Selasa, 21 Desember 2010

Embriologi seks 01

 

Jenis Kelamin Embryo di Awal Kehidupan


Dalam Embriologi


Seri ke-1


Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi

(Uraian dalam makalah ini agak spesialistis, diperuntukkan bagi para pembaca yang mempunyai background pendidikan biologi)



A.Latar Belakang Masalah




Pendahuluan
Dalam makalah-makalah penulis tentang hari akhirot yaitu waktu kebangkitan, di Shiroth, Neraka dan Surga, penulis menyebutkan bahwa jenis kelamin manusia di sana berbeda dengan jenis kelamin sewaktu masih hidup di Dunia. Dasar yang penulis pakai ialah di samping filsafat agama Islam juga ilmu kedokteran yaitu ilmu genetika dan embriologi.
Tujuan Alloh s.w.t. menciptakan manusia di dunia adalah untuk :
(i.) berkembang biak,
(ii.) menjadi kholifah Alloh di bumi dan
(iii.) beribadah, menyembah Alloh s.w.t.

Agar manusia bisa berkembang biak maka manusia diciptakan atas dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Mereka kawin, hamil, melahirkan anak, tumbuh kembang menjadi dewasa lalu menua dan mati.
Sedang di waktu kebangkitan manusia tidak perlu berkembang biak lagi karena tujuannya adalah untuk diadili dan dihitung serta ditimbang amalnya selama hidup di dunia. Oleh karena itu tidak perlu lagi pembagian jenis kelamin laki-laki dan perempuan itu.
Sedang sorga tujuannya adalah sebagai tempat menerima balasan yang baik bagi amalnya di dunia, antara lain diberi isteri bidadari yang dapat dinikmati hanya oleh laki-laki saja. Maka semua manusia yang masuk ke dalam surga itu oleh Alloh s.w.t. dibentuk menjadi jenis laki-laki di telaga Kautsar.
Di dunia ini semua manusia dibuat di dalam rohim ibu (in vivo), sedang pertumbuhan manusia sewaktu kebangkitan dilakukan di luar rohim ibu (in vitro) seperti halnya penciptaan manusia pertama dahulu yaitu melalui proses “nafsin wahidah”.


B. Permasalahan


Permasalahan dalam embriologi yang bersangkutan dengan kemungkinan adanya perubahan kelamin adalah:
I. Uraian tentang kromosom seks (X dan Y) dan proses pembuahan.
II. Asal muasal alat kelamin dalam dan luar.
III. Perkembangan alat kelamin luar.
IV. Hormon-hormon seks pada janin.
V. Placenta dan Chorionic Gonadotropin Hormon (cGH) dan perannya dalam perkembangan kelamin embrio.
VI. Phenomena Sindrom feminisasi testis (sindrom tidak sensitif terhadap androgen) dan 5-alpha reductase deficiency.
VII. Perubahan kelamin pada janin XY.


C. Pemecahan Masalah


I. Uraian tentang kromosom seks (X dan Y) dan proses pembuahan.

Dalam Kaplan’s Embryology uraiannya tertulis sebagai berikut:
Gametogenesis: Konversi Sel-sel Benih Menjadi Gamet Pria dan Gamet Wanita
Perkembangan seorang manusia dimulai dengan pembuahan, suatu proses dimana spermatozoa dari pria dan oosit dari wanita bergabung membentuk suatu organisme baru yaitu zigot. Dalam persiapan untuk pembuahan, baik sel benih pria maupun wanita tersebut mengalami sejumlah perubahan yang melibatkan kromosom maupun sitoplasma. Sejumlah perubahan ini mempunyai dua tujuan:
1. Mengurangi jumlah kromosom dari jumlah diploid 46, yang ditemukan pada sel somatik, menjadi jumlah haploid 23, yang kita temukan pada gamet (Ploidi merujuk pada jumlah copies setiap kromosom). Hal ini terlaksana melalui pembelahan meiosis atau pembelahan pematangan, dan pengurangan jumlah kromoson ini perlu, karena jika tidak demikian penyatuan sel benih pria dan wanita akan menghasilkan individu yang mempunyai jumlah kromosom sebanyak dua kali dari sel induknya.
2. Mengubah bentuk sel-sel benih sebagai persiapan untuk pembuahan. Sel benih pria, yang mula-mula besar dan bulat, praktis kehilangan semua sitoplasmanya dan membentuk kepala, leher dan ekor. Sel benih wanita, sebaliknya, berangsur-angsur menjadi lebih besar sebagai akibat dari penambahan jumlah sitoplasma. Pada saat mencapai kematangan, oosit memiliki garis tengah kira-kira 120 um.
Sel somatik manusia mengandung 23 pasang atau jumlah kromosom yang diploid. Ada 22 pasang kromosom yang tepat sama, autosom, dan 1 pasang kromosom seks. Kalau pasangan kromosom tersebut adalah XX, individu tersebut secara genetika wanita; kalau pasangan tersebut XY, individu tersebut secara genetika laki-laki. Salah satu kromosom pada setiap pasangan berasal dari ibu dan dan yang lain berasal dari ayah. Anggota dari sebuah pasangan kromosom pada umumnya tidak terlalu rapat letaknya satu dengan yang lain baik pada sel yang sedang istirahat ataupun selama pembelahan mitosis. Satu-satunya saat di mana mereka sangat rapat bersentuhan satu sama lain adalah pada saat pembelahan meiosis atau pembelahan pematangan sel benih.

II. Asal muasal alat kelamin dalam dan luar.

Dalam Kaplan’s Embryology uraiannya tertulis sebagai berikut:
Sistem Urogenital
RINGKASAN
Sistem urogenital berkembang dari jaringan mesoderm. Sistem urinarius berkembang dari tiga sistem secara berurutan:
1. pronefros terbentuk di daerah servikal dan bersifat sementara.
2. mesonefros terbentuk di daerah toraks dan lumbal, berukuran besar, dan ditandai oleh satuan-satuan ekskresi (nefron) dan saluran pengumpulnya sendiri, yaitu duktus mesonefros atau duktus Wolff. Pada manusia, saluran ini hanya berfungsi dalam waktu singkat, tetapi sebagian besar sistem ini kemudian menghilang.
3. mesonefros atau ginjal tetap berkembang dari dua sumber. Mesonefros membentuk saluran ekskresi atau nefronnya sendiri seperti sistem lainnya, tetapi sistem pengumpulnya berasal dari tunas ureter, yaitu suatu pertumbuhan keluar dari dari saluran mesonefros. Tunas ini menghasilkan ureter, piala ginjal, kalises, dan seluruh sistem saluran pengumpul (Gambar 15.5).


clip_image002

Gambar 15.5
Hubungan antara sistem saluran pengumpul dan saluran ekskresi penting untuk perkembangan normal (Gambar 15.6). clip_image004

Gambar 15.6
Pembagian awal tuna ureter biasa menghasilkan ginjal bifida atau ginjallebih dengan ureter-ureter ektopiknya (Gambar 15.8). Posisi ginjal yang abnormal, seperti ginjalpelvis dan ginjal tapal kuda, juga terkenal (Gambar 5.10).
Sistem genitalis terdiri atas (a) gonad atau gonad primitif, (b) duktus genitalis, dan (c) genitalia eksterna. Ketiga unsur ini melewati suatu tahap indiferen yang memungkinkan mereka berkembang ke arah pria atau wanita. Kromosom Y adalah penentu testis dan menyebabkan (a) berkembangnya korda medulla (testis), (b) terbentuknya tunika albuginea, dan (c) korda korteks (ovarium) gagal berkembang. Bila tidak ada kromosom Y, pembentukan ovarium akan terangsang disertai dengan perkembangan (a) korda korteks yang khas, (b) hilangnya korda medulla (testis), dan (c) gagalnya tunika albuginea untuk berkembang (Tabel 15.1).

clip_image006

Tabel 15.1
Apabila sel-sel benih primordial gagal mencapai gonad indiferen, gonad tersebut akan tetap indiferen atau hilang.
Sistem duktus indiferen dan genitalia eksterna berkembang di bawah pengaruh hormon. Testosteron yang dihasilkan oleh testis merangsang perkembangan duktus mesonefros (vas deferens – epididimis), sambil substansi penghambat Mulleri (SPM) menekan duktus paramesonefros (sistem saluran wanita). Dihidrotestosteron merangsang perkembangan genitalia eksterna, penis, skrotum dan prostat (Tabel 15.2).

clip_image008

Tabel 15.2
Estrogen mempengaruhi perkembangan sistem paramesonefros wanita, termasuk tuba uterina, rahim, dan bagian atas vagina. Hormon ini juga merangsang genitalia, termasuk klitoris, labia, dan bagian bawah vagina (Tabel 15.2). Kesalahan-kesalahan produksi dan sensitivitas terhadap hormon testis menyebabkan menonjolnya ciri-ciri wanita di bawah pengaruh estrogen ibu dan estrogen plasenta.

URAIAN
Sistem Genitalis
Diferensiasi seksual merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan banyak gen, termasuk beberapa gen autosom. Kunci untuk dimorfisme seksual adalah kromosom Y, yang mengandung gen faktor penentu-testis (TDF) pada daerah penentu-seks (SRY). Ada atau tidak adanya faktor ini mempunyai efek langsung pada diferensiasi gonad dan juga bekerja sebagai suatu tombol untuk mengawali rentetan banyak “rangkaian” gen dari kromosom Y yang menentukan nasib organ-organ seksual rudimenter. Kalau faktor ini ada, akan terjadi perkembangan laki-laki; kalau tidak ada akan terjadi perkembangan perempuan.

GONAD
Sekalipun jenis kelamin mudigah ditentukan secara genetik pada saat pembuahan, gonad tidak memperoleh ciri-ciri bentuk pria atau wanita hingga perkembangan minggu ketujuh.
Gonad mula-mula tampak sebagai sepasang rigi yang memanjang, rigi gonad (Gambar 15.6), dan dibentuk oleh proliferasi epitel selom dan pemadatan mesenkim di bawahnya. Sel-sel benih tidak tampak pada rigi kelamin hingga perkembangan minggu ke-6.
Pada mudigah manusia, sel-sel benih primordial tampak pada tingkat perkembangan yang dini di antara sel endoderm di dinding kantung kuning telur di dekat allantois (Gambar 15.17A).

clip_image010

Gambar 15.17
Sel-sel benih ini berpindah dengan gerakan menyerupai amuba sepanjang mesenterium dorsal usus belakang (Gambar 15.17, B dan C). Dan sampai di gonad primitif pada perkembangan minggu ke-6. Apabila mereka gagal mencapai rigi-rigi tersebut, gonad tidak berkembang. Karena itu, sel-sel benih primordial tersebut mempunyai pengaruh induktif terhadap perkembangan gonad menjadi ovarium atau testis.

Gonad Indiferen
Segera sebelum dan selama datangnya sel-sel benih primordial, epitel selom rigi kelamin berproliferasi, dan sel-sel epitel menembus mesenkim di bawahnya. Di sini sel epitel tersebut membentuk sejumlah korda yang bentuknya tidak beraturan, korda kelamin primitif (Gambar 15.18).

clip_image012

Gambar 15.18
Pada mudigah pria dan wanita, korda ini berhubungan dengan epitel permukaan, dan kita tidak mungkin membedakan antara gonad pria dan wanita. Oleh karena itu, gonad ini dikenal sebagai gonad indiferen.


Testis
Apabila mudigah secara genetik bersifat pria, sel-sel benih primordial membawa sebuah gabungan kromosom seks XY. Di bawah pengaruh kromosom Y, yang menjadikan faktor penentu-testis, korda kelamin primitif terus-menerus berproliferasi dn menembus jauh ke dalam medulla untuk membentuk korda testis dan korda medulla (Tabel 15.1) (Gambar 15.19A).

clip_image014

Gambar 15.19
Ke arah hilus kelenjar, korda ini terpecah-pecah menjadi jala-jala sel yang halus, yang kelak membentuk tubulus-tubulus rete testis (Gambar 15.19, A dan B).
Pada perkembangan selanjutnya, korda testis kehilangan hubungan dengan epitel permukaan. Kemudian mereka dipisahkan dari epitel permukaan oleh selapisan jaringan ikat fibrosa padat, yaitu tunika albuginea, suatu gambaran khas testis (Gambar 15.19).
Dalam bulan ke-4, korda testis menjadi berbentuk seperti tapal kuda, dan ujung-ujungnya bersambungan dengan ujung rete testis (Gambar 15.19B). Sekarang korda testis tersusun dari sel-sel benih primordial dan sel-sel sustentakuler sertoli yang berasal dari epitel permukaan kelenjar (Gambar 1.17).

clip_image016

Gambar 1.17
Sel interstitial Leydig berkembang dari mesenkim asli rigi kelamin. Sel-sel ini terletak di antara korda testis dan mulai berkembang segera setelah mulainya diferensiasi korda ini. Pada kehamilan minggu ke-8, produksi testosteron oleh sel Leydig sudah mulai, dan testis sekarang mampu mempengaruhi diferensiasi seksual duktus genitalia dan organ kelamin luar.
Korda testis tetap padat hingga masa pubertas, pada saat korda ini menjadi berongga, sehingga terbentuklah tubulus seminiferus. Setelah tubulus seminiferus mempunyai saluran, tubulus ini bersambungan dengan tubulus rete testis, yang selanjutnya bermuara ke duktuli eferentes. Duktuli eferentes ini ini merupakan bagian saluran ekskresi sistem mesonefros yang tersisa. Fungsinya adalah sebagai penghubung antara rete testis dengan saluran mesonefros atau saluran Wolff, yang dikenal sebagai duktus deferens (Gambar 15.19B).


Ovarium
Pada mudigah wanita yang mempunyai unsur kromosom seks XX dan tidak mempunyai kromosom Y, korda kelamin primitif terputus-putus menjadi kelompok-kelompok sel yang tidak teratur bentuknya (Gambar 15.20A).

clip_image018

Gambar 15.20
Kelompok-kelompok sel ini yang mengandung gugus-gugus sel benih primordial, terletak di bagian medulla ovarium. Kemudian, kelompok-kelompok ini menghilang dan digantikan oleh stroma vaskuler yang membentuk medulla ovarium (Tabel 15.1).
Epitel permukaan gonad wanita, tidak seperti pada pria, terus menerus berproliferasi. Dalam minggu ke-7, epitel ini membentuk korda generasi ke-2, korda korteks yang menembus mesenkim di bawahnya, tetapi tetap dekat permukaan (Gambar 15.20A). Dalam bulan ke-4 , korda ini terpecah menjadi kelompok-kelompok sel tersendiri, yang masing-masing mengelilingi satu atau lebih sel benih primitif (Gambar 15,20B). Sel-sel benih berkembang menjadi oogonia, sedangkan sel epitel di sekitarnya, yang berasal dari epitel permukaan, membentuk sel folikuler (lihat Bab I).
Boleh dikatakan bahwa jenis kelamin satu mudigah ditentukan pada saat pembuahan dan tergantung apakah spermatositnya membawa kromosom X atau Y. Pada mudigah yang mempunyai konfigurasi kromosom seks XX, korda medula gonad mengalami regresi, dan kemudian berkembang korda korteks generasi kedua (Gambar 15.20). Pada mudigah yang mempunyai kompleks kromosom XY, korda medula berkembang menjadi korda testis, dan korda korteks tidak berhasil berkembang (Gambar 15.19).

DUKTUS GENITALIA
Tahap Indiferen
Mula-mula, baik mudigah pria maupun wanita mempunyai dua pasang duktus genitalis, duktus mesonefros, dan duktus paramesonefros. Duktus paramesonefros muncul sebagai suatu invaginasi memanjang epitel selom pada permukaan anterolateral rigi urogenital (Gambar 15.21).

clip_image020

Gambar 15.21
Di sebelah kranial, saluran ini bermuara ke dalam rongga selom dengan struktur menyerupai corong. Di sebelah kaudal, saluran berjalan di sebelah lateral saluran mesonefros, kemudian menyilang di sebelah ventralnya untuk tumbuh di sebelah kaudomedial (Gambar 15.21). Di garis tengah, saluran paramesonefros ini berhubungan erat dengan saluran paramesonefros dari sisi seberang. Kedua saluran itu pada mulanya dipisahkan oleh sebuah sekat tetapi kemudian bersatu membentuk kanalis uterus (Gambar 15.24A).

clip_image022

Gambar 15.24
Ujung kaudal saluran yang telah bersatu tersebut menonjol ke dalam dinding posterior sinus urogenitalis, sehingga menimbulkan tonjolan kecil , yaitu tuberkulum paramesonefrikum atau tuberkulum Mulleri (Gambar 15.24A). Duktus mesonefros bermuara ke dalam sinus urogenitalis pada kedua sisi tuberkulum Mulleri.

DIFERENSIASI SISTEM SALURAN
Perkembangan sistem saluran duktus genitalis dan genitalia eksterna berlangsung di bawah pengaruh hormon yang beredar dalam darah janin selama kehidupan intrauterin. Juga, sel sertoli di dalam testis janin menghasilkan suatu zat non-steroid yang dikenal sebagai Substansia penghambat Mulleri (SPM) atau hormon antimulleri (HAM) yang menyebabkan regresi ductus paramesonefros. Selain zat penghambat ini, testis juga menghasilkan menghasilkan testosteron (androgen utama yang dihasilkan oleh testis), yang memasuki sel-sel jaringan sasaran. Di sini, hormon ini dikonversi menjadi dihidrotestosteron. Testosteron dan dihidrotestosteron berikatan dengan suatu protein reseptor spesifik intrasel yang mempunyai afinitas tinggi, dan akhirnya kompleks hormon reseptor ini ini berikatan dengan DNA untuk mengatur transkripsi gen-gen yang spesifik-jaringan dan produk-produk proteinnya (Gambar 15.22). Kompleks testosteron-reseptor menjadi mediator virilisasi duktus mesonefros, sementara kompleks dihidrotesteron-reseptor mengatur diferensiasi genitalia eksterna pria (Tabel 15.2).
Pada wanita, tidak dihasilkan SPM (Substansia penghambat Mulleri), dan karena tidak ada zat ini, sistem saluran paramesonefros dipertahankan dan berkembang menjadi tuba uterina dan rahim. Faktor-faktor pengendali untuk proses ini tidak jelas, tetapi bisa melibatkan estrogen yang dihasilkan oleh sistem ibu, plasenta, dan ovarium janin. Oleh karena zat perangsang pria tidak ada, sistem duktus mesonefros mengalami regresi. Kalau tidak ada androgen, genitalia eksterna indiferen dirangsang oleh estrogen dan berdiferensiasi menjadi labia mayora, labia minora, klitoris, dan sebagian vagina (Tabel 15.2).

Ductus Genitalia pada Pria
Ketika mesonefros mengalami regresi, beberapa saluran eksokrin, yaitu tubulus epigenitalis, membuat hubungan dengan korda rete testis dan akhirnya membentuk duktus eferen testis (gambar 15.23). Saluran ekskresi di sepanjang kutub kaudal testis, yaitu tubulus paragenitalis, tidak bersatu dengan korda rete testis (Gambar 15.23B).

clip_image024

Gambar 15.23
Sisa-sisa saluran ini keseluruhannya dikenal sebagai paradidimis.
Duktus mesonefros tetap dipertahankan kecuali pada bagian kranial, yaitu appendiks epididimis, dan membentuk duktus genitalia utama (Gambar 15,23). Tepat di bawah muara duktus eferen, duktus mesonefros ini memanjang dan sangat berkelok-kelok, dengan demikian membentuk (duktus) epididimis. Dari ekor epididimis hingga ke tonjol-tonjol vesikula seminalis, duktus mesonefros mendapatkan lapisan otot pembungkus yang tebal dan dikenal sebagai duktus deferens. Daerah duktus yang di luar vesikula seminalis dikenal sebagai duktus ejakulatorius. Duktus paramesonefros pada pria berdegenerasi kecuali sebagian kecil ujung kranialnya, yaitu apendiks testis.

Duktus Genitalis pada Wanita
Duktus paramesonefros berkembang menjadi duktus genitalis utama pada wanita.Pada mulanya, dapat dikenali tiga bagian pada setiap duktus: (a) bagian kranial vertikal yang bermuara ke rongga selom, (b) bagian horizontal yang menyilang duktus mesonefros, dan (c) bagian kaudal vertikal yang bersatu dengan pasangannya dari sisi yang berlawanan (Gambar 15.24A).

clip_image025

Gambar 15.24
Bersama dengan turunnya ovarium, dua bagian yang pertama berkembang menjadi tuba uterina (Gambar 15.24B), dan bagian kaudal bersatu membentuk kanalis uterus. Ketika bagian kedua duktus paramesonefros berjalan ke arah mediokaudal, rigi-rigi urogenital berangsur-angsur terletak pada bidang melintang (Gambar 15.25, A dan B).

clip_image027

Gambar 15.25
Setelah saluran ini menyatu di garis tengah, terbentuklah sebuah lipatan melintang yang lebar di dalam panggul (gambar 15.25C). Lipatan, yang membentang dari sisi lateral duktus paramesonefros yang telah menyatu ke dinding panggul tersebut, dikenal sebagai ligamentum latum uteri. Pada tepi atasnya terdapat tuba uterina, dan pada permukaan belakangnya, terdapat ovarium (Gambar 15.25C). Rahim dan ligamnetum latum uteri membagi rongga panggul menjadi kantong uterorektal dan kantong uterovesikal. Duktus paramesonefros yang telah menyatu tersebut membentuk korpus dan serviks uteri. Bangunan ini dibungkusoleh selaput mesenkim yangmembentuk lapisan otot rahim, yaitu miometrium, dan lapisan peritoneumnya, yaitu perimetrium.

Vagina
Segera setelah ujung padat duktus paramesonefros mencapai sinus urogenital (Gambar 15.26A dan 15.27A), tumbuh dua tonjolan keluar dari bagian pelvic sinus ini (Gambar 15.26B dan 15.27B).

clip_image029
clip_image031

Gambar 15 26 dan 15.27
Evaginasi ini, yaitu bulbus sinovaginalis, berproliferasi dan membentuk sebuah lempeng vagina padat. Proliferasi ini terus berlangsung di ujung kranial lempeng, sehingga memperbesar jarak antara rahim dan simus urogenitalis. Menjelang bulan ke-5, tonjolan vagina ini seluruhnya berongga. Perluasan vagina menyerupai sayap di sekitar rahim, yaitu fornises vagina, berasal dari paramesonefros (Gambar 15.27C). Dengan demikian, vagina mempunyai dua asal-usul; sepertiga bagian atas berasal dari saluran rahim dan dua pertiga bagian bawah berasal dari sinus urogenitalis.
Lumen vagina tetap terpisah dari lumen urogenitalis, yang dikenal sebagai selaput dara (himen) (Gambar 15.26C dan 15.27C). Selaput ini terdiri atas lapisan epitel sinus urogenitalis dan selapis tipis sel vagina. Biasanya vagina membentuk lubang kecil selama masa perinatal.
Beberapa sisa saluran ekskresi bagian kranial dan kaudal masih bersisa pada wanita. Sisa ini terletak di mesovarium, dimana mereka masing-masing membentuk epooforon dan parooforon (Gambar 15.24B). Duktus mesonefros menghilang kecuali sebagian kecil di bagian kranial yang ditemukan pada epooforon dan, kadang-kadang, sebagian kecil bagian kaudalnya, yang dapat ditemukan di dinding rahim atau vagina. Dalam masa kehidupan selanjutnya, sisa ini dapat membentuk, sebuah kista yang disebut kista Gartner (Gambar 15.21B).

III. Perkembangan alat kelamin luar.

GENITALIA EKSTERNA
Tahap Indiferen
Dalam perkembangan minggu ke-3, sel-sel mesenkim yang berasal dari daerah alur primitif bermigrasi ke sekitar membrana kloakalis untuk membentuk sepasang lipatan yang agak menonjol, yaitu lipatan kloaka (Gambar 15.29A).

clip_image033

Gambar 15.29
Di sebelah kranial membrana kloakalis, lipatan ini bergabung membentuk tuberkulum genital. Pada minggu ke-6, membrana kloakalis dibagi lagi menjadi membrana urogenitalis dan membrana analis. Lipatan kloaka juga dibagi lagi menjadi lipatan uretra di sebelah anterior, dan lipatan anus di sebelah posterior (Gambar 15.26B).
Serentak dengan itu, sepasang tonjolan lain, tonjol genitalia, mulai tampak di kedua sisi lipatan uretra. Pada pria tonjolan genitalis ini kelak membentuk tonjol skrotum dan pada wanita menjadi labia mayora (Gambar 15.33B).

clip_image035

Gambar 15.33
Akan tetapi, pada akhir minggu ke-6, sulit membedakan kedua jenis kelamin tersebut (Gambar 15.29C).


Genitalia Eksterna pada Pria
Perkembangan genitalia eksterna pada pria berada di bawah pengaruh hormon androgen yang disekresi oleh testis janin dan ditandai oleh cepat memanjangnya tuberkulum genital yang kini dinamakan phallus (penis) (Gambar 15.30B dan 15.31A).

clip_image037

Gambar 15.30
Bersama dengan pemanjangsn ini, phallus menarik lipatan uretra ke depan sehingga membentuk dinding lateral sulkus uretra. Sulkus ini terbentang sepanjang permukaan kaudal penis tetapi tidak mencapai bagian paling distal, yang dikenal sebagai glans. Lapisan epitel yang melapisi sulkus ini berasal dari endoderm dan membentuk lempeng uretra (Gambar 15.30B).
Pada akhir bulan ke-3, kedua lipatan uretra menutup di atas lempeng uretra, sehingga membentuk uretra pars cavernosa (Gambar 15.30B dan 15.31A).

clip_image039

Gambar 15.31
Saluran ini tidak berjalan hingga ke ujung penis. Bagian uretra yang paling distal ini dibentuk pada bulan ke-4 ketika sel-sel ektoderm dari ujung glans menembus masuk ke dalam dan membentuk sebuah korda epitel yang pendek. Korda ini kemudian memperoleh rongga, sehingga membentuk orifisium uretra eksternum (Gambar 15.30C).
Tonjol-tonjol kelamin pada pria yang dikenal sebagai tonjol skrotum mula-mula terletak di daerah inguinal. Pada perkembangan selanjutnya, tonjol ini bergerak ke kaudal, dan tiap-tiap tonjolan lalu membentuk setengah skrotum. Kedua belahan skrotum dipisahkan satu sama lain oleh sekat skrotum (Gambar 15.30D dan 15.31A).

Genitalia Eksterna pada Wanita
Faktor-faktor yang mengendalikan perkembangan genitalia eksterna wanita tidak jelas, tetapi estrogen memainkan satu peranan (lihat Tabel 15.2) (menurut penulis perkembangan genitalia eksterna wanita langsung dikendalikan oleh kromosom X, pen.). Tuberkulum genital hanya sedikit memanjang dan membentuk klitoris (Gambar 15.31B dan 15.33A); lipatan uretra tidak menyatu seperti halnya pada pria, tetapi berkembang menjadi labia minora, Tonjol kelamin membesar dan membentuk labia mayora. Alur urogenital membuka dan membentuk vestibulum (Gambar 15.31,A dan B). Sebenarnya, dengan menggunakan kriteria panjang tuberkulum (kalau dipantau dengan ultrasonografi) kita bisa salah mengidentifikasi jenis kelamin pada kehamilan bulan ke-3 dan 4.


Bersambung ke : Jenis Kelamin Embrio di Awal Kehidupan dalam Ilmu Embriologi, Seri ke-2



Jember, 16-12-2010



Dr. H.M. Nasim Fauzi

Jl. Gajah Mada 118
Tlp. (0331)481127

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar