang teman. Ia tertarik dengan ajakan kawannya itu. Untuk mendapatkan modal, ia kembali menjadi guru, kali ini SMU di daerah Bagan Siapi-apiRiau. Warung makan miliknya ia tinggalkan. Puspo mempercayakan pengelolaan warungnya pada seorang kerabat. Selama 2 tahun mengajar, 1989-1991, terkumpul uang sekitar Rp 2.400.000. Dengan uang itu ia membeli motor dan sewa rumah kontrakan. Sisanya sekitar Rp 700.000 dipergunakan untuk modal jualan ayam bakar. Puspo lantas membuka warung kaki lima di daerah Medan Polonia, Medan.
  
Rumah makan Ayam Bakar Wong Solo di Surakarta
Usahanya tidak sia-sia. Pelan tapi pasti usahanya berkembang. Pegawainya pun bertambah. Suatu saat pegawainya tertimpa masalah. Ia terlibat utang dengan rentenir. Puspo membantunya dengan cara meminjamkan uang. Sebagai ucapan terimakasih, sang pegawai membawa wartawan sebuah harian lokal Medan. Si wartawan yang merupakan sahabat suami pegawai yang ditolong Puspo kemudian menuliskan profilnya. Judul artikel itu Sarjana Buka Ayam Bakar Wong Solo. Artikel itu membawa rezeki bagi Puspo. Esok hari setelah artikel dimuat, banyak orang berbondong-bondong mendatangi warungnya. Kemampuan meracik dan meramu masakan didapatnya sewaktu bekerja membantu ayahnya berdagang. Kemampuannya ini terus diasahnya sampai sekarang. Hasilnya di Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo sekarang telah ada 50 menu. Jumlah gerai RM Ayam Bakar Wong Solo sudah lebih dari 100 outlet yang tersebar di antaranya di MedanBanda Aceh, PadangSoloDenpasarPekanbaruSurabayaSemarangJakartaMalangYogyakarta dan mulai merambah Sulawesi. Usaha yang berawal dari Ayam Bakar Wong Solo kaki lima di Jalan SMA 2 Padang Golf Polonia Medan ini juga berhasil membuka 5 outlet di Malaysia.
Poligami
Salah satu sisi kontroversial dari Puspo Wardoyo adalah beliau beristri banyak atau poligami. Bahkan Puspo Wardoyo mendukung acara Poligamy Award, semacam penghargaan untuk lelaki yang beristri banyak. Istri pertama Puspo Wardoyo adalah Rini Purwanti, 48 tahun, menikah di Medan, Sumatera Utara tahun 1979.[1] Rini Purwanti adalah sarjana pendidikan lulusan Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah, yang mengajar di Medan.[1] Istri kedua adalah Supiyati, 46 tahun yang merupakan karyawati restoran milik Puspo Wardoyo yang dinikahi tahun 1996. Setahun kemudian, Puspo Wardoyo kembali menikah dengan Anisa Nasution usia 44 tahun.[1] Kemudian tahun 1999 Puspo Wardoyo menikah dengan Intan Ratih.[1] Istri pertama dan istri kedua menetap di Medan, istri ketiga menetap di Tangerang dan istri keempat menetap di Semarang. Kini Puspo Wardoyo sudah memiliki 15 orang anak.
Sebuah papan nama berwarna putih dan kuning terpampang di pinggir jalan Panjang, Kedoya, Jakarta Barat. Tidak jauh dari posisi papan nama tersebut, tampak sebuah lahan cukup luas yang dijadikan sebagai lahan parkir dari sebuah restoran. Tempat makan itulah yang merupakan usaha Puspo Wardoyo. Restoran ayam bakar Wong Solo telah berdiri di daerah Kedoya sejak setahun silam.
  
Puspo Wardoyo (Founder dan Owner Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo) – Berbisnis Perlu Bikin Sensasi
  Puspo Wardoyo
Sukses membawa restoran Wong Solo memang mengangkat nama Puspo Wardoyo sebagai seorang pengusaha yang tangguh. Puluhan cabang telah ia dirikan di berbagai daerah. Tidak hanya cabang Wong Solo yang jumlahnya lebih dari satu, isteri Puspo pun lebih dari satu orang. Status suami yang beristri lebih dari satu itulah yang kini membuat Puspo dikenal sebagai Bapak Poligami Indonesia.
Sebagai seorang pengusaha yang sukses, Puspo Wardoyo memang telah menjadi seorang public figur. Terlebih lagi, ia merupakan sosok orang yang paling disorot media beberapa waktu terakhir ini karena isu poligami yang ia kedepankan setiap kali tampil di depan publik. Isu poligami sendiri memang menjadi bahan omongan di masyarakat, setelah tokoh agama sekaligus penceramah kenamaan, Aa Gym yang memutuskan menikah untuk kedua kalinya. Meski tidak memiliki hubungan keluarga dengan Aa Gym, isu poligami tentu saja tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan sosok Puspo Wardoyo.



Ingin Meniru Arjuna
“Ayah saya ingin anak-anaknya menjadi pegawai negeri,” ujar Puspo. Meskipun begitu, cita-cita dari Puspo sendiri bukanlah menjadi seorang pegawai negeri. Ia justru ingin menjadi seorang Arjuna, salah satu tokoh pewayangan. “Ketika masih kecil saya ingin menjadi pria seperti Arjuna, tokoh pewayangan yang menang dalam setiap pertempuran dan beristri lebih dari satu,” tutur anak ketiga dari 8 bersaudara itu. Nyatanya berkata lain, Puspo justru sempat menjadi guru kesenian sebuah Sekolah Menengah Umum (SMU) Perguruan Wahidin Bagan Siapiapi.
 
Arjuna dididik bersama dengan
Arjuno
Setelah sempat diberikan wejangan dari sang ayah, Puspo meninggalkan karirnya sebagai pegawai negeri dan memutuskan untuk mendirikan warung lesehan kaki lima yang menyajikan menu ayam goreng sejak tahun 1986 di kota kelahirannya Surakarta. Dengan modal Rp 700.000 dari 3 ekor sehari bisa meningkat, kemudian setelah dua tahun menjadi 7 ekor, dan 3 tahun kemudian bertambah menjadi 2 menu, begitu seterusnya. Bahkan Puspo pun mampu melebarkan sayapnya ke seberang pulau, tepatnya di kota Medan.
Akan tetapi, sebelum ia mampu menancapkan Wong Solo di kota Medan tersebut, terlebih dahulu, Puspo mengumpulkan modal dengan kembali menekuni profesi sebagai guru di Perguruan Wahidin Bagan Siapiapi, Riau. “Kembali menjadi guru, saya terpaksa lakukan untuk mengumpulkan modal,” tutur pengusaha yang memiliki 1.200 karyawan ini. Di tanah Riau ini, Puspo menyunting Rini Purwani, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, rekan seprofesinya mengajar. Dengan modal yang telah ia kumpulkan tersebut, dan keinginan yang tinggi, ia bersama istrinya dan seorang anaknya yang masih kecil hijrah ke Medan.
Dibantu Istri Mencari Calon Istri. 
Sejak merintis Wong Solo di daerah penghasil Bika Ambon tersebut, Puspo meraih kesuksesan dengan menu ayam bakar. Selang beberapa waktu kemudian, Puspo meraih sukses di tanah rantau itu. Ayam bakarnya laris manis dan banyak digemari masyarakat Medan. Pada 1993, ia membuka cabang pertama di Medan dan kemudian membuka restoran ketiga di Medan. Sejak 1997, Wong Solo mulai ekspansi ke luar Medan dan terus berkembang dan membuka cabangnya di berbagai kota di pelosok tanah air.
Saat sukses mampu diraihnya bersama label Wong Solo, Puspo pun merasa tidak cukup dengan hanya memiliki istri satu orang saja. “Poligami itu adalah hak dan kebutuhan perempuan,” ujar Bapak dari 11 anak ini. Tak heran, ia pun memutuskan untuk menikah kembali dengan perempuan yang tak lain adalah salah satu karyawan Wong Solo. Tahun 1996, Puspo pun memutuskan untuk menikah dengan istri keduanya, Supiyanti. “Isteri kedua saya adalah mantan karyawan saya sendiri,” aku Puspo.
Tak hanya sampai di situ saja, setahun kemudian Puspo kemudian menikah kembali dengan seorang perempuan bernama Anissa Nasution yang juga merupakan mantan karyawan Wong Solo. “Istri ketiga saya seorang sarjana, juga mantan karyawan Wong Solo,” ujar franchisor Wong Solo ini. “Menikahinya merupakan penghargaan kepadanya sebagai karyawan yang baik,” lanjutnya.
Iklankan Istri Keempat.
Uniknya, dalam mencari calon isteri keempat, Puspo mengaku sempat memasang iklan di sebuah surat kabar yang terbit di Semarang. “Untuk mendapatkan istri keempat, saya pasang iklan di sebuah surat kabar yang terbit di Semarang untuk mencari seorang sekretaris pribadi buat saya,” aku Puspo. Alhasil, sekitar 400 pelamar berdatangan ke rumah makan Wong Solo di Semarang.
  

Puspo Wardoyo bersama ke-4 isterinya
Bukan tanpa syarat, Puspo justru memiliki kriteria sendiri dalam memilih calon istri-istrinya. Baginya, perempuan yang cocok untuk menjadi pendamping pria yang akan menginjak usia 50 ini haruslah memiliki akhlak yang baik. “Harus sarjana, berjilbab, akhlaknya baik,” tutur Puspo menyebutkan satu persatu kriteria untuk menjadi pendamping hidupnya tersebut. Bahkan untuk memilih istri keempat, Intan Ratih, ia bersama istri keduanyalah yang memilih calon istri keempat yang nantinya akan menjadi salah satu bagian dari keluarga Puspo Wardoyo.
Awalnya calon istri keempat tersebut dijadikan sebagai sekretaris pribadi Puspo. Puspo beralasan dengan menjadikan calon istri keempat tersebut sebagai sekretaris pribadi terlebih dahulu, Puspo akan bisa lebih dekat mengenal perempuan tersebut. Akhirnya pada tahun 1999, Puspo menikahi Intan Ratih dan menjadikannya sebagai istri keempat.
Keluarga Penganut Poligami
Di dalam keluarga besarnya, ternyata tidak hanya Puspo saja yang memiliki istri lebih dari satu. “Adik dan kakak saya juga poligami,” aku Puspo. Selain adik dan kakaknya, sang ayah, Wardoyo juga ternyata memiliki istri lebih dari satu. “Ayah saya punya istri dua,” ujar Puspo. “Kalau adik dan kakak saya ada yang 2, 3 dan 4 istri,” lanjutnya. Meski sebagian besar anggota keluarganya juga menerapkan poligami, Puspo tidak mau disebut sebagai penganut poligami yang diturunkan dari sang ayah. “Sebenarnya semua laki-laki itu memiliki bakat untuk berpoligami,” kilah pria yang berniat untuk menambah jumlah anaknya ini.
Keempat istri Puspo memang tidak tinggal di dalam satu rumah sekaligus. Masing-masing istrinya tinggal terpisah. Istri pertama dan kedua menetap di Medan. Sedangkan istri ketiganya tinggal di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Istri ‘bontot’nya juga tinggal di daerah Tangerang, tepatnya di Puri Bintaro. Para istri ini mendapat limpahan materi dari sang suami yang sangat berkecukupan. Sebagai seorang pengusaha yang cukup sukses, pendapatan Puspo memang terbilang cukup besar untuk menghidupi keempat isteri dan kesebelas anaknya. Keempat istrinya seperti yang diakui Puspo, tidak terlibat dalam bisnis restoran. Mereka hanya sekadar mengawasi standar bumbu masakan. 
Fajar     
Side bar 1
Supiyanti, Istri Kedua Puspo Wardoyo - Penerima Poligami Award
Sejak Awal Menerima Dipersunting Sebagai Istri Kedua
Sebagai salah seorang istri Puspo, Supiyanti memang cukup tegar dalam menghadapi kenyataan bahwa sang suami memiliki istri lebih dari satu. “Awalnya, saya tidak menerima poligami,” kenang Supiyanti. Diakuinya pula, ia sempat menangis selama beberapa lama sebelum akhirnya bisa menerima keputusan sang suami untuk berpoligami. Supiyanti beralasan bahwa ia memang sejak awal menerima disunting sebagai istri kedua dan sudah seharusnya menerima keadaan sang suami
  .

Puspo Wardoyu dan Supiyanti istri ke-2
Supiyanti sendiri dinikahi oleh Puspo tahun 1996. ketika itu Supiyanti baru berusia 26 tahun. Awalnya, pasangan tersebut menikah tanpa sepengetahuan istri pertama. Rini, istri pertama Puspo baru mengetahui bahwa suaminya tersebut telah menikah lagi setelah enam bulan kemudian. Puspo mengaku bahwa istri pertamanya itu sempat menangis tatkala mengetahui bahwa Puspo telah menikah lagi dengan perempuan lain. Meski begitu, Rini akhirnya berlapang dada dan menerima keputusan suami yang sangat dicintainya tersebut. Bahkan, Rini menemani suami dan madunya itu mencatatkan perkawinannya ke kantor urusan agama (KUA).
Ketika Puspo menjalankan poligami dengan keempat istrinya, memang bukanlah tanpa halangan. Saat Puspo mencoba melamar calon istri ketiganya, Anissa Nasution, ia malah sempat ditolak mentah-mentah oleh calon mertua. Kala itu, orang tua Anissa tidak rela anak perempuannya tersebut dijadikan istri ketiga. Puspo pun melapor ke Rini mengenai hal tersebut. Tak dinyana, Rini justru mendampinginya untuk melamar Anissa kembali. Walhasil, lamaran itu diterima. Berkat kegigihan dan kesungguhan Puspo, orang tua Anissa akhirnya luluh dengan lamaran Puspo. Meski memiliki empat istri, Puspo mengaku bahwa ia telah berusaha untuk selalu berbuat adil. “Mas Puspo sudah berbuat adil,” ujar Supiyanti. Ia mengaku bahwa dari segi materi dan perhatian, Puspo memang telah berbuat adil. “Masing-masing istri dan keluarganya dikasih satu rumah dan satu mobil,” aku wanita berjilbab ini.
Tidak hanya adil dalam hal materi, Supiyanti juga mengaku bahwa Puspo adil dalam pembagian waktu atau jadwal kunjungan. Adapun menurut Supiyanti jadwal kunjungan untuk keempat istri Puspo telah diatur sedemikian rupa sehingga masing-masing istri dan anak-anaknya mendapatkan perhatian dan waktu yang sama. Untuk pembagian waktu terhadap keempat istrinya, Puspo memiliki jadwal yang diatur dengan adil. Setiap orang istri memiliki jatah seminggu. Tak pelak, rutinitas Jakarta-Medan sudah menjadi menunya tiap bulan. Fajar
Sidebar 2…
Salah Seorang Istri Puspo Mengundurkan Diri
Meski Puspo Wardoyo dan keempat istrinya mengaku kalau mereka bisa hidup secara tentram dan damai, namun tak jarang ada saja rintangan yang harus mereka hadapi. Sebut saja sorotan negatif dari berbagai pihak yang tidak setuju dengan prinsip poligami yang dijalankan Puspo. Dr. Siti Musdah Mulia, Sekjen ICRP (Indonesia Conference on Religion and Peace) misalnya, mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW selama 28 tahun melakukan monogami. Tiga tahun setelah istri pertamanya, Khadijah meninggal, ia baru menikahi Saudah-seorang janda tua yang berumur 65 tahun. Satu-satunya istri Nabi yang dinikahi masih muda dan perawan adalah istri ketiganya yaitu Siti Aisyah. Sedangkan istri keempatnya yang bernama Hafsah juga seorang janda tua. “Bandingkan dengan Puspo yang menikahi empat orang istri yang masih perawan, muda, dan cantik,” ujar Musdah.
  
Selain sorotan miring, Puspo juga harus menghadapi rintangan manakala salah satu istrinya ada yang menggugat cerai. Salah satu istri Puspo yang menggugat cerai itu mengaku kalau dirinya tidak tahan dengan poligami yang dijalani oleh Puspo. Namun Puspo menghadapi semua itu dengan tenang. “Dia cuma mengundurkan diri saja,” ujar Puspo tanpa mau menyebutkan nama sang istri yang menggugat cerai dirinya.
Puspo pun bercerita salah satu pengalamannya dalam menjalani kehidupan poligami. Kala itu, Puspo tengah berada di kediaman istri kedua, Supiyanti. Hari itu memang menjadi jadwal bagi Puspo untuk berada di kediaman Supiyanti. Awalnya Puspo ingin memadu kasih dengan sang istri, namun Puspo harus gigit jari tatkala keadaan Supiyanti sedang berada dalam kondisi berhalangan (menstruasi, red). Hal tersebut memang cukup mengecewakan Puspo. Terlebih lagi, rasa cinta dan rindu terhadap Supiyanti sudah dipendamnya cukup lama. “Dia (Supiyanti, red) malah menyuruh saya untuk pergi ke rumah istri pertama saya,” kenang Puspo. “Itu sempat membuat saya terharu,” tambahnya.

Diusir Sang Anak
Uniknya, ketika Puspo mendatangi kediaman Rini, istri pertamanya, sang anak justru mempertanyakan alasan Puspo datang ke rumahnya tersebut. “Anak saya marah dan mengusir saya karena waktu itu kan seharusnya jadwal untuk istri kedua saya,” kenang Puspo. Kala itu, memang sudah menjadi jadwal Puspo mengunjungi istri kedua, sehingga sang anak pun protes dengan berubahnya jadwal Puspo secara tiba-tiba. Meskipun begitu, akhirnya sang anak dapat mengerti dengan keadaan sang ayah dan mampu menerima kembali kedatangan sang ayah. 
Fajar       
Side Bar 3:
Puspo Rela Jika Anak Perempuannya Dipoligami
Dalam beberapa kesempatan acara ataupun diskusi, Puspo Wardoyo memang sangat getol menyebarluaskan poligami kepada masyarakat. “Saya ingin menyebarluaskan poligami dan mengubah poligami yang sekarang imagenya jelek,” harap Puspo ke depannya. Tak heran, Puspo seringkali tampil di depan public dengan memberikan pengalaman-pengalaman positif pada saat ia menjalani poligami.
  

Puspo Wardoyo
Sebagai seorang laki-laki, Puspo memang sangat setuju dengan poligami yang diusungnya. Bahkan ia merelakan jika nantinya salah satu anak perempuannya memiliki suami yang berpoligami sebagaimana Puspo sendiri. “Insya Allah, saya relakan apabila anak saya dipoligamikan,” ujar Puspo. “Laki-laki itu haruslah teruji keberhasilannya dan mampu mengajak ke jalan Allah, saya akan lebih memilih laki-laki seperti itu dibandingkan jejaka yang belum teruji,” tuturnya.
Bagi Puspo, poligami memang menjadi sebuah jalan hidup yang sempurna. “Kita kan meneladani perbuatan Rasulullah,” ujar pria yang memiliki hobi masak ini. Ia pun sangat senang menyambut kabar bahwa Aa Gym memiliki istri kedua. “Da’i kondang saja berani melakukannya, yang artinya penting dan urgent sekaligus dapat menjadi contoh teladan di Indonesia yang mayoritas orang Islam yang selama ini poligami selalu ditentang dan dinilai jelek,” tutur Puspo. Baginya melakukan poligami lebih mulia ketimbang pelacuran yang dilakukan oleh kaum perempuan. Ia juga berpendapat bahwa dengan melakukan poligami, kejenuhan yang biasanya terjadi di antara pasangan suami istri dapat terhindarkan.
Fajar        







Menyingkap Kehidupan Poligami 1

By Jks
Aku ingin berbagi cerita mengenai kehidupanku. Orang semacam aku selama ini tidak ada yang mau terbuka mengenai kehidupannya, padahal banyak orang penasaran ingin tahu bagaimana seorang pria yang memiliki istri lebih dari satu. Aku memiliki 9 istri, semuanya cantik menurutku dan hidup damai saling tolong menolong seperti satu keluarga.
Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri, namaku Argo. Ketika aku tulis cerita ini usiaku sudah melewati 60 tahun, ya lebih sedikit. Saya orang yang biasa-biasa saja, tidak punya kelebihan apa-apa.
Sejujurnya waktu muda dulu sama sekali tidak pernah saya berkeinginan punya istri lebih dari satu, apalagi sampai 9 orang. Jika para motivator selalu menanamkan hidup harus mempunyai “goal” atau “dream”, Saya tidak pernah punya goal atau dream memperistri 9 orang.
Nama saya sudah bisa mencerminkan bahwa saya berasal dari suku Jawa. Mereka adalah keluarga monogamy. Ayah saya yang saya panggil Bapak, adalah orang Jawa banget. Dia selalu menanamkan berbagai kearifan Jawa kepada saya dan tentunya kepada semua adik-adik saya.
Banyak sekali falsafah Jawa yang ditanamkan kepada kami anak-anaknya, sehingga itu menjadi semacam pedoman atau tuntunan hidup. Salah satu yang paling memberi kesan mendalam adalah falsafah Hasta Brata. Aku tidak uraikan soal falsafah itu, karena pembaca bica cari sendiri di internet.
Dalam cerita ini aku mohon maaf karena akan bicara agak vulgar dan terbuka. Bukan aku ingin membuka aib sendiri (apakah hubungan suami istri itu aib?), tetapi keinginan tahu orang terhadap kehidupan poligami terutama adalah masalah sex. Cara berceritaku juga mungkin agak kacau, karena bukan hanya aku yang mengungkapkan cerita mengenai diriku tetapi istri-istriku juga angkat bicara bercerita. Cerita mereka aku angkat, karena berisi pengakuan yang tentu saja itu aku anggap menarik.
Saya menikah pada umur 25 tahun dengan istri yang masih 17 tahun. Istri pertama bukan pacar semasa muda, tetapi seperti dijodohkan oleh keluarga. Awalnya saya kurang senang dijodohkan karena kan saya tidak kenal dan tidak tahu apakah dia selera saya atau bukan. Ketika kami diperkenalkan, pendirian saya jadi goyah, bahkan malah berbalik arah 180 derajat. Cewek yang diperkenalkan bernama Chandrawina, cantik, putih agak tinggi, rambutnya se bahu. Aku harus mengakui bahwa selama aku dapat pacar, sudah 3 kali, belum ada yang secantik ini.
 
Gambar Perkahwinan Amar Asyraf Dan Arna Salleh 8 Photo | Cerita Dewasa
 
Menurut Chandra yang bercerita setelah kami menikah, dia pun semula tidak suka dijodohkan. Alasannya ya sama dengan saya. Kenapa akhirnya mau, katanya setelah ketemu saya dadanya berdebar-debar.
Setelah pertemuan pertama itu kedua keluarga kami memberi kesempatan kami untuk saling mengenal, sehingga kami sering jalan berdua nonton bioskop. Sekitar 6 bulan setelah kami merasa akur, akhirnya menyatakan setuju saja ketika kedua orang tua kami akan menikahkan segera.
Sampai menikah, aku hanya pegang tangan saja, mencium tidak berani, apalagi lebih dari itu, sehingga ketika kami menjalani malam pertama, kami berdua malu-malu memulai. Saya masih ingat betul kejadian malam pertama itu, karena memang sangat berkesan seumur hidup.
Ruang pengantin yang dihias mewah dengan keharuman dan warna-warna lembut, sebetulnya membuat saya malu. Mengapa malu, karena semua orang, saudara dan tamu mengetahui bahwa kamar itu akan menjadi arena kami berdua melakukan hubungan sex.
Selesai acara malam resepsi, yang waktu itu baru selesai jam 11 malam. Kami berdua lalu melepas semua baju kebesaran. Saya mengenakan celana jeans dan kaus oblong, istri juga pakai celana jeans dan kaus oblong juga. Rambutnya masih belum normal karena bekas sasakan masih sulit diurai. Kami berdua lalu ngobrol dengan teman-teman akrab yang masih belum pulang. Kami memang melaksanakan pesta resepsi di rumah, sehingga teman-teman akrab banyak yang begadang.
Menjelang setengah 12, teman-teman kami sambil meledek menyuruh kami masuk kamar pengantin. Aku dan istriku jadi malu dikerjai begitu. Akhirnya aku tidak bisa berkutik ketika ibu si Chandra menyuruh kami masuk kamar.
Rasanya malu banget ketika kami berdua berjalan memasuki kamar. Tapi apa boleh buat. Kami masuk kamar dan pintu langsung dikunci, karena ibu Chandra yang menginstruksikan begitu. Kami berdua duduk di pinggir. Jujur saja sampai seumur itu, saya belum pernah ciuman apalagi melakukan hubungan badan.
Duduk berdampingan dengan istri yang beda umur 8 tahun dari saya rasanya berdebar-debar sekali. Mungkin naluri yang mendorong saya pada waktu itu, Chandra saya peluk dan saya cium. Mulanya pipinya. Dia menurut saja wajahnya dijatuhkan ke dada saya sehingga saya hanya bisa mencium keningnya dan membaui rambutnya yang harum. Badannya saya peluk.
Entah bagaimana, kami berdua jadi berbaring sambil kaki masih menjuntai di tepi tempat tidur. Itulah kesempatan saya mencium pipinya lagi lalu dahinya lalu bibirnya. Chandra bibirnya kaku ketika aku cium. Aku kurang tahu cara berciuman, hanya sering lihat di film-film. Lama-lama bibirnya dibuka lalu aku pagut bibir bawahnya.
Tanganku meremas payudaranya yang lumayan besar. Nafas istriku mendengus-dengus, membuat aku makin bernafsu. Saking polosnya waktu itu, aku bertanya dulu waktu mau membuka kausnya. Chandra mengangguk saja dan minta aku mematikan lampunya. Yah begitulah sampai akhirnya kami berdua bugil. Ketika itu karena aku terlalu nafsu, belum sempat melakukan hubungan aku sudah muncrat duluan. Si Chandra bingung waktu itu dan jijik karena tangannya terkena spermaku. Kamar mandi ada di dalam jadi kami sama-sama membersihkan.
Karena masih muda tidak lama kemudian penisku sudah berdiri lagi. Aku sudah gak sabar ingin merasakan hubungan sex. Penisku aku arahkan ke kemaluan Chandra. Waktu itu aku tidak tahu dimana letak lubang untuk melakukan hubungan. Aku kira berada di depan, sehingga ketika aku tekan-tekan di belahan kemaluannya tetapi tidak bisa masuk, karena memang tidak ada lubangnya. Chandra lah yang membantu dengan mengarahkan penis saya ke arah vaginanya.
Begitu menemukan vagina, penis saya tekan tapi masih meleset-meleset sehingga terpaksa agak dipaksa baru bisa masuk. Chandra kesakitan, tapi karena nafsuku sudah di ubun-ubun jadi ya maksa terus, berhenti sebentar lalu tekan lagi sampai akhirnya penisku masuk semua. Rasanya waktu itu luar biasa enaknya, sehingga aku tidak mampu menahan ejakulasi, sehingga tumpahlah di dalam.
Aku ingat pada waktu itu, ketika aku merasakan nikmatnya bersetubuh, Chandra menangis, karena vaginanya sakit, pedih sekali katanya. Dia aku peluk dan akhirnya tertidur. Sebetulnya pagi harinya aku masih ingin lagi, tapi Chandra gak mau karena vaginanya masih perih.
Pengalaman konyol di malam pertama mendorong aku mencari tahu melalui buku-buku mengenai sex. Setelah sebulan kami menikah baru aku bisa merasakan nikmatnya bercinta. Setiap malam rasanya selalu ingin “bertempur”. Itupun bukan sekali tetapi minimal 2 kali dan pagi harinya sekali. Rasanya enak sekali dan bikin ketagihan.
Dari buku-buku baru aku tahu soal orgasme dan mengerti beda lubang kencing dengan lubang vagina, tahu soal pelumasan, soal foreplay dan sebagainya. Belum setahun kami sudah bermain dengan berbagai gaya mempraktekkan kamasutra bahkan istriku sudah bisa melakukan oral, aku pun juga bisa dan mengerti bagaimana mengoral yang berkualitas. Pada waktu itu tidak ada pengetahuan soal G-spot.
Aku mengikuti jejak ayahku berdagang tekstil dan garment di pasar Tanah Abang. Padahal aku menamatkan S-1 Ekonomi pada saat itu. Namun sulit mencari kerja, kalaupun kerja di kantor hasilnya tidak seberapa dibandingkan penghasilan kios tekstilku.
Sebelum menikah aku sudah menjalankan kiosku sendiri, yang aku peroleh secara kredit dari ayah. Aku mulai memiliki kios sejak aku lulus SMA. Setelah 2 tahun menamatkan kuliah ketika aku menikah aku sudah memiliki 2 kios. Setahun setelah berumah tangga aku sudah mampu membeli sebuah rumah tua di daerah Kebon Kacang yang dekat dengan pasar Tanah Abang. Di tahun itu juga aku bersama teman-teman pedagang tekstil patungan membangun industri garmen.
Setelah hampir 10 tahun berumah tangga dan memiliki 2 anak, usahaku makin berkembang sehingga aku bisa membeli sebidang tanah di belakang rumahku. Lumayan luas juga mungkin sekitar 500 m2. Tanah tersebut tidak memiliki akses jalan, sehingga aku bisa mendapatkannya dengan harga jauh di bawah harga pasar.
Setelah 10 tahun membina rumah tangga, aku tertarik dengan wanita yang menjalankan usaha ayahnya berjualan tekstil juga. Kiosnya tidak jauh dari tempat usahaku. Hampir setiap hari bertemu sehingga makin kenal dan akrab. Dia belum berumah tangga, sedangkan aku sudah mempunyai dua anak. Mungkin karena akrab dan kami punya hobby dan selera makan yang sama, maka sering kami makan di warung soto kaki yang terkenal di pasar Tanah abang bersama.
Dia bernama Sarinah dan kelihatannya tidak membatasi diri bergaul denganku yang sudah beristri. Suatu hari ketika selesai makan, aku tanyakan kepadanya, “Mau kah aku lamar kamu jadi istriku, sebab sering jalan berdua, walaupun hanya makan siang, takutnya menimbulkan fitnah,” kataku rada nekat.
Aku tertarik pada Sarinah, karena yang pasti orangnya cantik, suaranya membangkitkan gairah lelaki dan yang penting dia alim.
“Abang kan sudah beristri, kok nglamar saya, ntar gimana dong istrinya,” kata dia.
Aku kira pertanyaanku tadi membuat dia terkejut, atau malah takut kepadaku, tetapi malah dia memberi respon begitu dengan sikap yang santai.
“Ya kalau adik bersedia, menjadi istri abang yang kedua,” kataku tanpa memilih kata yang lebih halus.
“Abang serius, apa godain aja sih,” tanyanya dengan pandangan mata yang tajam.
“Aduh masak masalah ini gak serius, ya serius sekali lah,” jawabku agak berbunga-bunga karena menangkap dari perkataannya seperti tidak ada penolakan.
“Tanya dulu ama istri abang boleh gak, mau gak punya madu,” jawabnya santai.
“Kalau sudah tanya dan boleh, gimana,” tanyaku mulai bersemangat.
“Ya nantilah kita bicara lagi, saya juga belum bisa menjawab bang,” katanya.
Sarinah memang biasa memanggilku bang, mungkin karena dia dari Minang, jadi terbiasa begitu.
Pekerjaan besar berikutnya adalah minta izin dari istri. Berhari-hari aku memikirkan strategi dan kata-kata apa yang akan kuucapkan. Tapi aku tidak mendapatkan ide. Akhirnya nekat aja aku ngomong tanpa tedeng aling-aling ketika kami baru selesai bertempur.
“Ma, Bapak mau kawin lagi, boleh ya ma” kataku.
Dari posisi sedang aku peluk dan kami berdua masih telanjang, dia langsung duduk bersila.
“Kawin, kawin sama siapa, memang bapak gak puas punya satu istri,” katanya langsung sengit.
“Bukan gak puas ma, tapi aku cuma tanya boleh kan aku punya istri satu lagi,” kataku nekat.
Dia diam sebentar lalu matanya berlinang-linang. Entah apa yang dipikirkan sehingga dia menangis.
“Sama siapa sih papa ingin kawin,” tanyanya.
“Belum ada, tapi aku kalau sudah dapat izin baru aku cari calonnya,” kataku setengah berbohong.
Aku tidak berani mengatakan akan kawin dengan Sarinah, karena dia belum menyatakan kesediaan. Lha kalau aku katakan dengan Sarinah, lalu dia gak mau aku kawini, kacau kan.
Mama belum bisa jawab sekarang pa.
Berhari-hari istriku murung dan dia kurang berkomunikasi denganku. Aku tahu ada rasa tidak senang terhadap diriku, tetapi sejauh ini aku merasa tidak melanggar apa pun, tidak berbuat salah apapun.
Suatu hari muncul ide. Aku menemui Kyai yang akrab denganku karena sering memberi pengajian di rumah dan istriku salah satu jamaahnya. Pak kyai ini sangat dikagumi istriku karena dia sering mengemukakan dalil-dalil yang bijak dan pandai sekali memotivasi. Aku juga kagum padanya karena meskipun usianya sudah tua, tetapi pandangannya sangat modern dan bisa menyelami kehidupan kaum yang jauh lebih muda darinya.
Aku bersilaturahmi ke kediamannya. Aku langsung utarakan maksudku untuk memiliki 2 istri, aku mohon beliau memberiku arahan. Beliau memang bijak, sama sekali tidak menentang keinginanku dan malah memberi banyak nasihat. “Satu hal yang paling penting, kamu harus bertindak adil, artinya apa yang biasa diterima oleh istrimu itu tidak berubah, meskipun sudah memiliki dua istri.”
Otakku langsung melayang berfikir soal finansial. Rasanya kalau soal duit, istriku sudah kuberi usaha yang kini sudah cukup besar. Dia memegang industri garment. Penghasilannya sering kali lebih besar dari pendapatanku. Kalau soal di tempat tidur, kami normal melakukan seminggu sekali, itu pun setelah ada kesepakatan kalau sama-sama sedang berkehendak karena badannya tidak lelah. Kalau soal kasih sayang, kayaknya bisa gak berubah.
Aku jawab ke pak Kyai “baik pak.”
Di hari pengajian di rumahku, usai pengajian pak Kyai aku tarik ke ruang tamu khusus dan kuajak istriku berbicara bertiga dengan pak Kyai. Di situ aku utarakan lagi niatku kepada Kyai. Seperti disampaikan kepadaku, dia mengulang lagi tausyiahnya. Istriku diam saja tertunduk. Dia sama sekali tidak menyoal.
“Kalau niat bapak sudah kuat, mama kasih izin pa, sebagai istri saya akan mengabdi sepenuhnya kepada suami.” katanya sambil air matanya meleleh. Kupeluk dia lalu ku kecup keningnya.
Izin sudah kupegang, lalu kusampaikan kepada Sarinah. Dia rupanya sudah meminta nasihat dari orang-orang bijak dan pemuka agama. “Secara pribadi saya mau terima lamaran abang, tetapi saya belum bertanya ke keluarga saya,” katanya sambil menutupkan kerudungnya ke mulutnya.
“Baiklah kalau begitu, kita berdua yang akan menjalani sudah bersepakat, tolong bicaralah baik-baik ke keluarga,” kataku.
Aku sudah menyangka jika Sarinah tertarik pada diriku. Selisih usia kami cukup jauh, aku 35 tahun dia masih 20 tahun. Dia tidak memiliki ayah, sejak kecil dididik oleh ibunya. Mungkin dia menemukan sosok pengayom dari diriku. Sebetulnya memang begitu, itu pengakuannya kemudian.
Sarinah bercerita, keluarga besarnya mulanya menentang, tetapi penentangannya itu tidak berdasar. Jika ibunya, tidak menentang, karena sejak awal sudah menyerahkan keputusan kepada Sarinah karena yang akan menjalani adalah Sarinah sendiri. Meskipun tidak dicapai kesepakatan bulat, tetapi keluarga yang punya peran penting umumnya sudah bisa menerima.
Pesta pernikahan dilaksanakan secara sederhana. Hanya keluarga besar kami saja yang merayakan. Aku sudah menyiapkan kamar khusus pengantin. Chandra sudah ikhlas menerima kenyataan. Dia lah yang paling sibuk ikut mengatur agar semuanya berjalan lancar, karena memang dialah ketua panitianya. Bahkan kamar pengantin pun dia yang ikut merancang.
Malam pertama dengan istri kedua tentu berbeda dengan istri pertama. Aku sudah memberi pengertian kepada Sarinah bahwa malam pertama tidak menginap di kamar pengantin, tetapi menginap di hotel. Dia rupanya setuju, karena dia pun merasa malu mengunci diri di kamar sementara di seputar rumah masih banyak sanak keluarga.
Kamar pengantin hanya digunakan sebagai pelengkap saja dan untuk latar belakang foto. Selanjut aku memboyong Sarinah menginap hotel berbintang 5.
Sarinah terlihat canggung sekali ketika kami sudah berada di kamar hotel. “Bang maaf ya, aku belum pernah pacaran jadi belum ngerti harus bagaimana kalau sudah berdua begini,” katanya sambil menunduk.
Aku peluk dirinya lalu kucium rambutnya. Dagunya aku angkat ke atas lalu kutempelkan bibirku ke bibirnya. Dia tidak bereaksi, tetapi terasa badannya seperti gemetar. Kuremas telapak tangannya terasa dingin dan berkeringat. Kutarik kedua tangannya agar memelukku. Badannya lemas lalu kupagut mulutnya. Nafasnya mulai mendengus-dengus melalui hidung.
Perlahan-lahan aku rebahkan ke tempat tidur dan kucium sambil menindih tubuhnya. Dari bibir pindah ke telinga lalu ke lehernya. Sari, demikian aku panggil dia, pasrah saja ketika bajunya aku lepas. Bhnya kubiarkan masih terpasang. Aku ciumi dadanya yang putih menggairahkan. Setelah bajunya giliran berikutnya adalah celana jeansnya aku pelorot dan kucampakkan.
Sari tinggal mengenakan CD dan BH lalu aku pun melepaskan seluruh pakaianku tinggal celana dalam saja. Kami bergelut dan aku menciumi seluruh tubuhnya. Setelah Sari demikian terangsang barulah aku buka BH nya dan buah dada yang lumayan montok yang selama ini tidak pernah terlihat karena pakaiannya selalu longgar, sungguh menggugah birahi. Kuciumi bergantian kedua pentilnya yang berwarna coklat muda dengan pentil yang masih kecil.
Nafsu birahi Sari makin tinggi dan tanpa disadarinya dia mulai mendesis ketika buah dadanya aku hisap dan aku gigit pelan. Setelah begitu tinggi birahinya barulah aku melepas celana dalamnya. Sari pasrah dan diam saja. Dia tidak protes, walaupun lampu kamar dalam keadaan menyala sehingga cahayanya terang benderang. Aku rabai kemaluannya terasa sudah mulai mengeluarkan pelumas.
Aku mainkan sebentar clitorisnya sampai dia benar-benar bernafsu dan vaginanya siap menerima penetrasi penis. Sari mengerang ketika clitorisnya aku gosok-gosok. Aku lihat dia sudah benar-benar siap, maka aku naik ke tubuhnnya dan membuka kedua kakinya.
Bulu kemaluannya lumayan lebat juga untuk gadis seusia 20 tahun. Aku arahkan ujung penisku ke gerbang kemaluannya lalu aku tekan perlahan-lahan. Agak sulit memang lalu aku tarik sedikit, tekan lagi hasilnya lebih banyak bisa masuk, aku lakukan demikian berkali-kali sampai akhirnya berhenti di penghalang segel keperawanan.
Sari mulanya merasa sakit, tetapi gerakan penisku yang sudah licin lama-lama tidak menimbulkan rasa sakit. Ketika aku sedikit paksa menekan selaput daranya, dia merasa sakit. Aku pentokin berkali-kali sampai Sari terbiasa, lalu tanpa dia duga aku tekan lebih keras, sehingga pecahlah penghalang itu dan penisku langsung terbenam. Setelah itu aku diam tidak bergerak sementara batang penisku memenuhi liang vaginanya.
Terasa Sari agak tegang setelah merasakan sakit ketika selaputnya tadi aku pecahkan. Aku memintanya rileks agar tidak menjadi lebih perih. Saranku diturutinya baru aku berani bergerak perlahan-lahan maju mundur. Sekitar 10 kali gerakan maju mundur, terasa mulai lancar dan licin. Namun rasa perih masih dirasakan.
Aku melanjutkan melakukan penetrasi sampai sekitar 10 menit aku tidak mampu lagi lebih lama sehingga lepaslah tembakan spermaku di dalam mulut rahimnya. Kelihatannya Sari tidak dapat mencapai ogasme, karena liang vaginanya masih sakit.
Aku cium lagi dia dengan perasaan kasih sayang. Sari menangis dengan melelehnya air mata di kedua ujung matanya. “Kenapa menangis,” tanyaku.
“Aku bahagia bang,” katanya.
Kami istrahat malam itu, dan aku tidak melakukan serangan tengah malam. Keesokan pagi setelah kami mandi badan segar dan turun sarapan pagi di coffe shop, kami kembali ke kamar dan terlibat percumbuan sampai kedua kami bugil.
Sari mulai tegang ketika aku mulai menempelkan kepala penisku ke lubang kemaluannya. Aku minta dia rileks. “ Takut bang, takut sakit,” katanya.
“Kalau tegang malah lebih sakit, coba nikmati saja, ini kan memang kodrat wanita, pada awal berhubungan selalu sakit, justru itu adalah kehormatan tertinggi sebagai wanita yang suci,” kataku.
Termakan juga bujukanku sehingga dia bisa bersikap lebih rileks. Aku relatif lebih mudah menjejalkan penisku memasuki gerbang kewanitaannya. Perlahan-lahan masuk sampai akhirnya terbenam seluruhnya. “ Gimana masih terasa sakit,” tanyaku.
“Sedikit masih ada bang,” katanya.
Setelah 5 menit aku maju mundurkan, dia mengaku tidak lagi terasa sakit. Sari malah mulai merintih merasakan kenikmatannya. Aku makin bersemangat memompa sambil terus menciumi dan meremas-remas buah dadanya yang sangat menggemaskan. Sekitar 15 menit Sari mendapatkan puncak kepuasannya. Inilah orgasme pertamanya melalui hubungan kelamin. Dia merintih panjang tanpa disadari ketika kenikmatan itu menyundut-nyundut.
Aku masih merasa segar dan rasanya untuk bermain lagi masih bisa berlaga cukup lama. Setelah dia tuntas, aku memainkan lagi gerakan maju mundur. Vaginanya terasa sangat ketat menjepit, apalagi setelah dia mendapat orgasme, rasanya vaginanya makin nikmat, Aku terus genjot sekitar 5 menit kemudian dia melenguh panjang dan ini membangkitkan birahiku lebih tinggi sehingga aku pun kemudian menyusul mencapai orgasme dan ejakulasi.
Kepuasan yang didapat seorang wanita menjadikan dia makin sayang sehingga Sari memelukku erat dan kami tidur berpelukan sampai terasa perut menuntut untuk diisi makan siang. Selepas makan siang di hotel, kami kembali lagi ke kamar.
Istri pertamaku sudah lama mengenal Sarinah, sehingga pergaulan mereka tidak ada rasa canggung. Bedanya sekarang mereka terikat dalam satu keluarga yang mempunyai suami sama. Aku salut melihat istri pertamaku, karena dia bisa ikhlas menerima madunya dalam kehidupan berumah tangga. Hal ini membuatku penasaran, bagaimana dia bisa menekan rasa cemburunya. Menurut Mama Chandra, seorang istri harus mengabdi sepenuh jiwanya kepada suami, rasa iri, dengki dan cemburu tidak ada gunanya, karena selain terlalu banyak menghabiskan energi, juga tidak akan menghasilkan apa-apa. “Bapak masih imam yang baik bagi keluarga kita,” katanya singkat
  
  
Sarinah juga cepat sekali menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga kami. Aku selalu kagum jika melihat mereka jalan berdua, baik itu pergi belanja atau mengurus sesuatu. Sejak Sarinah menjadi istriku, aku melakukan patungan usaha dengannya dengan membuka toko tekstil di luar pasar Tanah Abang. Dalam waktu tidak lebih dari 3 tahun Sarinah sudah memiliki 2 toko tekstil yang cukup besar.


Menyingkap Kehidupan Poligami 2

By Jks
Memiliki 2 istri yang rukun sehingga mereka seperti kakak-beradik menambah rasa bahagia bagiku. Jika orang melihat bahwa seorang pria yang memiliki 2 istri, hanya mengejar kepuasan sex. Kenyataannya yang aku rasakan tidak demikian. Aku berhubungan badan dengan istri-istriku tidak ada istilah giliran. Jika aku sedang menginginkan Chandra, maka dia akan paham, Begitu juga jika aku menginginkan Sari dia siap dan Chandra pun toleran. Sebaliknya aku bisa menangkap jika Chandra atau Sari sedang menginginkanku.
Perempuan adalah makhluk yang sangat unik mereka secara naluri memahami isyarat sekecil apa pun baik dari suami maupun dari istri yang lain. Perasaannya sangat tajam. Aku harus akui kadang-kadang aku tidak menangkap sinyal bahwa salah satu istriku sedang menginginkanku. Istriku yang lainlah yang malah mengingatkanku atas adanya “undangan”.
Sejujurnya aku tidak memikirkan untuk menambah istri lagi. Namun takdir berkata lain. Ketika aku dan keluarga besarku menikmati makan siang tradisonal khas Sunda di Serpong. Ada desiran di dadaku ketika melihat seorang wanita yang kelihatan sibuk di restoran itu. Mataku terus mengikuti gerak-geriknya, tentunya secara curi-curi. Nggak enaklah kalau sampai istri-istri tahu kenakalan mataku.
Aku sering melihat wanita cantik, karena banyak yang belanja di tokoku di Tanah Abang. Jadi, wanita cantik bukan hal yang aneh bagiku. Namun wanita yang repot ini kok membuat dadaku berdesir. Kenapa bisa begitu.
Setelah itu aku sering jalan sendiri ke Serpong hanya untuk makan, yang sebetulnya utamanya ingin bertemu dengan wanita yang membuatku berdesir itu. Setelah 3 kali akhirnya aku mendapat kesempatan berkenalan dengannya. Dia memperkenalkan namanya, Sabrina. Ternyata dialah pemilik restoran yang cukup maju ini.
Aku akui bahwa restoran ini terkelola dengan baik, makanannya enak, sajiannya cepat dan harganya tidak mencekik. Setelah 10 kali mungkin aku makan di restoran itu, membuat Sabrina makin mengenalku. Dia sering menemaniku makan dan kami ngobrol, dari mulai yang ringan-ringan sampai soal bisnis. Dia akhirnya tahu bahwa aku memiliki bisnis yang lumayan besar di bidang tekstil, lalu dia pun juga tahu juga bahwa aku memiliki 2 istri.
Wajahnya terlihat sinis ketika bertanya-tanya soal poligamiku. Aku tidak tersinggung dan bisa memaklumi jika dia bersikap seperti itu. Aku bukannya kapok disinisi. Hampir setiap minggu aku malah bersama dua istriku makan di restoran itu.
Saking seringnya ke situ, Sari mulai curiga, Dia langsung mengatakan bahwa aku naksir pemilik restoran itu. Aku sebetulnya tidak sadar kalau aku naksir. Sesungguhnya aku merasa damai sekali jika melihat wajah Sabrina. Hanya itu saja yang aku kejar. Memikirkan melamar Sabrina untuk istri ketiga, sama sekali tidak. Aku tidak percaya dirilah, wanita secantik dan se pintar Sabrina mau dilamar menjadi istri ketiga, aku gak ketemu rumusnya, alias gak masuk akal.
Setelah itu diam-diam Sarinah dan Chandra malah sering datang ke restoran Sabrina, tanpa sepengetahuanku. Saat lain setelah itu ketika aku bertiga makan di restoran Sabrina, kedua istriku malah kelihatan akrab sekali dengan Sabrina. Mereka rupanya punya bisnis. Chandra mendisain baju seragam pelayan di situ yang katanya ada sekitar 25 orang. Selain itu berbagai kelengkapan restoran yang ada unsur tekstilnya di kerjakan oleh Chandra.
Suatu hari ketika kami santai ngopi sore di rumah, Chandra dan Sari buka pembicaraan. Intinya mereka menanyakan apakah aku mau mempersunting Sabrina. Bagai petir menyambar kepalaku rasanya, karena terkejutnya. Aku sempat terdiam, karena tidak tahu harus ngomong apa.
“Saya dan mbak Chandra melihat, Sarbrina sangat cocok dengan Bapak,” kata Sarinah.
“Kalau saya mau, apa dia mau,” tanya saya dengan rasa ragu.
“ Kalau Bapak memang naksir, kami akan urus selanjutnya,” kata Chandra..
“Kalau menurut kalian baik, saya ikut,” kataku pasrah. Namun tidak bisa dipungkiri, hatiku senang sekali seandainya Sabrina mau menjadi istriku.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh kedua istriku “mengolah” Sabrina sehingga suatu waktu aku bisa bertemu di rumahku. Kami ngobrol sebentar. Dalam pertemuan itu aku tidak melakukan aksi tebar pesona. Aku bertindak wajar-wajar saja.
Setelah itu aku sering melihat Sabrina berada di rumahku, entah apa urusannya dengan istri-istriku. Dari sering muncul di rumahku, kemudian diikuti dengan dia menginap beberapa kali. Aku sama sekali tidak mengubah ritme hidupku meskipun ada tamu “agung” di rumahku.
Seingatku lebih dari setengah tahun setelah istri-istriku akrab dengan Sabrina aku diundang untuk pertemuan khusus oleh Mama Chandra. Dalam pertemuan khusus yang dilakukan di rumahku selain hadir kedua istriku, juga tampak Sabrina.
Mama Chandra buka bicara, bahwa pertemuan itu adalah membahas rencana melamar Sabrina. Aku tidak menyangka pertemuan ini membicarakan masalah perkawinanku dengan Sabrina yang akan menjadi istri ketiga. Dalam hati aku mengagumi hasil kerja kedua istriku untuk menundukkan Sabrina.
Aku tahu bahwa Sabrina bukan perempuan sembarangan yang mudah ditundukkan. Dia cantik, punya penghasilan besar, sangat mandiri, berpendidikan S-2 di Singapura bidang management restaurant. Ibarat kata, jika dia mau memikat lelaki-lelaki muda atau profesional muda, tidak lebih sulit dari membalikkan telapak tangan.
Dalam kesempatan itu aku tegaskan, apakah benar Sabrina siap aku lamar untuk menjadi istriku yang ketiga. Apakah sudah dipertimbangkan berbagai hal, karena ini adalah pilihan seumur hidup.
Sabrina mengatakan pada awalnya memang tidak mudah memikirkan dan menerima menjadi sosok wanita istri ketiga. Namun katanya, hakekat wanita berumah tangga adalah, Sakinah, Mawadah dan Warohmah. Melihat dua istriku yang menjadi teman akrabnya, kata Sabrina mereka sudah mampu mencapai Sakinah, Mawadah, Warohmah. Saya tahu bahwa di luar sana banyak lelaki lajang yang ganteng, kaya, tetapi mereka tidak memiliki garansi ketiga sifat itu. Sementara saya melihat dengan mata sendiri bukti terwujudnya ketiga tujuan perkawinan dalam diri Mama Chandra dan Mama Sari.
Saya tidak menyangka bahwa Sabrina menelaah kehidupan istri-istri saya sampai sejauh itu.
“Kalau boleh saya berterus terang, ketika pikiran saya ruwet, stress dan cemas, maka ketika berada di sini saya merasakan kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Nyaman sekali pergaulan di rumah ini..
Di usiaku ke 37 aku melamar Sabrina menjadi istriku yang ketiga. Perayaan kebahagiaan dilaksanakan secara sederhana di rumahku dan hanya mengundang keluarga besar saja. Sabrina kelihatan cantik sekali saat bersanding denganku. Dia memang wanita yang cantik. Di usia 27 tahun sikap Sabrina sudah terlihat benar-benar dewasa. Lingkungan dia mengelola restoran itulah yang membentuk dia menjadi wanita yang tegas mandiri dan ramah.
Sabrina memilih malam pertama escape dari Jakarta. Dia memilih Bali sebagai tempat berlibur menikmati malam pertama. Kami berdua saja terbang ke Bali untuk liburan 3 hari 2 malam. Sabrina sudah memilih hotel di Nusa Dua.
Kami tiba di Bali sekitar pukul 7 malam, dalam perjalanan ke hotel, Sabrina minta supir taxi menunjukkan restoran sea food yang terkenal di Jimbaran. Kami berdua makan di tepi pantai sambil menikmati pemandangan Bandara Ngurah Rai dari seberang teluk. Sabrina berkeliling restoran sambil ngobrol dengan para waiter lalu bertemu managernya.
Sampai pesanan sudah terhidang, Sabrina belum kelihatan, kata waiter dia sedang ngobrol sama manager restaurant. Dia muncul bersama waiter. Rupanya dia sedang melakukan study banding. Sabrina bercerita bahwa dia diajak keliling melihat fasilitas restaurant sampai ke kitchen.
Sebelumnya aku ingin bercerita bahwa setelah memiliki 2 istri, aku berusaha memperdalam pengetahuan mengenai sex. Tidak hanya membaca, tetapi sampai mengikuti seminar yang dibawakan oleh para ahlinya.
Aku berpendapat, sex bukan hanya pelampiasan nafsu dan mengikuti naluri. Jika hanya itu, manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Sex juga mengandung seni karena banyak keindahan akan didapat, memerlukan ketrampilan karena ada trik-trik khusus dan ada masalah kejiwaan yang perlu diketahui.
Sabrina kelihatannya sudah sangat siap menghadapi malam pertama. Dia langsung membersihkan diri di kamar mandi lalu keluar dengan kimono putih yang disediakan hotel. Aku juga membersihkan diri dan keluar memakai kimono putih.
Aku dipeluknya dan ditarik berbaring di tempat tidur king size. Sabrina menindih tubuhku dan mencium bibirku dengan ganas. Aku melepas tali yang mengikat kimono. Di balik kimono dia tidak mengenakan apa-apa lagi. Sabrina pun melepas kimonoku dan aku pun memang tidak mengenakan apa-apa di dalam.
Kami berdua akhirnya bugil dan malam itu kami mereguk kenikmatan berdua. Sabrina meski sudah cukup dewasa tetapi masih mampu menjaga kesuciannya. Malam itu aku memperlakukan Sabrina sebagai ratu yang dimanja dan disayang. Cumbuan aku mulai dengan penuh kelembutan dengan mulai mencium bibirnya. Kami berpelukan dalam keadaan bugil di bawah selimut.
Tubuhnya mulus, kulit putih bersih khas gadis Sunda. Tingginya hampir 170. Bagi wanita dengan tinggi segitu kelihatan jangkung. Aku menyukai potongan tubuhnya dengan pinggul dan bokong yang besar, karena itu menjadikan pinggangnya kelihatan ramping. Buah dadanya proporsional dengan tubuhnya yang jangkung. Ukurannya tidak terlalu besar, tetapi saat tanganku meremas, rasanya lebih besar dari tapak tangan.
Aku melumat kedua putingnya kiri dan kanan. Sabrina mendesis nikmat, sementara itu tanganku memainkan gundukan kemaluannya. Tanganku merasa bulu kemaluannya masih jarang. Aku jadi penasaran ingin melihat bentuk kemaluan dewasa tetapi memiliki bulu yang masih sedikit.
Aku telusuri ke bawah, ke perut lalu turun terus menjilati sekitar pusar. Sabrina menggeliat-geliat karena geli katanya. Aku telusuri terus ke bawah. Ketika mulutku mencapai gundukan kemaluannya, Sabrina terkejut dan berusaha menarik kepalaku ke atas. Dia mengatakan malu kemaluannya dilihat. Namun aku tetap bertahan bahkan lidahku sudah mencapai belahan. Mungkin sensasi yang ditimbulkan memberi rangsangan sehingga meskipun tangannya berusaha menarik kepalaku, dan tidak sepenuh tenaga, tetapi dia mengerang.
Sambil tetap menjilati belahan kemaluannya aku berpindah posisi menempatkan tubuhku di antara kedua kakinya. Sabrinya masih berusaha merapatkan kedua pahanya. Aku berusaha melebarkan kedua pahanya. Terasa masih agak ditahan, meskipun makin lama makin mengangkang.
Setelah tempatnya agak leluasa aku mulai membuka lebar belahan kemaluannya dengan kedua tanganku, terlihat berwarna merah dan ada gelambir kecil di kedua sisinya. Diatas ujung lipatan terlihat tonjolan kecil. Aku langsung mengarahkan lidahku ke tonjolan itu, akibatnya Sabrina mengerang sambil menggeliat .Kedua tangannya masih memegang kepalaku, tetapi sekarang menjambak rambutku dan menekan agar kepalaku lebih menekan ke arah kemaluannya.
Aku fokuskan lidahku ke clitorisnya. Sabrina terus menggeliat-geliat sambil mengerang. Makin cepat gerakan lidahku maka dia pun makin cepat menggerakkan pinggulnya sampai akhirnya dia berteriak panjang dan sekujur permukaan kemaluannya berdenyut-denyut. Aku menekan mulutku ke permukaan kemaluannya dan lidahku menekan tonjolan clitorisnya. Sekitar 6 denyutan yang makin lama makin melemah akhirnya tuntaslah orgasme clitorisnya.
Akibat orgasme itu kemaluannya makin banyak cairan, campuran antara cairan pelumas vagina dengan cairan yang keluar sebagai akibat orgasme. Pada moment itulah aku rasa paling tepat untuk menjebol selaput kegadisannya.
Aku mengambil posisi berlutut diatas tubuhnya dan mengarahkan kepala penisku ke pintu masuk vaginanya. Aku harus tetap memegang penisku sambil mendorong masuk, karena khawatir akan meleset. Setelah kepala penis masuk, Sabrina mengeluh rasa perih.
Untuk membuyarkan kosentrasi Sabrina ke kemaluannya aku mencium bibirnya dengan melumat dan memainkan lidahnya masuk ke dalam mulutnya. Ciumanku itu ditanggapi dengan juga memainkan lidahnya. Pada kesempatan itu aku menekan penisku agar masuk lebih dalam. Agak susah mengira-kira sudah sedalam apa penisku masuk. Aku meraba batang penisku dan terasa belum ada separuh yang berhasil aku benamkan.
Sampai ke halangan selaput daranya, rasa sakit mungkin dirasakan meningkat sehingga didalam kuluman mulutku dia menggerang menahan sakit. Aku berhenti sebentar lalu dengan gerakan agak kuat aku tekan penisku sehingga jebollah pertahanan segel di dalam kemaluannya. Sabrina menjerit lirih dan melepaskan mulutnya dari sergapan mulutku.
Rasa perih karena luka yang ditimbulkan dari robeknya selaput dara itu mengakibatkan matanya berkaca-kaca. Aku bertahan pada posisi penisku yang kutaksir panjangnya sekitar 16 cm berada di dalam liang kemaluannya. Setelah situasi stabil dan tidak ada keluhan sakit lagi, pelan-pelan kutarik sampai hanya tinggal kepala saja yang masih terbenam. Gerakan lambat itu diikuti oleh kernyitan dahi Sabrina menahan rasa sakitnya. Ketika aku dorong lagi dia mengernyit kembali.
Setelah sekitar 5 kali gerakan maju mundur, kelihatannya dia tidak merasa sakit. Aku pun merasakan liang vaginanya sudah semakin licin, walaupun jepitannya masih sangat kuat. Sabrina sudah melupakan rasa perih bekas luka di liang vaginanya, dia sudah merintih-rintih nikmat. Aku melakukan gerakan bersetubuh dengan sangat hati-hati sambil mencari posisi yang memberi kenikmatan maksimal bagi Sabrina. Sementara itu aku tetap melakukan olah nafas untuk menahan diriku tidak terlalu cepat ejakulasi. Sejauh ini aku masih bisa menahannya.
Aku melakukan persetubuhan dengan istriku yang ketiga dengan mentransfer sugesti yang menyebabkan dia merasa nyaman, nikmat dan merasakan limpahan kasih sayang. Aku bisa merasakan sugesti itu diterimanya karena kedua tangan Sabrina merangkul leherku erat sekali sambil mukaku dia ciumi. Sekitar 10 menit aku melakukan gerakan di dalam liang vaginanya, Sabrina mendapat orgasme yang kelihatannya luar biasa. Dia mengerang hebat dan tubuhnya kaku. Aku bisa merasakan semburan cairan hangat ke batang penisku. Untuk lebih bisa dinikmati aku menghentikan gerakan dan membenamkan penisku sedalam-dalamnya. Rasanya penisku seperti dipijat oleh liang vaginanya dengan denyutan orgasme.
Setelah dia mencapai orgasme dan mengakihirinya aku cium dengan mesra. Secara psikologis ciuman setelah perempuan mencapai orgasme memberikan rasa bahwa pasangannya sangat menyayanginya. Itulah kemudian yang dia ucapkan setelah mulutnya lepas dari berciuman. “Aku sayang bapak,” katanya.
Malam itu kami hanya melakukan persetubuhan sekali, karena bekas luka di dalam vaginanya masih terasa agak perih. Dia mengeluh rasa perih ketika cebok dan kencing. Pada malam kedua aku baru berani kembali memacu birahinya dan malam itu kami melakukan permainan 3 ronde dengan masing-masing ronde pertama dan kedua pada malam hari dan yang kedua setelah waktu subuh. Aku berusaha hanya ejakulasi sekali saja, agar tubuhku tetap fit.
Wanita di usia antara 25 – 30 tahun adalah puncak kematangan seksualnya. Pada masa itu perempuan melakukan permainan sex yang terbaik dan mereka juga mampu menikmati permainan hubungan sex.
Sekembali ke rumah, Sabrina disambut oleh kedua istriku yang lain, Chandra dan Sarinah. Mereka menyebut Sabrina sudah resmi menjadi anggota keluarga besar Argo. Dari gerak-geriknya aku bisa menangkap bahwa Chandra malam ini ingin berhubungan intim. Memang itu tidak diucapkan, tetapi bahasa tubuhnya aku sudah bisa menangkapnya. Aku memenuhi keinginan istri pertamaku dengan permainan yang tidak kalah panasnya dengan permainanku dengan Sabrina. Namun malam itu aku tetap bertahan tidak ejakulasi. Oleh karena itu dalam semalam aku mampu melayani permainannya 3 ronde yang kuduga Chandra mendapat 4 kali orgasme.
Keesokan harinya Chandra kelihatan segar. Dia telah melakukan mandi junub sebelum waktu subuh, sehingga setelah fajar, tidak terlihat rambutnya basah. Namun sinar di wajahnya menunjukkan keceriaan. Jika wanita dipuaskan hasrat sexnya, mereka bagaikan HP sehabis di cas. Energinya maksimal dan kecerdasannya menonjol, serta bersikap lebih sabar. Wah kalau sebaliknya mereka tidak mendapat kepuasan di tempat tidur, keesokan harinya akan uring-uringan, bawel, dan sering muncul sikap dengkinya.
Malam berikutnya aku tidak menangkap sinyal dari Sarinah. Ternyata dia sedang mendapat tamu bulanan. Aku malam itu istirahat. Meskipun begitu aku tidak pernah tidur sendiri. Sarinah malam itu mendampingi aku istirahat.


Menyingkap Kehidupan Poligami 3

By Jks
Setahun aku sudah menikmati punya 3 istri. Tidak ada rasa yang memberatkan, semuanya aku jalani seperti biasa. Bedanya hanya aku memiliki 3 wanita yang melayaniku. Kehidupan semakin baik, karena rezeki juga semakin berlimpah. Industri garmen yang dipegang Chandra sudah berkembang menjadi 2 pabrik. Penjualan tekstil yang dikomandoi Sarinah sudah berkembang dengan banyak toko di mall-mall. Usaha rumah makan juga sudah tidak hanya masakan Sunda, tetapi sudah ada restoran lain yang khusus seafood dan satu unit lagi khusus melayani catering. Itu pun terbagi catering untuk pesta-pesta dan catering untuk makan siang kantor-kantor.
Aku tidak lagi sibuk duduk sepanjang hari di dalam toko seperti waktu aku masih muda dulu. Semuanya sudah dijalankan oleh tenaga profesional hasil pengkaderanku. Mereka adalah pegawai-pegawai yang punya dedikasi tinggi.
Istri-istriku juga tidak setiap hari mengunjungi tempat usahanya. Semua kegiatannya bisa dimonitor secara real time. Itulah berkahnya internet. Aku dan istri-istriku lebih fokus pada pengembangan usaha, sehingga tidak terlibat pada masalah-masalah rutin.
Suatu hari aku mendapat telepon dari salah satu costumerku yang sudah puluhan tahun berlangganan mengambil dagangan dari toko-tokoku. Pak Ahmadi, pedagang besar tekstil di Gorontalo mengundangku berkunjung ke kotanya. Dia memang sering ke Jakarta dan akhir-akhir ini dia selalu memilih menginap di rumahku. Menurut dia situasi di rumahku bikin orang kerasan. Aku tidak tahu, apakah karena suasana keakraban yang terbangun di rumah ini atau karena sajian makanan yang enak-enak. Kata Pak Ahmadi semuanya enak.
Dia memang berkali-kali mengajakku berkunjung ke kotanya. Undangan kali ini tidak bisa kutolak karena dia mengundang dalam rangka pernikahan anak perempuannya yang paling besar. Aku pikir tidak baik juga kalau ditolak terus.
Sesungguhnya aku mengajak semua istriku, namun yang bisa berangkat hanya Chandra dan Sarinah. Jadinya kami bertigalah yang berangkat ke Gorontalo. Sesampai di airport aku sudah dijemput langsung oleh Pak Ahmadi, dia minta maaf tidak bisa memberi penginapan di rumahnya karena semua ruangan dipakai untuk persiapan perkawinan. Dia sudah menyiapkan kamar hotel terbaik di kota itu. Kami langsung menuju hotel.
Sebuah kamar suite, mungkin juga itu adalah kamar terbaik di hotel itu, tetapi yang disiapkan hanya 1 kamar. Dia minta maaf karena semua kamar habis terpakai, berhubung kedatanganku bersamaan dengan ada acara Presiden di kota itu, sehingga semua hotel penuh. Aku tidak mempermasalahkan, karena tidur dengan dua wanita toh semua adalah istriku.
Entah mengapa, malam pertama di Gorontalo itu libidoku sangat kuat. Apakah akibat aku terlalu banyak makan berbagai ikan bakar yang dijamu Pak Ahmadi tadi siang. Atau karena dia memberiku ramuan Sanrego, yang katanya tumbuh-tumbuhan khas Sulawesi yang ampuh meningkatkan daya tahan tubuh dan anti masuk angin.
Malam itu aku tidak bisa menahan gejolak nafsuku. Aku tidur di tengah, di kiriku Sarinah dan di kananku Chandra. Kedua-duanya kebetulan sedang ok, tidak sedang kedatangan tamu bulanan. Aku agak bingung juga, mau menggarap siapa dulu. Kalau aku garap yang A bagaimana dengan yang B.
Kedua istriku malam itu hanya mengenakan daster saja tanpa bh di dalamnya, kalau CD, kayaknya sih dipakai. Aku melihat kedua istriku juga gelisah. Penginderaanku, mereka juga sedang birahi. Tadi sore mereka ikut mencicipi ramuan Sanrego dan juga makan ikan bakar cukup banyak.
Ketika waktu tidur dan lampu sudah digelapkan sama sekali, sehingga aku tidak bisa membedakan antara membuka mata dan menutup mata. Kutarik kedua kepala istriku ke dadaku, Mereka menuruti tanpa aku memaksa. Aku cium kening mereka bergantian. Merasa aku mulai mencumbu Chandra mencari bibirku lalu dia menciumiku cukup lama juga. Setelah lepas dari Chandra aku tidak enak terhadap Sarinah sehingga aku menarik Sarinah untuk aku cium bibirnya.
Saat aku mencium Sarinah, Chandra meremas-remas senjataku yang berada di balik celana dalam dan masih terbungkus sarung pula. Dia nafsunya mungkin makin tinggi sehingga perlahan-lahan dia turun dan melepas semua sarung dan celana dalamku. Penisku langsung dioralnya. Aku mendengar dengusan nafasnya yang sudah terbakar birahi.
Sementara penisku sedang digarap Chandra, aku membuka daster dan celana dalamnya. Dalam posisi telentang kutarik Sarinah agar mendekatkan buah dadanya ke mulutku. Aku menghisap putingnya bergantian kiri dan kanan. Nafsu Sarinah juga sudah naik tinggi. Puas dengan kedua buah dadanya yang montok, aku ingin mengoralnya. Dia kubimbing agar melangkahi bagian atasku dan mengarahkan kemaluannya ke mulutku. Sarinah tanggap apa yang kuinginkan. Bantalku ditambah sehingga posisi kepalaku agak tinggi. Dia bersimpuh mengangkangiku membelakangi Chandra.
Di bawah sana aku merasa Chandra sudah menenggelamkan penisku ke dalam kemaluannya. Dia sudah syur sendiri bergerak naik turun, kadang kadang pinggulnya diputar-putar, sambil mendesis-desis. Sedangkan Sarinah juga tidak sadar mendesis saat clitorisnya aku oral dengan lidahku. Desisan dari dua wanita yang sedang memacu kenikmatan. Tidak lama kemudian terdengar teriakan lirih pertanda orgasme dari Chandra yang tidak lama kemudian jeritan panjang dari Sarinah yang menyemburkan cairan sehingga membasahi mukaku.
Kedua istriku mendapat orgasme hampir bersamaan dengan cara yang berbeda. Mereka kembali ke posisi semula berbaring di sampingku dalam keadaan masih bugil. Aku merasa permainan tadi kurang tuntas, maka aku memilih menindih Sarinah untuk aku setubuhi. Sarinah cepat memahami kehendakku dia langsung memberi tempat di antara kedua kakinya. Aku menancapkan penisku ke dalam kemaluannya dan langsung bergerak naik turun. Aku merasa kekerasan penisku berbeda dengan sebelumnya. Sarinah rupanya juga merasakan perbedaan itu. Dia menarik kepalaku sambil berbisik dengan mengatakan bahwa penisku terasa keras sekali dan rasanya lubang kewanitaannya sesak.
Itulah yang membuat dia cepat mendaki tingkat mencapai kepuasan, karena aku bermain tidak terlalu lama dia sudah buru-buru menguncupku lalu berteriak di dalam mulutku. Aku merasa di bawah sana, denyutan orgasme di kemaluannya. “Pak udahan ya aku lemas,” bisiknya.
Padahal aku masih jauh dari garis finish. Aku berpindah ke tubuh Chandra yang juga terbujur bugil dan ternyata belum tidur juga. Merasa aku menindihnya dia langsung merenggangkan kakinya dan menangkap penisku diarahkan memasuki lubang kenikmatannya. Tak susah penisku langsung terbenam dan aku langsung full speed. Chandra pun tidak mampu bertahan lama, karena dia sudah merintih lalu berteriak lirih bersamaan dengan puncak kepuasannya.
Aku merasa aneh karena aku sama sekali tidak berusaha mengendalikan ejakulasiku, tetapi sejauh ini aku masih belum berejakulasi. Setelah Chandra tuntas merasakan orgasmenya aku genjot kembali dan aku rasa gelombang orgasmeku sudah mulai bangkit. Namun baru saja ingin konsentrasi untuk kepuasanku Chandra sudah menarik pinggulku kuat-kuat lalu dia merintih panjang dengan pencapaian orgasmenya.
Usai mencapai orgasme dia membisikkan bahwa dia minta aku menyudahi karena badannya terasa sangat lelah. Aku turuti kemauannya dan bangkit meninggalkan tubuhnya aku kembali ke tubuh Sarinah yang dalam keadaan telentang dan kelihatannya dia sudah tertidur. Berhubung kepalaku sudah seperti keluar tanduk, aku tidak peduli sehingga kembali dia aku gauli. Ketika penisku masuk ke vaginanya Sarinah terbangun. Aku genjot terus, tak lama Sarinah mendesis lagi nikmat. Aku makin meningkat rasa nikmatku sehingga aku berkonsentrasi untuk mendapatkan ejakulasi. Rintihan Sarinah membuat nafsuku tambah tinggi dan memacuku akhirnya ejakulasi di dalam kemaluannya, Bersamaan dengan itu Sarinah mencapai kesempurnaan hubungan sex dan penisku serasa dipijat-pijatnya.
Kami bertiga akhirnya jatuh terlelap sampai menjelang subuh. Aku heran juga jam 3 pagi aku terbangun, penisku ikut bangun juga. Tidak biasanya begini, jika malamnya habis diservice, paginya malas bangun, tapi kali ini beda.
Aku cari sarung lalu kukenakan dan masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil sekaligus membersihkan sisa pertempuran tadi malam. Tidak lama kemudian masuk Chandra mengenakan kimono hotel yang berwarna putih. Dia buka semuanya lalu pipis dan membersihkan sisa-sisa cairan tubuhnya hasil pertempuran. Ketika aku masih gosok gigi dan Chandra berdiri di bak untuk berendam membersihkan kemaluannya, muncul pula si Sarinah yang tergopoh-gopoh sambil berkemban handuk. Dia langsung lepas handuknya dan duduk di closet melepas air kencing yang tertahan. Terdengar pancaran air seninya cukup lama.
Kami bertiga bugil di kamar mandi yang terang benderang. Ini adalah peristiwa pertama dua istriku bugil di depanku. Mulanya mereka merasa rikuh, Aku berusaha mencairkan suasana lalu kutarik tubuh Sarinah ikut masuk ke bak bersama Chandra yang sedang menyirami tubuhnya. Mereka aku rangkul berdua lalu keduanya aku ciumi bergantian. Akhirnya mereka bermanja-manja denganku dan buntut-buntutnya gairah kami bangkit lagi. Dari sekedar berciuman, berlanjut saling meremas dan memainkan bagian-bagian vital.
Permainan kami lanjutkan di kamar yang ternyata sudah terang. Tanpa perlu meredupkan, kami bergulat. Sarinah dan Chandra masing-masing berbagi kapling sampai akhirnya aku menyetubuhi mereka berdua bergantian dengan giliran istri tua dulu baru istri kedua. Keduanya berhasil merengkuh kepuasan, tetapi aku tidak bisa. Aku pikir ini ada baiknya, karena siang harinya kami akan menghadiri acara resepsi perkawinan anak Pak Ahmad.
Kami bertiga mandi junub sebelum masuk waktu subuh. Setelah itu sempat istirahat sebentar lalu kami turun untuk sarapan pagi. Masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum kami dijemput untuk menghadiri acara perkawinan putri Pak Ahmadi.
Pesta perkawinan cukup meriah, ornamen pesta juga warna warni berbeda dengan yang kami lihat di pesta perkawinan di Jakarta.
Malam kedua kami dijamu lagi dengan berbagai ikan bakar dan masakan khas Gorontalo. Pak Ahmadi yang duduk di sampingku berbisik bertanya kepadaku. “Gimana pak reaksi Sanrego.” Aku hanya senyum, baru aku sadar, ternyata libidoku naik itu akibat ramuan Sanrego. Aku tanyakan ke Pak Ahmadi, apakah ramuan itu manjur juga untuk perempuan. Pak Ahmadi hanya mengangkat jempo. Oh pantas istri-istriku tadi malam juga sangat bergairah.
Di jamuan malam ini ada lagi ramuan sanrego itu. Aku tenggak langsung habis. Istri-istriku juga menyukai ramuan itu karena diberitahu untuk meningkatkan kesegaran tubuh. Malam itu, kami bermain threesome tanpa harus menggelap-gelapkan lampu kamar. Kami bergulat sekitar 3 jam sampai istri-istriku kewalahan menghadapi nafsuku yang seperti kuda. Namun aku bisa menghemat energi karena mampu menahan ejakulasi.
Hari ketiga kami belum pulang karena masih ingin menikmati wisata di sekitar Gorontalo. Kunjungan pertama dan yang paling penting adalah meninjau tempat usaha pak Ahmadi. Di tokonya penuh dengan tekstil produksi kami di Jakarta. Tokonya termasuk paling besar dan paling ramai di deretan toko-toko lainnya.
Pak Ahmadi memanggil salah seorang pegawai perempuan. Dia memperkenalkan kepadaku dan istri-istriku. Anaknya mengenakan hijab, dari wajahnya dia masih remaja, ayu. Walaupun baju yang dipakainya longgar, tetapi tidak bisa menyembunyikan tonjolan buah dadanya. Aku menduga ukuran buah dadanya agak di atas rata-rata anak se usianya.
Setelah bersalaman anak itu berlalu. Pak Ahmadi lalu bercerita mengenai anak itu. Menurut Pak Ahmadi, Atika, nama anak itu nasibnya sungguh memprihatinkan. Dia adalah anak sulung dari 3 bersaudara dari keluarga yang miskin. Namun prestasi belajar Atika luar biasa, Dia juara pertama di tingkat propinsi Gorontalo, namun karena orang tuanya tidak mampu akhirnya tidak bisa meneruskan ke perguruan tinggi.
Hatiku berdesir ketika berkenalan dengan Atika tadi, tetapi aku sembunyikan dari semua orang. Pak Ahmadi menanyakan kepadaku jika aku punya keleluasaan untuk membantu menyekolahkan anak itu. Menurut Pak Ahmadi, Atika tidak cocok kuliah di Gorontalo, yang cocok adalah di Jakarta, mengingat otaknya sangat cerdas. Aku dan kedua istriku liat-liatan.
“Aku setuju Pak dia kita bantu,” kata Chandra.
“Kalau aku pikir bukan hanya dibantu, kalau memungkinkan biarlah Atika menjadi istri Bapak,” kata Sarinah.
Aku tak menduga seterus terang itu Sarinah berucap. Pah Ahmadi sampai terkejut, karena yang menyarankan aku mengawini Atika justru istriku sendiri.
“Saya pikir itu yang terbaik, Pak. Itu untuk menghindarkan fitnah juga,” kata Pak Ahmadi yang malah mendukung gagasan Sarinah.
Ternyata Chandra juga mendukung karena dia mengatakan bahwa masalah ini perlu dibicarakan lebih serius sebelum kembali ke Jakarta. Dia menyarankan Pak Ahmadi mengantar kedua istriku mengunjungi kediaman orang tua Atika.
Atika kemudian dipanggil lagi oleh pak Ahmadi, kami lalu diajak ke sebuah restoran di dekat situ. Pak Ahmadi menanyakan apakah Atika mau meneruskan ke Perguruan Tinggi di Jakarta. Mendengar itu terpancar wajah senang dari Atika yang lalu menyambutnya dengan anggukan tanpa ragu.
Pak Ahmadi menggiring Atika dengan menyebutkan bahwa selama di Jakarta akan tinggal di rumahku bersama istri-istriku. Pak Ahmadi terus terang mengungkapkan bahwa aku memiliki 3 istri. Atika menyatakan tidak keberatan, malah senang sekali.
Pak Ahmadi lalu mengingatkan bahwa di rumahku belum ada anak yang se usia Atika, anak-anakku katanya masih kecil-kecil. Untuk menghindarkan fitnah, Pak Ahmadi lalu berterus terang menanyakan kesediaan Atika dipersunting olehku menjadi istri ke empat.
“Semua ini bukan hanya baik untuk Atika sendiri, tetapi juga untuk keluarga Atika, karena sebagai istri Pak Ahmadi, Atika bisa memberi bantuan maksimal kepada orang tua di kampung, adik kamu tahun depan lulus SMA juga kan,” kata pak Ahmadi.
Atika sempat terkesiap dan wajahnya jadi merah. Aku tidak tahu dia terkejut, malu atau benci dengan ucapan pak Ahmadi. “Saya tidak bisa putuskan, saya serahkan putusan kepada abah dan umi,” kata Atika yang berlinangan air mata.
Akhirnya Atika diberitahu bahwa Bu Chandra dan Bu Sarinah akan diantar berkunjung ke rumah Atika untuk bersilaturahmi langsung dengan kedua orang tua Atika. Sore itu sekitar pukul 4 kedua istriku diantar Pak Ahmadi berkunjung ke rumah Atika.
Menurut cerita istri-istriku, keadaan rumahnya sangat memprihatinkan, tetapi keluarga itu berusaha menyambut tamu dari Jakarta dengan se baik-baiknya. Atika yang sudah pulang terlebih dahulu sudah menceritakan bahwa akan ada kunjungan yang intinya melamar dirinya untuk menjadi istri keempat.
Kunjungan kedua istriku dan Pak Ahmadi yang rupanya disegani oleh kedua orang tua Atika, sehingga disambut positif. Apalagi yang muncul melamar adalah dua istriku. Itu kata ayah Atika menandakan keikhlasan dari istri-istri terdahulu. “Atika sebetulnya sudah bercerita dan dia menyerahkan keputusan kepada kami orang tuanya, karena katanya dia bingung. Namun yang akan menjalani kehidupan sebenarnya adalah Atika, sehingga itu terserah kepada Atika sendiri. Pada prinsipnya kami orang tuanya tidak keberatan, karena perbuatan ini tidak melanggar aturan agama,”katanya.
Atika yang selama pembicaraan ini bersembunyi di dalam, kemudian dipanggil keluar. Ayahnya menceritakan apa yang dibicarakan barusan dan menegaskan bahwa pada prinsipnya keputusan diserahkan kepada Atika sendiri. Kedua orang tuanya menyatakan tidak keberatan.
Di desak oleh pertanyaan itu, akhirnya Atika sambil menunduk dan berlinangan air mata mengatakan, “Kalau Abah dan Umi tidak keberatan, saya mengabdi kepada orang tua ikut saja apa keputusan orang tua,”katanya.
Semua merasa lega karena keinginan yang sesungguhnya muncul mendadak ini bisa diterima dengan baik oleh semua pihak.
Ketika istri-istriku kembali bersama Pak Ahmadi menemuiku yang menunggu di Hotel mereka melaporkan hasil kunjungannya. Aku merasa perlu juga berkenalan dengan orang tua Atika, sehingga aku mengundang keluarga besar itu untuk makan malam. Pak Ahmadi setuju dan dia langsung menelepon Atika menjelaskan soal undanganku. Tidak lama kemudian dibalas melalui sms bahwa mereka menerima undanganku.
Malam itu aku memesan meja panjang di restoran hotel untuk menampung sekitar 20 orang. Sekitar jam 8 malam keluarga Atika muncul. Mereka berombongan dijemput mobil pak Ahmadi ada 6 orang. Satu orang lagi adalah abang tertua ibu Atika.
Kami berkenalan dan berakhir dengan keakraban, dan godaan-godaan yang ditujukan ke Atika dilontarkan oleh Pak Ahmadi juga kedua orang tuanya.
Sepulang dari Gorontalo Sabrina segera dikabari bahwa akan melamar seorang istri lagi oleh Chandra dan Sarinah. Sabrina bisa mengerti dan bisa menerima. Meskipun dia baru menikah denganku setahun yang lalu.
Sebulan kemudian kami mendapat kabar bahwa keluarga besar Atika sudah siap berangkat ke Jakarta untuk silaturahmi. Aku memang menawarkan kesempatan kepada keluarga Atika jika ingin berkunjung ke Jakarta akan aku biayai.
Mereka berombongan 6 orang, selain Atika dan kedua orang tuanya juga 2 adiknya dan Pak Ahmadi. Karena rumahku memiliki banyak kamar dan bisa menampung mereka semua maka mereka menginap di rumahku. Mereka berada di Jakarta selama 3 hari. Aku mengajak keluarga Atika berkeliling Jakarta menikmati beberapa tempat. Kunjungan ke Jakarta adalah yang pertama kali bagi mereka.
Selama di Jakarta kami merembugkan rencana pernikahan yang kelak akan diselenggarakan di Gorontalo. Usulanku untuk acara yang sederhana saja mereka setujui dan aku berjanji membiayai semua keperluan untuk upacara itu, jadi dari pihak orang tua Atika tidak perlu memikirkan harus mencari biaya.
Pada hari yang telah kami sepakati, aku dan semua istriku berangkat ke Gorontalo. Hotel sudah dibook 2 kamar, yang peruntukannya satu kamar untuk istriku bertiga dan satu kamar lagi disiapkan sebagai kamar pengantin. Aku sudah berencana tidak akan melakukan malam pertama di hotel itu, aku merencanakannya dari Gorontalo akan berlibur ke Bali bersama semua istriku.
Acara berlangsung sederhana dan diadakan di rumah keluarga Atika. Tidak ada pelaminan, kami semua dan tamu-tamu duduk di bawah. Meski pun sederhana, tamu yang datang tidak kurang dari 200 orang.
  
Maqna Hotel di Gorontalo, Sulawesi Utara (Foto: skycrapercity)
Magna Hotel di Gorontalo, Sulawesi Utara
Setelah acara pernikahan yang sekaligus digabung dengan resepsi, usai sebelum magrib. Setelah itu pengantin dan rombonganku hijrah ke hotel. Di dalam kamar Atika malu-malu berdua denganku. Dia mengira aku akan melakukan ritual malam pertama di hotel itu, Aku tanyakan kapan dia mendapat mensturasi, jawabannya masih lama, karena dia baru saja mendapatkannya. Aku beri pengertian bahwa malam itu aku tidak melakukan ritual malam pertama, karena malam pertama akan dilakukan di tempat wisata di Bali.
Atika senang mendengar aku akan mengajak liburan ke Bali. Dia memelukku. Tak ayal juga dalam kamar berdua akhirnya aku mencumbuinya sampai kami berdua bugil juga. Namun aku tetap menepati janjiku tidak menjebol segel keperawannya pada malam itu.
Setelah semua bajunya aku lepas, terlihat tubuh putih bersih. Dugaanku semula bahwa susunya agak oversize ternyata memang benar. Payudaranya besarnya di atas rata-rata anak se usia dia 17 tahun. Aku tanya dia mengenakan BH cup C ukuran 34.
Atika tidak terlalu tinggi, dia mengaku tingginya 165 cm dengan berat 48 kg. Untuk tinggi segitu, payudaranya masih bisa sesuailah. Dia bisa sembunyikan dengan balutan hijabnya yang selalu dia kenakan longgar.
Dari Gorontalo kami terbang ke Makasar lalu meneruskan ke Ngurah Rai, Bali. Aku sudah memilih hotel di daerah Kuta yang selalu hiruk pikuk. Namun hotelku cukup terjaga privacynya, sehingga hiruk pikuk di luar tidak berpengaruh ke dalam.
  
Hard Rock Hotel Bali
Sebuah hotel di Kuta, Bali
Dalam usiaku 38 tahun aku menikahi perempuan usia 17 tahun selisih 21 tahun. Jika aku berkaca berdua memang kelihatan sekali tidak seimbangnya tampilan kami berdua.
Aku memberi kesempatan Atika berjalan-jalan bersama 3 istriku. Dia kuberi sangu yang memadai untuk shooping. Dia sempat berkomentar, banyak sekali sangunya.
Setelah makan malam dan badan lelah, kami masuk ke kamar. Atika sebenarnya masih terlalu hijau. Di era internet ini dia masih belum mahir memanfaatkannya sehingga akses informasi agak terbatas. Dia mengaku malah belum pernah sama sekali menonton BF.
Aku malam itu memulai mencumbunya kembali, cumbuan dengan memulai mencium bibirnya lalu meremas buah dadanya sambil melepas pakaiannya satu persatu sampai akhirnya tinggal celana dalam. Ketika di hotel Gorotalo aku juga sudah mencumbu sampai tahap ini. Tubuh gadis muda ini sangat menggairahkan karena buah dadanya masih sangat kenyal dengan pentil susu yang masih kecil dan cenderung terbenam. Aku harus cukup lama mencium dan meremas buah dadanya sampai dia terangsang. Jika belum terangsang Atika tidak bisa menahan geli ketika susunya aku cium dan pentilnya aku jilati. Jika dia sudah terangsang, rasa gelinya hilang berubah menjadi rangsangan.
Atika mendesis-desis ketika kedua pentil susunya aku jilati dan aku gigit dengan bibir secara lembut. Dia mendekap kepalaku ke arah dadanya karena nikmat yang dirasa di sekitar susunya. Sambil memainkan susunya tanganku meraba kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam. Aku sengaja tidak langsung memasukkan tangan ke celana dalam atau membukanya, menghindarkan dia merasa malu. Jika dia sudah cukup terangsang baru di kesempatan itu aku memasukkan tanganku ke dalam celana dalamnya.
Gundukan kemaluannya masih ditumbuhi bulu halus yang juga masih jarang. Aku mengelus-elus bulu itu dengan gundukan yang cukup cembung. Setelah itu jariku mengusap-usap garis belahan kemaluannya. Aku usap-usap sebentar lalu jariku agak dibenamkan merasa ada kehangatan dan cairan di dalamnya.
Perlahan-lahan aku buka celananya lalu aku turunkan sampai akhirnya dia telanjang bulat. Namun kami bercumbu masih di dalam selimut, sehingga meskipun kami bugil berdua tetapi kami sendiri tidak bisa melihat. Aku memainkan jariku di wilayah clitorisnya. Atika berjungkat-jungkat pinggulnya setiap jariku menyentuh clitorisnya sampai akhirnya dia seperti merintih nangis. Namun wajahnya tidak memperlihatkan dia menangis. Kepalanya digeleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan.
Aku terus menstimulasi clitorisnya dan itu berlangsung agak lama, mungkin sekitar 15 menit baru akhirnya dia mencapai orgasme. Daging cembung di kemaluannya bagian bawah terasa berdenyut. Atika tanpa dia sadari mengerang panjang ketika mencapai titik kepuasannnya.
Aku membuka selimut dan Atika tidak mempedulikan lagi atas tubuhnya yang bugil. Aku mengambil jelly pelicin kusapukan ke seluruh batang penisku lalu ke pintu masuk vaginanya. Perlahan-lahan aku arahkan ujung kemaluanku ke lubang kemaluannya. Setelah terasa tepat, aku menekan masuk. Kepala penisku berjaya menguak masuk sampai seluruh kepala terbenam. Atika mengeluh karena sakit.
Aku katakan pada saat pertama seperti ini wajar ada rasa sakit, tetapi masih bisa ditahan. Aku mencium bibirnya yang dia sambut dengan hangat. Sambil mencium aku dorong lagi kepala penisku untuk masuk lebih dalam sampai akhirnya tertahan. Atika melepas ciumanku dan merintih karena perih. Aku minta dia bersabar sedikit, karena rasa sakit itu tidak akan lama.
Selaput dara wanita yang baru berusia 17 tahun masih sangat kuat, sehingga aku harus sedikit bertenaga memecahnya. Itulah yang kulakukan, aku memaksa memajukan sedikit sampai terasa ada yang pecah di dalam. Berbarengan jebolnya selaput kehormatannya dia menjerit pelan dan air matanya meleleh dari kedua ujung matanya. Dia menangis tanpa suara, karena katanya sakit sekali. Kemaluanku terasa tercekat di dalam. Aku tidak mau ambil risiko menarik keluar, karena nanti susah memasukkannya lagi, sehingga meski sakit aku terus dorong masuk perlahan-lahan, sampai akhirnya tercapai juga titik finish-nya.
Aku berdiam sejenak sampai reda tangisnya. Aku menciuminya dengan penuh kasih sayang untuk membuainya dan menenangkan hatinya. Setelah aku rasa dia reda merasakan perih di vaginanya aku perlahan-lahan menariknya sampai hampir lepas, lalu aku dorong lagi. Lubang kemaluannya sangat sempit membuat batang penisku juga terasa agak sakit.
Setelah maju mundur beberapa kali dan liangnya terasa makin licin. Atika tidak lagi mengeluh sakit. Aku memutuskan tidak bermain terlalu lama. Setelah 10 menit aku memaju mundurkan penisku. Aku berhenti. Atika sulit mendapatkan orgasme, karena kemaluannya masih terasa sakit. Aku pun demikian. Meskipun terasa amat menjepit, tetapi karena terasa agak sakit sehingga sebenarnya kurang nikmat.
Aku berhenti dalam keadaan kemaluanku masih sangat tegang. Kami istirahat dan kupeluk dia untuk kuajak tidur. Kami berdua masih telanjang bulat di bawah selimut. Atika terasa menangis saat kepalanya bersandar di dadaku. Aku tidak bisa menebak, apakah dia menangis bahagia, atau teringat dengan keluarganya yang kini jauh.
Aku dapat memaklumi jika dia ingat dengan keluarganya, karena ini adalah pengalaman pertama berada jauh dari lingkungan keluarganya. Apalagi statusnya dia sudah menjadi istri yang pengabdiannya dicurahkan kepada suaminya. Jiwa anak-anaknya masih belum luntur benar, meskipun dia tahu statusnya sudah memiliki suami.
Aku tidak mengulangi lagi pada pagi harinya. Menjelang subuh kuajak dia mandi junub bersama-sama. Mulanya dia mengatakan malu, tetapi kuingatkan bahwa aku adalah suaminya sehingga tidak pantas malu terhadap suami. Akhirnya Atika pasrah mandi air hangat di pagi buta berdua denganku dengan sama-sama telanjang bulat. Tidak puas-puasnya aku memandangi keindahan tubuhnya dengan payudara yang montok, bokong yang berisi dan perut kempes berpinggang.
Pagi hari kami berdua turun sarapan, ternyata di ruang coffee shop sudah ada ketiga istriku. Kami duduk satu meja dan istri-istriku melayaniku mengambilkan sarapan di meja prasmanan. Ketiga istriku bergantian menasihati Atika. Mereka juga mengatakan bahwa Atika sudah seperti adik. Atika diminta tidak perlu sungkan-sungkan meminta tolong kepada istri-istriku, karena statusnya sekarang adalah sama yaitu istri Pak Argo, meskipun Atika masih sangat muda.
Seharian kami berkeliling Bali menikmati berbagai tempat wisata. Rasa canggung Atika akhirnya mencair, dia bisa menyatu dengan istri-istriku lainnya. Aku bahagia menyaksikan ke empat istriku sangat akur dan saling tolong menolong. Kami banyak membuat foto-foto dengan latar belakang keindahan tempat-tempat wisata di Bali.
Malam kedua di Bali, ketika aku mulai mencumbui Atika, dia terlihat seperti trauma. Aku agak lama menentramkan hatinya sampai akhirnya dia luluh dan pasrah terhadap semua cumbuanku. Pada malam kedua ini aku memperkenalkan cumbuan cunnilingus. Mulanya dia malu ketika aku mulai menciumi kemaluannya. Namun karena aku terus bertahan akhirnya dia pasrah dan mengikuti irama kenikmatan dari sentuhan lidahku ke clitorisnya. Atika merintih terus dan bergelinjang karena merasakan geli dan nikmatnya di oral.
Mungkin batinnya belum dapat sepenuhnya menerima perlakuanku mengoral kemaluannya, sehingga batinnya berperang antara kenikmatan dan rasa malu. Akibatnya aku cukup lama mengoralnya sampai dia mencapai orgasme. Saat orgasme dia merintih lirih dan panjang.
Aku memeluknya dan menanyakan apakah nikmat rasanya. Dengan malu-malu dia mengangguk. Setelah agak kurang rasa malunya dia kuajarkan posisi WOT. Atika masih terasa kaku ketika berada di atas tubuhku. Agak ragu dia menurunkan tubuhnya ketika penisku berada di pintu masuk vaginanya. Aku sudah melumasi jelly pelicin untuk mengurangi rasa sakit.
Perlahan-lahan dia coba memasukkan penisku ke vaginanya sambil dia nyengir-nyengir khawatir sakit. Namun nyatakanya penisku terus terbenam sampai akhirnya mentok. Aku ajarkan dia melakukan gerakan naik turun. Karena ini adalah pengalaman pertamanya maka penisku sering terlepas dari liang vaginanya. Aku terpaksa membantu dia mengontrol gerakannya sehingga tidak sampai lepas. Rupanya makin lama tidak ada lagi kekhawatiran rasa sakit, malah rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya. Atika mulai bergerak mengikuti rasa nikmat di dirinya sehingga ritmenya makin cepat dan bukan hanya gerakan naik turun tetapi juga menggeser maju mundur.
Aku tidak menyangka, dia bisa mendapatkan orgasmenya pada posisi seperti ini sampai akhirnya dia memekik menandai kenikmatan puncak sudah melanda dirinya. Tubuhnya dijatuhkan menindihku. Aku menciuminya sementara di bawah terasa berkedut-kedut.
Aku membalikkan tubuhnya dan giliran aku yang memompanya dengan gerakan tetap hati-hati. Atika mulai dapat merasakan nikmatnya berhubungan suami istri sehingga tanpa malu dia merintih nikmat sampai akhirnya dia mendapat orgasme lagi. Aku masih menahan diri untuk tidak ejakulasi. Paginya kami masih bermain lagi sampai Atika mendapat lagi orgasmenya.
Selama 4 malam aku makin melancarkan lubang vagina Atika sehingga dia sudah melupakan rasa sakitnya. Nafsunya cepat bangkit dan tidak ada lagi rasa malu meski ruang terang benderang dia santai saja telanjang di hadapanku.
Hidup serumah dengan empat istri dari suku yang berbeda sesungguhnya tidak terlalu masalah. Perbedaan dari asal suku bahkan memberi hikmah terhadap jenis-jenis masakan khas daerah. Aku berembug dengan ke empat istriku untuk mencoba menggali masakan khas daerah masing-masing. Akhirnya kami sepakati, setiap hari sajian makanan dibuat berbeda-beda. Hari Senin masakan di rumah semua lauk versi Jawa Timur, lalu Selasa masakan Padang, Rabu masakan Sunda dan Kamis masakan Sulawesi khususnya Gorontalo. Akibat aturan menu baru itu, masing-masing istri jadi berusaha menggali resep masakan keluarga masing-masing. Hari selebihnya disajikan menu campuran.
Kehidupan dengan 4 istri jadi lebih nikmat dan lebih rukun dengan ikatan masakan. Sesuatu hal yang kelihatannya sepele , malah menjadi pengikat kerukunan. Aku bersyukur sejauh ini bisa hidup rukun dengan ke empat istri.
Istriku yang paling muda, Atika kemudian meneruskan studynya ke Universitas Indonesia. Dia memilih sendiri jurusan Matematika dan Ilmu Pasti Alam. Aku menyarankan agar Atika menunda dulu memiliki anak, sampai selesai kuliah. Lagi pula menjadi ibu pada usia belasan tahun, secara fisik belum benar-benar siap. Jika tamat kuliah diharapkan usia 22 tahun, rasanya sudah cukup matang untuk menjadi ibu.
Atika setuju, dia juga tidak ingin kuliahnya terganggu karena direpotkan kehadiran anak. Dia mengikuti program KB. Aku tidak tahu dia memakai sistem apa, istri-istriku yang senior membantu mengurus masalah wanita itu.


Jember, 19 April 2014



Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilpun (0331) 481127
Jember

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar