Rabu, 09 Februari 2011

Merokok Harom ? 02



Merokok Itu (Tidak) Haram?



Oleh : Ayu Sutarto*





DARI akhir Januari hingga awal Februari ini, saya terlibat dalam sebuah kegiatan peluncuran buku yang berjudul Siapa Bilang Merokok Harom? karya dr HM.Nasim Fauzi. Sebuah judul buku yang sangat sensitif dan provokatif. Keterlibatan saya dalam peluncuran buku itu bukan hanya satu kali, tetapi beberapa kali.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, MA.

          Peluncuran buku yang mengundang rasa ingin tahu itu bukan hanya diselenggarakan dalam ruangan hotel bintang lima nan nyaman, tetapi juga di sebuah radio terkenal di Surabaya dan juga di sebuah stasiun televisi di Surabaya juga. Bukan main. Tentang siapa saja yang hadir dalam peluncuran buku itu, tentu saja, melibatkan dua kubu, yang pro dan yang kontra rokok: ada pengusaha tembakau, petani tembakau, pengusaha rokok, aktivis LSM, kiai, ulama, budayawan, dan tentu saja ahli jantung yang tak suka rokok

          Judul buku tersebut memang bisa membuat gatal telinga orang yang tidak menyukai rokok atau yang mengharamkan rokok. Simak saja judulnya, Siapa Bilang Merokok Harom? Nada melawan dan rasa jengkel senyatanya tercermin dalam buku itu. Bahkan subjudulnya seperti pernyataan orang yang sedang nggerundel atau bersungut-sungut : Minyak Kedelai dan Minyak Kacang sebagai Penyebab Penyakit Jantung; Rokok yang dijadikan Kambing Hitam! Dalam buku itu, Pak dr Nasim, sang penulis, melihat rokok dari tiga aspek, yakni aspek kesehatan, aspek ekonomi, dan aspek agama. Dari aspek kesehatan Pak Nasim menegaskan bahwa rokok yang didiskreditkan sebagai penyebab impotensi, penyakit jantung, atau merusak janin adalah omong kosong. Bahwa rokok bisa menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis, memang telah terbukti. Begitu Pak Nasim. Jadi, angka kematian yang besar itu jelas bukan karena rokok!     Begitu tandas Pak Nasim.

          Pak Nasim yang tumbuh di kalangan santri juga sangat yakin bahwa rokok tidak haram. Beliau mengutip beberapa ayat dan hadis yang beliau jadikan rujukan. Pernyataan beliau digaris-bawahi oleh beberapa kiai dan ulama yang hadir dalam peluncuran buku itu. Menurut Pak Nasim, kampanye anti rokok tersebut lebih merupakan bagian dari gebrakan imperialisme medis (medical imperialism) yang dinakhodai oleh negara-negara Barat. Kita sebaiknya tidak selalu mengamini apa yang dikatakan Barat karena telah terbukti bahwa Barat tidak selalu benar. Menurut Pak Nasim, rokok juga memiliki manfaat nonekonomis yang positif, seperti menghilangkan stres, misalnya. Kalau Sampeyan mau tahu manfaat nonekonomisnya yang positif, baca saja buku ini. Kalau manfaat ekonomisnya jelas kelihatan. Tanya saja sama petani tembakau di Jember, Pamekasan, atau Sumenep.

          Pada awalnya saya ragu untuk hadir dan membahas buku ini. Saya bukan perokok, dan saya tidak anti atau mendukung rokok. Mau merokok, ya merokok saja, asalkan tahu tempat. Begitu sikapku. Apalagi kalau nanti saya harus berbenturan dengan saudara-saudara saya dari Muhammadiyah dan MUI, atau dengan para dokter ahli jantung yang jelas-jelas tidak menyukai rokok. Gak usyah ya! Untuk apa menambah angka konflik di Indonesia? Tetapi kemudian saya memutuskan untuk hadir dengan niat baik.     Buku dr Nasim ini sangat menarik dan tembakau atawa rokok sangat terkait dengan mata pencaharian orang banyak. Jadi, kalau saya hadir dan ikut bersuara, saya bisa memberi sumbang pikir untuk masalah yang membelit negeri saya meski hanya sebesar debu.

          Mungkin Sampeyan kepengin tahu siapa sang penulis buku itu. Penulisnva adalah seorang dokter dan bukan perokok. Dr HM. Nasim Fauzi, lahir di Malang. 24 Maret 1945. Sejak SD hingga SMA, beliau tinggal di lingkungan Pondok Pesantren KHM. Siddiq, Kidul Pasar Jember. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Unair pada tahun 1974, beliau bekerja sebagai dokter Depkes RI di Gresik dan Jember, dan pensiun tahun 2000. Kini beliau bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Jember dan menyalurkan hobi menulisnya, baik melalui dunia cetak maupun dunia siber (cyber). Pak Nasim adalah orang kedua yang berani melawan arus melalui buku, setelah sebelumnya Wanda Hamilton menulis buku yang berjudul Nicotine War, tentang perang nikotin dan para pedagang obat.

          Pak Nasim yang kiai terpanggil untuk menulis buku ini konon karena beliau melihat akan banyak orang Indonesia yang menjadi "korban" dari gerakan mengharamkan rokok apabila nanti negara sangat-sangat membatasi peredaran rokok. Mereka yang akan menjadi korban adalah petani tembakau, buruh tani, pengusaha tembakau, buruh pabrik rokok dan juga pengusaha rokok. Jumlah mereka banyak, sekitar 30 juta. Begitu menurut perkiraan Prof Kabul Santosa, mantan rektor UNEJ yang hadir sebagai pembahas dalam peluncuran itu. Prof Kabul dikenal sebagai pakar tembakau, bukan hanya di Jawa Timur, tetapi juga di Indonesia. Dulu Prof Kabul merokok, tetapi sekarang tidak. Menurut beliau, rokok memberi sumbangan yang tidak kecil bagi keuangan negara.

          Alhamdulilah, meski terkadang terjadi benturan pendapat, dalam peluncuran buku itu tidak ada peserta, pendengar, atau pemirsa yang tampil emosional. Kelompok yang tidak suka rokok tetap bersikukuh bahwa rokok lebih banyak membawa mudharat ketimbang manfaat. Sebaliknya, kelompok yang pro rokok sangat menggebu-gebu dan mendukung pernyataan ulama vang berbunyi bahwa hukum merokok adalah makruh atau mubah (boleh).

          Diskusi selalu hangat, tetapi tak sampai panas dan meledak-ledak. Tentu saja, nama Muhammadiyah dan MUI juga dibawa-bawa dalam peluncuran buku itu karena kedua nama tersebut pernah mengeluarkan fatwa bahwa merokok itu haram. Diskusi berjalan lancar, dan tercermin sikap saling menghargai antara yang pro dan yang kontra.

          Ketika saya dimintai pendapat saya berbicara dari perspektif budaya. Rokok sudah dikenal selama berabad-abad di negeri ini. Rokok telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial-budaya. Simak saja, dalam berbagai perhelatan, baik yang bernuansa adat maupun reiigi, masyarakat pedesaan selalu menghadirkan rokok sebagai bagian penting. Dalam ranah sosial, rokok telah menjadi instrumen untuk memperkuat kohesi sosial. Bagi sebagian orang, seperti juga telah ditulis Pak Nasim, rokok dapat mendorong pikiran dan bicara menjadi cair dan mengalir. Sebagai seorang peneliti masalah sosial-budaya, saya mengamati juga peran dan fungsi rokok dalam masyarakat. Orang Tengger, misalnya, laki-laki, perempuan, dan anak-anak merokok semua.
   
   
          Mereka adalah petani tradisional yang bekerja di ladang hingga sore hari. Tubuh mereka kuat dan rata-rata usia mereka juga panjang. Sebagian orang Using menyuruh anak-anak kecil merokok agar mereka tidak step. Kalau begitu, benarkah merokok itu (tidak) haram?



Dikutip dari RADAR JEMBER, Rabu 9 Februari 2011

*) Prof. Dr. Ayu Sutarto adalah Budayawan dan Pengamat Sosial.





Surabaya Post Online
Kekeliruan di Balik Bahaya Rokok
Jumat, 4 Februari 2011 | 09:54 WIB
SURABAYA- Rokok tetap menjadi isu yang paling sering diperdebatkan. Kita bisa berbincang soal rokok, mulai dari isu kesehatan, budaya, hingga dari sisi ekonominya.
Sayangnya perdebatan dan ulasan-ulasan terkait rokok tersebut sering terkesan simplisistis, memuat banyak kekeliruan dan sarat kepentingan. Apalagi setelah adanya fatwa pengharaman rokok di seluruh dunia islam dan pelarangan merokok di tempat-tempat umum. Ketidakwajaran inilah yang membuat dr H.M Nasim Fauzi, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jember merasa tergelitik dan akhirnya membuat buku Siapa bilang merokok itu harom?” .
Melalui buku ini penulis ingin mengungkap ketidakwajaran yang terjadi dalam gerakan anti rokok tersebut, ia juga berhasil mengungkap bobrok-bobrok argumentasi yang selama ini dibangun oleh mereka yang anti rokok.
Buku setebal 285 halaman ini jadi menarik karena ditulis oleh seorang yang tidak merokok dan juga seorang dokter. Jadi bisa dipastikan buku ini objektif dan jauh dari unsur balas dendam “ Saya ingin masyarakat bangun dari tidur dogmatis lalu sadar bahwa fakta yang dibangun oleh masyarakat anti rokok selama ini hanyalah kebohongan belaka,” ujar Nasim Fauzi di sela peluncuran bukunya di Hotel Shangri La, Rabu (2/2).
Dalam acara yang juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, itu diungkapkan, hukum rokok sebenarnya adalah mubah (boleh). Ia mendasarkannya pada beberapa pendapat para ulama seperti H. Sulaiman Rasyid dalam buku Fiqih Islam dan Syeih Muhammad Yusuf Qadharwi dalam buku Halal dan Haram dalam Islam, yang menyatakan hukum merokok adalah mubah karena sebenarnya tiap-tiap barang di permukaan bumi ini menurut hukum aslinya adalah halal terkecuali kalau ada larangan dari syara; atau karena ada mudarotnya.
Namun pertanyaan utamanya adalah, benarkah rokok merusak kesehatan? Karena seperti yang tertera di dalam bungkus rokok selama ini adalah bahwa merokok dapat menimbulkan kanker, serangan jantung, impotensi, serta gangguan kehamilan dan janin.
Berbekal ilmu kedokteran yang dimilikinya, Nasim menegaskan rokok tidak terbukti menimbulkan penyakit-penyakit yang dianggap tersebut. Hal ini diterangkan dengan analisa dan fakta-fakta medisnya. Penyakit yang terbukti ditimbulkan rokok adalah penyakit paru obstruktif dan kronis, yaitu bronkitis kronis dan emphysema tapi menurutnya jumlah penderita penyakit ini masih sedikit di Indonesia.
Untuk memperkuat isi temuannya ini, dr Nasim mengungkapkan fakta yang tak dapat dibantah tentang persentase orang Jepang yang merokok lebih banyak dibanding orang Amerika, namun risiko kematian akibat kanker paru di Amerika Serikat sepuluh kali lebih tinggi. “ Dan penyebab kematian akibat kanker paru yang terjadi di Amerika tersebut disebabkan oleh konsumsi energi lemak dan bukan karena rokok,” kata pria kelahiran Malang, 24 Maret 1945.
Dengan fakta tersebut, Nasim jelas ingin menunjukkan rokok hanyalah objek yang dituduh dan dikorbankan. Rokok sering dituduh sebagai penyebab kanker hingga kematian seseorang. “Lebih rasional bila menempatkan soal rokok ini dalam persaingan bisnis global dengan mengambil kasus perang minyak kelapa dan minyak di Amerika,” katanya.
Padahal minyak kelapa itu sebenarnya sehat dan sangat bermanfaat. Tapi karena orang barat ingin produk minyaknya laku, dibuatlah cara agar minyak kelapa itu dianggap tidak sehat.
Lewat buku ini, Nasim juga tidak bermaksud mengatakan merokok itu sehat. Ia hanya ingin mengimbau publik untuk lebih teliti dalam menerima informasi. “ Siapa tahu, informasi tersebut merupakan pesan dari orang di balik layar yang hanya ingin mencari keuntungan. Jadi jangan asal ditelan bulat-bulat saja,”pungkasnya.m8


ROKOK BERIKAN KONTRIBUSI PENDAPATAN NASIONAL RP 30 T
Cetak
Oleh : Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim
Rabu, 02 Februari 2011
Industri rokok di Jawa Timur memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional sekitar Rp 30 triliun setiap tahunnya. Dengan pemasukan yang cukup besar, industri rokok ikut adil dalam kemajuan pembangunan di Indonesia.
Wakil Gubernur Jawa Timur Drs H Saifullah Yusuf saat Launching Bedah Buku “Siapa Bilang Merokok Harom” karya Dr HM Nasim Fauzi di Shangri-La Hotel Surabaya, Rabu (2/2) mengatakan, yang penting soal merokok adalah yang merokok jangan mengganggu orang yang tidak merokok. Karena kontribusi industri rokok cukup besar terhadap pendapatan pemerintah, maka pemerintah diharapkan membangun dan memperbanyak area khusus merokok di tempat umum. Dengan dibangunnya tempat merokok yang di tempat-tempat umum akan membantu program jangan merokok di tempat-tempat umum.
Kemudian persoalan haram dan halalnya merokok, serahkan pada ahlinya, jangan sampai yang bukan ahlinya menafsirkan merokok itu haram atau halal. Soal haram dan halal serta mengganggu kesehatan jika merokok diperlukan penelitian dan didiskusikan terlebih dahulu. Karena merokok ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia khususnya di Jawa Timur. Dan Selanjutnya sekali lagi soal rokok ini hukumnya tidak jelas maka perlu didiskusikan oleh para ahlinya baik dari tokoh agama dan ahli kesehatan.
Dicontohkan Gus ipul, ada sebagai orang merokok sejak kecil tapi tambah sehat, tetapi ada orang yang tidak merokok malah sakit-sakitan. Oleh sebab itu dengan adanya bedah buku “ Siapa Bilang Merokok Harom” sangat menarik karena buku ini ditulis oleh orang yang tidak merokok.
Sementara Ketua koperasi Agrobisnis Taruna Nusantara sekaligus panitia bedah buku, Abdul Kahar Muzakir mengatakan, karena ditulis berkesinambungan oleh berbagai media dan fatwa dari dari elemen masyarakat bahwa “merokok itu haram” itu perlu diluruskan, karena hal ini berhubungan dengan masyarakat.
Larangan-larangan tersebut disinyalir ditulis oleh sebagian masyarakat yang anti merokok. Jika ditinjau dari aspeknya ada tiga hal. Yang pertama aspek bisnis ada pergulatan bisnis farmasi. Kemudian merokok dilihat dari aspek kesehatan, apakah merokok itu bisa menyebabkan orang sakit dan aspek agama. Apakah agama mengharamkan merokok atau merokok hukumnya mubah. Itulah aspek-apek yang masih perlu dibicarakan yang jelas larangan merokok itu karena ada persaingan bisnis.
Menurut data dari tanaman tembakau di Indonesia luasnya 210 ribu hektare dengan produksi sekitar 150 ribu ton, sedangkan kebutuhkan tembakau di Indonesia setiap tahunnya 205 ribu ton. Kemudian luas tanaman tembakau di Jawa Timur mencapai 110 ribu hektare dengan jumlah produksi 83 ribu ton per tahunnya. Sementara pada 2010 secara nasional pendapatan pemerintah dari hasil cukai rokok sekitar Rp 60 triliun.
Sementara penulis buku “Siapa Bilang Merokok Itu Harom“ Dr HM Nazim Fauzi mengatakan, kesimpulan dalam penulisan buku ini adalah larangan merokok pada dasarnya perang bisnis. Dalil kesehatan dan agama yang dipakai oleh para anti rokok terbukti hanyalah retorika yang sebenarnya jauh dari fakta. Dari pada alasan kesehatan dan agama menurutnya larangan merokok ini lebih rasional bila diletakan pada persaingan bisnis global. Persaingan bisnis global tersebut dengan mengambil kasus perang minyak kelapa dan minyak goreng di Amerika.(ryo/jnr)


Go Jakarta
Merokok Sembuhkan Penyakit Asma?
lokasi: Home / Berita / Kesehatan / [sumber: Jakartapress.com]
Kamis, 03/02/2011 | 00:08 WIB
Surabaya - Siapa bilang merokok itu menimbulkan penyakit. Justru sebaliknya, merokok dapat menyembuhkan penyakit, khususnya Asma? Sebab, rokok mengandung Nikotin yang selama dunia ilmu berkembang merupakan persenyawan sangat hebat.
"Pada dasarnya nikotin berguna untuk mencegah dan menyembuhkan beberapa penyakit. Termasuk, penyakit Asma," kata dr. HM Nasim Fauzi, penulis buku "Siapa Bilang Merokok Harom" kepada wartawan di sela-sela peluncuran buku setebal 285 halaman itu di Hotel Shangri-la Surabaya, Rabu (2/2).
Menurutnya, merokok dapat menyembuhkan penyakit Asma, bukan hal yang baru. Sebab, waktu rokok pertama kali diperkenalkan ke Eropa, tujuannya untuk menyembuhkan penyakit Asma. Namun, kondisi itu justru terbalik di Indonesia.
"Di sini malah terbalik, sekarang penyakit asma dilarang merokok. Padahal, di Eropa penderita Asma disarankan untuk merokok. Kedua, dulu ada wabah penyakit pes. Orang disuruh merokok untuk sembuhkan penyakit yang sangat jahat itu," ujarnya.
Selain bisa menyembuhkan penyakit Asma dan pes akibat tikus, merokok juga menyembuhkan beberapa penyakit ganas lainnya. Seperti yang diungkap di buku yang ditulis Nasim Fauzi, merokok dapat berguna untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit jantung koroner, kanker kulit, kanker payudara dan lain-lain.
"Semua barang di dunia punya manfaat dan mudharatnya. Yang disebutkan di buku, koran dan TV itu mudharat. Sedangkan manfaatnya tidak dibicarakan. Sama seperti rokok, itu banyak manfaatnya," jelasnya.
Pihaknya juga menyayangkan munculnya Undang-undang (UU) dan Peraturan Daerah (Perda) merokok di beberapa daerah, seperti di Surabaya dan Bogor. UU dan Perda merokok itu mestinya tidak perlu diberlakukan, jika pemerintah memahami betul akan manfaat merokok.
"Mulai dulu, saya menganalisa setelah adanya larangan merokok. Waktu haji, sudah ada tulisan bahaya merokok di dalam bungkusnya. Setelah saya pulang haji, baru ada tulisan itu di Indonesia. UU dan Perda pembatasan merokok itu sudah tidak wajar. Saya melihat beritanya negara-negara Islam dilarang merokok. Ini kok ada yang menggerakkan," ungkapnya.
Terkait haram dan tidaknya merokok, Nasim Fauzi dengan santai menjawab halal atau mubah (boleh) jika merokok di luar Masjid. Sebaliknya, merokok di dalam Masjid, itu dilarang. "Merokok di dalam Masjid akan menimbulkan bau rokok. Jadi, tidak boleh," serunya. (Mb)


ANTARANEWS Jawa Timur
Industri Rokok Jatim Sumbang Pendapatan Rp30 Triliun
02 Peb 2011 18:50:45| Ekonomi | Dibaca 61 kali | Penulis : Didik Kusbiantoro

Surabaya - Industri tembakau dan rokok di Jawa Timur memberikan sumbangan pendapatan dari sektor cukai mencapai hampir Rp30 triliun atau sekitar 50 persen dari total pendapatan negara yang diperoleh dari industri tersebut.
Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf di Surabaya, Rabu, mengemukakan Provinsi Jatim merupakan salah satu sentra industri tembakau dan rokok terbesar di Indonesia yang memiliki andil dalam perekonomian nasional.
"Tidak hanya pabrik rokok berskala besar, seperti Gudang Garam dan Sampoerna, tapi industri rokok berskala kecil jumlahnya juga cukup banyak," katanya saat bedah buku berjudul "Siapa Bilang Merokok Harom?" karya dr HM Nasim Fauzi.
Saifullah Yusuf mengatakan selain memberikan sumbangan pendapatan dalam bentuk cukai, industri tembakau dan rokok yang tersebar di berbagai daerah di Jatim juga menyerap jutaan tenaga kerja.
"Artinya, industri tembakau dan rokok itu ikut berperan dalam kemajuan perekonomian dan pembangunan di Jatim dan Indonesia," tambah Wagub yang akrab disapa Gus Ipul itu.
Terkait polemik hukum merokok itu halal atau haram, Gus Ipul tidak ingin berkomentar terlalu jauh dan lebih senang menyerahkan persoalan tersebut kepada ahlinya.
"Lebih baik masalah ini diserahkan kepada ahlinya, sehingga jangan sampai mereka yang bukan ahlinya justru memberikan penafsiran yang membingungkan masyarakat," katanya.
Ketua Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara Jember, Abdul Kahar Muzakir, yang selama ini intens menggeluti bisnis tembakau, mengatakan lebih dari 50 persen produksi tembakau nasional berasal dari wilayah Jatim.
Ia menyebutkan dari total produksi tembakau nasional yang mencapai sekitar 150 ribu ton, hampir 83 ribu ton di antaranya dihasilkan dari wilayah Jatim dengan luas budidaya tembakau lebih kurang 110 ribu hektare.
"Industri rokok di Jatim mulai dari skala besar hingga kecil diperkirakan mencapai 1.300 hingga 1.400 unit usaha (pabrik). Jadi, peran dan kontribusi industri tembakau di Jatim memang sangat besar," ujarnya.
Kendati demikian, lanjut Kahar Muzakir, besarnya kontribusi industri rokok terhadap pendapatan dan perekonomian negara tersebut, belum dibarengi dengan keberadaan payung hukum atau lembaga yang melindungi industri itu.
"Padahal, di negara-negara produsen tembakau dunia seperti China, Brasil dan India, keberadaan industrinya sangat dilindungi," tambahnya.
Penulis buku "Siapa Bilang Merokok Harom", Nasim Fauzi, menilai larangan merokok atau kampanye antirokok yang muncul beberapa waktu terakhir, sebenarnya lebih mengarah pada masalah perang bisnis.
"Dalil kesehatan dan agama yang dipakai oleh mereka yang mengkampayekan gerakan antirokok, terbukti hanya retorika yang sebenarnya jauh dari fakta. Lebih rasional jika meletakkan masalah rokok dalam persaingan bisnis global," kata alumnus Fakultas Kedokteran Unair itu.
Menurut Nasim Fauzi, di balik munculnya kampanye gerakan antirokok "berbaju" isu kesehatan dan agama tersebut, sebenarnya terdapat kepentingan dari kelompok-kelompok bisnis tertentu.




1 komentar:

  1. Saya setuju dengan artikel ini..........orang yg merokok belum tentu berpenyakitan dan berumur pendek......Orang tua di Jawa banyak yg merokok tapi umurnya kok bisa panjang...........? rata-rata umurny bisa mencapai 90Th!

    BalasHapus