Rabu, 20 Maret 2013

Pemanasan Global




Mencegah Pemanasan Global
dengan cara
MENGURANGI Makan Daging



Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi

Pendahuluan
Pada akhir-akhir ini issu pemanasan global makin sering diperbincangkan, karena menyangkut masalah masa depan manusia dan makhluk-makhluk di atas bumi lainnya. Hampir semua bencana di muka bumi dihubungkan dengan kejadian pemanasan global. Angin topan, banjir, kekeringan, gagal panen, kenaikan air laut yang menimbulkan rob. Bahkan gempa, tsunami dan gunung meletus.
Umumnya masyarakat menyalahkan pembakaran bahan bakar fossil yang berlebihan serta penggundulan hutan yang menimbulkan kenaikan kadar gas CO2 di atmosfir yang menimbulkan efek rumah kaca menjadi penyebabnya. Di media cetak dan elektronik tidak pernah disebutkan peran ternak sebagai penyebab pemanasan global. Bahkan buku karangan mantan Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Emil Salim berjudul “Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi” tidak menyebutkannya.
Sewaktu penulis mengakses topik Pemanasan Global di internet barulah peran ternak sebagai salah satu penyebab pemanasan global dibicarakan. Kemudian pada buku “Pemanasan Global” yang disusun oleh Tim SOS peran ternak dibicarakan secara panjang lebar.
Masyarakat dunia telah menyadari akan kegawatan masalah pemanasan global ini. Telah dilakukan persetujuan internasional untuk mengatasinya. Namun di dalam persetujuan itu juga belum dibahas tentang peran ternak dalam pemanasan global.

Pengertian Pemanasan global atau Global warming

    Pemanasan global / Global warming adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.18°C selama 100 tahun terakhir. Sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca.

  Ramalan Kenaikan Pemanasan Global s/d tahun 2100


   Distribusi Pemanasan Global
Apakah Penyebab Pemanasan Global?
Pemanasan global merupakan fenomena global yang disebabkan oleh aktivitas manusia di seluruh dunia, pertambahan populasi penduduk, serta pertumbuhan teknologi dan industri. Oleh karena itu peristiwa ini berdampak global.
1. Efek rumah kaca

        Segala sumber energi yang terdapat di bumi berasal dari matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan bumi. Permukaan bumi akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang dipantulkan ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi, akibat menumpuknya sejumlah gas rumah kaca antara lain uap air, gas karbondioksida (CO2), dan metana (CH4) yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin, sehingga es akan menutupi seluruh permukaan bumi. Akan tetapi, akibat adanya gas-gas tersebut yang berlebih di atmosfer, terjadilah pemanasan global.

2. Efek umpan balik
  
        Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti karbondioksida (CO2), pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapailah suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas karbondioksida (CO2) sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena gas karbondioksida (CO2) memiliki usia yang panjang di atmosfer.
         Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan bumi, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar matahari dan radiasi infra merah ke angkasa luar, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut.
       Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
Umpan balik positif akibat terlepasnya gas karbon dioksida (CO2) dan gas methan (CH4) dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas gas methan (CH4) yang juga menimbulkan umpan balik positif.
Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunnya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton (jasad renik) yang merupakan penyerap karbon yang rendah.
Beberapa aktivitas manusia yang menyebabkan
terjadinya pemanasan global
1. Konsumsi energi bahan bakar fosil. 
Sektor industri merupakan penyumbang emisi karbon terbesar, sedangkan sektor transportasi menempati posisi kedua. Menurut Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral (2003), konsumsi energi bahan bakar fosil memakan sebanyak 70% dari total konsumsi energi, sedangkan listrik menempati posisi kedua dengan memakan 10% dari total konsumsi energi. Dari sektor ini, Indonesia mengemisikan gas rumah kaca sebesar 24,84% dari total emisi gas rumah kaca.
Indonesia termasuk negara pengkonsumsi energi terbesar di Asia setelah Cina, Jepang, India dan Korea Selatan. Konsumsi energi yang besar ini diperoleh karena banyaknya penduduk yang menggunakan bahan bakar fosil sebagai sumber energinya, walaupun dalam perhitungan penggunaan energi per orang di negara berkembang, tidak sebesar penggunaan energi per orang di negara maju.
Kadar gas karbon dioksida (CO2) di atmosfir
Menurut Prof. Emil Salim, USA mengemisikan 20 ton gas CO2/orang per tahun dengan jumlah penduduk 1,1 milyar penduduk, Cina mengemisikan  3 ton gas CO2/orang per tahun dengan jumlah 1,3 milyar penduduk, sementara India mengemisikan 1,2 ton gas CO2/orang dengan jumlah 1 milyar penduduk. 
Dengan demikian, banyaknya gas rumah kaca yang dibuang ke atmosfer dari sektor ini berkaitan dengan gaya hidup dan jumlah penduduk. USA merupakan negara dengan penduduk yang mempunyai gaya hidup sangat boros, dalam mengkonsumsi energi yang berasal dari bahan bakar fosil, berbeda dengan negara berkembang yang mengemisikan sejumlah gas rumah kaca, karena akumulasi banyaknya penduduk.
2. Sampah.
Sampah menghasilkan gas metana (CH4). Diperkirakan 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Sampah merupakan masalah besar yang dihadapi kota-kota di Indonesia. Menurut Kementerian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 1995 rata-rata orang di perkotaan di Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,8 kg/hari dan pada tahun 2000 terus meningkat menjadi 1 kg/hari. Di lain pihak jumlah penduduk terus meningkat sehingga, diperkirakan, pada tahun 2020 sampah yang dihasilkan mencapai 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Dengan jumlah ini maka sampah akan mengemisikan gas metana sebesar 9500 ton/tahun. Dengan demikian, sampah di perkotaan merupakan sektor yang sangat potensial, mempercepat proses terjadinya pemanasan global.

3. Kerusakan hutan.
  
          Salah satu fungsi tumbuhan yaitu menyerap karbondioksida (CO2), yang merupakan salah satu dari gas rumah kaca, dan mengubahnya menjadi oksigen (O2).  Saat ini di Indonesia diketahui telah terjadi kerusakan hutan yang cukup parah.  Laju kerusakan hutan di Indonesia, menurut data dari Forest Watch Indonesia (2001), sekitar 2,2 juta ha/tahun. Kerusakan hutan tersebut disebabkan oleh kebakaran hutan, perubahan tata guna lahan, antara lain perubahan hutan menjadi perkebunan dengan tanaman tunggal secara besar-besaran, misalnya perkebunan kelapa sawit, serta kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Dengan kerusakan seperti tersebut di atas, tentu saja proses penyerapan gas karbondioksida (CO2) tidak dapat optimal.  Hal ini akan mempercepat terjadinya pemanasan global.
  
Menurut data dari Yayasan Pelangi, pada tahun 1990, emisi gas karbondioksida (CO2) yang dilepaskan oleh sektor kehutanan, termasuk perubahan tata guna lahan, mencapai 64 %  dari total emisi gas karbon dioksida (CO2) Indonesia yang mencapai 748,61 kiloTon. Pada tahun 1994 terjadi peningkatan emisi karbon menjadi 74%.

4. Pertanian dan peternakan. 
Sektor ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca melalui sawah-sawah yang tergenang yang menghasilkan gas metana (CH4), pemanfaatan pupuk serta praktek pertanian, pembakaran sisa-sisa tanaman, dan pembusukan sisa-sisa pertanian, serta pembusukan kotoran ternak. Dari sektor ini gas rumah kaca yang dihasilkan yaitu gas metana (CH4) dan gas dinitro oksida (N2O).  Di Indonesia, sektor pertanian dan peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 8.05 % dari total gas rumah kaca yang diemisikan ke atmosfer.
Dampak Pemanasan global atau Global warming
Sejak kira-kira tigapuluh tahun yang lalu, para ilmuwan sudah memberi peringatan pada dunia berkenaan dengan akibat buruk yang ditimbulkan oleh Global Warming atau Pemanasan Global, yang merupakan ancaman paling serius bagi umat manusia setelah perang dingin.



1. Cuaca
       Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.
 Sampai tahun 1950, gletser di sebuah daerah di Alaska masih nampak utuh, belum terpengaruh oleh Pemanasan Global (gambar kiri), namun pada tahun 2002 gletser sudah hampir hilang dari kawasan itu. Dalam gambar ini terlihat salju yang dulunya menyelimuti gunung juga sudah menipis (gambar kanan).
2. Tinggi muka laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi. Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21. Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.
Dalam kurun waktu 2 tahun, yaitu antara 2005-2007 sedikitnya 26 pulau kecil di wilayah Indonesia tenggelam. Antara lain 3 pulau di Aceh 9 (Sanjai, P. Karang Linon Besar, dan Karang Linon Kecil. 3 pulau di Sumatera Utara (P. Pusung, Lawandra dan Niankin), 3 pulau di Papua (Mioswekel, Urbinasi dan Klakepo). 5 pulau di Kepulauan Riau (P. Terumbu Daun, Lereh, Tikus, Inggit dan Begunjai). 2 pulau di Sumatera Barat (P. Kikis dan Sijaujau), dan 7 pulau di Kepulauan Seribu (P. Ubi Besar, Ubi Kecil, Nirwana, P. Dapur, Payung Kecil, Air Kecil dan Nyamuk). Maka dari 17.600 pulau di Indonesia berkurang menjadi 17.480.

3. Pertanian
Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

4. Hewan dan tumbuhan
Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
5. Kesehatan manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.
Persetujuan internasional
Untuk Mengurangi Pemanasan Global
Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.
Perjanjian ini, yang belum diimplementasikan, menyerukan kepada 38 negara-negara industri yang memegang persentase paling besar dalam melepaskan gas-gas rumah kaca untuk memotong emisi mereka ke tingkat 5 persen di bawah emisi tahun 1990. Pengurangan ini harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Pada mulanya, Amerika Serikat mengajukan diri untuk melakukan pemotongan yang lebih ambisius, menjanjikan pengurangan emisi hingga 7 persen di bawah tingkat 1990; Uni Eropa, yang menginginkan perjanjian yang lebih keras, berkomitmen 8 persen; dan Jepang 6 persen. Sisa 122 negara lainnya, sebagian besar negara berkembang, tidak diminta untuk berkomitmen dalam pengurangan emisi gas.
Akan tetapi, pada tahun 2001, Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih, George W. Bush mengumumkan bahwa perjanjian untuk pengurangan karbondioksida tersebut menelan biaya yang sangat besar. Ia juga menyangkal dengan menyatakan bahwa negara-negara berkembang tidak dibebani dengan persyaratan pengurangan karbondioksida ini. Kyoto Protokol tidak berpengaruh apa-apa bila negara-negara industri yang bertanggung jawab menyumbang 55 persen dari emisi gas rumah kaca pada tahun 1990 tidak meratifikasinya. Persyaratan itu berhasil dipenuhi ketika tahun 2004, Presiden Rusia Vladimir Putin meratifikasi perjanjian ini, memberikan jalan untuk berlakunya perjanjian ini mulai 16 Februari 2005.
Banyak orang mengkritik Protokol Kyoto terlalu lemah. Bahkan jika perjanjian ini dilaksanakan segera, ia hanya akan sedikit mengurangi bertambahnya konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer. Suatu tindakan yang keras akan diperlukan nanti, terutama karena negara-negara berkembang yang dikecualikan dari perjanjian ini akan menghasilkan separuh dari emisi gas rumah kaca pada 2035. Penentang protokol ini memiliki posisi yang sangat kuat. Penolakan terhadap perjanjian ini di Amerika Serikat terutama dikemukakan oleh industri minyak, industri batubara dan perusahaan-perusahaan lainnya yang produksinya tergantung pada bahan bakar fosil. Para penentang ini mengklaim bahwa biaya ekonomi yang diperlukan untuk melaksanakan Protokol Kyoto dapat menjapai 300 milyar dollar AS, terutama disebabkan oleh biaya energi. Sebaliknya pendukung Protokol Kyoto percaya bahwa biaya yang diperlukan hanya sebesar 88 milyar dollar AS dan dapat lebih kurang lagi serta dikembalikan dalam bentuk penghematan uang setelah mengubah ke peralatan, kendaraan, dan proses industri yang lebih effisien. Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbondioksida terbukti sulit dilakukan.
Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbondioksida.Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk menegoisasikan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan pinalti yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah. Rusia, merupakan negara yang memperoleh keuntungan bila sistem ini diterapkan. Pada tahun 1990, ekonomi Rusia sangat payah dan emisi gas rumah kacanya sangat tinggi. Karena kemudian Rusia berhasil memotong emisinya lebih dari 5 persen di bawah tingkat 1990, ia berada dalam posisi untuk menjual kredit emisi ke negara-negara industri lainnya, terutama mereka yang ada di Uni Eropa.
       Global warming adalah suatu sejarah terburuk yg dialami oleh bumi sejak terbentuknya hingga sekarang. Saya tercengang sekali melihat  akibatnya yang ditampilkan dalam film. Saya tidak menyangka akan  seburuk itu. Yang berdampak terhadap seluruh kehidupan di muka bumi ini. Baik itu manusia, hewan hingga pada tumbuhan sekalipun.

Pengaruh Industri Peternakan

Terhadap Pemanasan Global

Mengenal Jenis Sapi di Dunia

Sapi yang ada di dunia pada saat ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu kelompok sapi-sapi tropis dan kelompok sapi-sapi sub tropis. Kelompok sapi tropis contohnya sapi Zebu, Bos sondaicus, sapi Bali dan sapi Madura. Sedangkan yang termasuk kelompok sapi sub tropis adalah sapi Aberdeen angus, sapi Hereford, sapi Shorthorn, sapi Charolais, sapi Simmental, sapi Frisien Holland, dan masih banyak lagi jenisnya.
Sedangkan berdasarkan tujuan dari pemeliharaan maka bangsa sapi dapat dibedakan beberapa tipe yaitu :
Sapi Tipe Potong
Sapi Tipe Pekerja
Sapi Tipe Perah

15 Negara Dengan Populasi Sapi Terbanyak di Dunia

 Brazil and India memiliki sapi terbanyak di dunia, sekitar 189 and 187 juta ekor.  

Jumlah ternak 15 negara ini adalah 895.096.200, meliputi 67,2 % dari ternak di dunia.

Komentar penulis:

1. Brazil: Lahan ternak di Brazil yang sangat luas diperoleh dengan cara membuka hutan Amazon yang termasuk hutan tropis terluas di dunia. Sehingga peternakan di Brazil adalah termasuk sumber pemanasan global terbesar di dunia. Jenis sapinya bernama Simbrah yaitu gabungan sapi jenis Simental dan Brahman. Demikian juga Argentina dan Columbia sebagai negara tetangga Brazilia di Amerika selatan termasuk dalam 15 negara dengan populasi ternak terbanyak di dunia. 

 

       Sapi jenis Simbrah di Brazilia.

2. India :  Sebagai negara dengan populasi ternak nomor dua di dunia, juga mempunyai jumlah penduduk nomor dua di dunia setelah China. Bila India bisa mengurangi populasi ternaknya maka makanan ternak itu bisa dipakai untuk memberi makan berjuta penduduknya.  Demikian juga Bangladesh dan Pakistan sebagai tetangga India di Asia Selatan.

 

        Sapi jenis Brahman di India.

3. China: mempunyai populasi sapi nomor tiga di dunia, dengan penduduk terbanyak di dunia. Bila China bisa mengurangi populasi ternaknya maka makanan ternak itu bisa dipakai untuk memberi makan berjuta penduduknya.  Demikian juga Rusia, negara tetangganya.

         Sapi hasil embryo transfer di China
4. Amerika Serikat: mempunyai populasi sapi nomor 4 di dunia, juga memunya penduduk nomor tiga di dunia. Bila AS bisa mengurangi populasi ternaknya maka makanan ternak itu bisa dipakai untuk memberi makan berjuta penduduknya.  Demikian juga Mexico tetangganya.
  Sapi jenis Santa Gertrudis di Texas
5. Sudan, Ethiopia dan Tanzania: Mempunyai populasi sapi nomor 6, 7 dan 15 di dunia. Ketiganya terletak di Afrika terkenal dengan banyak penduduknya yang menderita kurang gizi. Bila kedua negara itu bisa mengurangi populasi ternaknya maka makanan ternak itu bisa dipakai untuk memberi makan banyak penduduknya yang kelaparan.

       Sapi Boran dari Ethiopia
6. Australia: merupakan negara penghasil sapi nomor 9 di dunia. Di antaranya di ekspor ke Indonesia.

   Sapi Australian Commercial Cross
7. Perancis: Merupakan negara di Eropa penghasil sapi nomor 14 di dunia. Di Belanda (tetangga Perancis), sebagian besar endapan hujan berasal dari gas amonia yang dihasilkan peternakan sapi “ ini menyebabkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan polusi semua mobil dan pabrik di Belanda.

            Sapi jenis Limousin
DAMPAK LINGKUNGAN DAN EKONOMI DARI POLA MAKAN DAGING
Dikutip dari : http://www.ivs-online.org/v2/viewenvironment.php?id=1

1. PRODUKSI DAGING SELURUH DUNIA MENINGKAT DENGAN CEPAT
Produksi daging seluruh dunia:
1990: 174 juta ton
1994: 194 juta ton
1997: 210 juta ton

1997: 210 juta ton daging diproduksi. Di Swiss, angka ini mencapai 600.000. Di Swiss, kuantitas konsumsi daging telah melampaui kuantitas konsumsi roti (hal ini mungkin terjadi di negara lain juga). Fakta ini mempunyai dampak lingkungan dan ekonomi yang besar di seluruh dunia. Malangnya, dampak ini tidak mendapatkan banyak perhatian.
1. TINJA CAIR MEMBUAT HUTAN-HUTAN SEKARAT
Penelitian ilmiah terakhir menunjukkan dengan jelas bahwa peternakan massal masa kini adalah penyebab utama dari sekaratnya hutan-hutan. Ahli Biologi Dr. Hans Mohr menyatakan dalam “Spektrum der Wissenscahft” pada bulan Januari 1994:
Sebuah pandangan penting yang diperoleh melalui 10 tahun penelitian terhadap kerusakan hutan adalah sejumlah besar nitrogen dan khususnya amonium nitrogen, yang dihasilkan dari peternakan, harus segera dikurangi. Pembuangan tinja cair dari hewan dan manusia yang kuantitasnya terus meningkat tetap merupakan masalah utama.”
Emisi amonia dari peternakan mencapai angka 90% dari seluruh tinja cair.
Saat ini, tinja manusia sebagian besar dibuang melalui saluran tertanam; tinja hewan, bagaimanapun juga, tetap dibuang begitu saja di permukaan tanah. Hasilnya adalah nitrogen (N) dalam bentuk amonia (NH3), yang pada masa kini ditetapkan sebagai faktor yang paling bertanggungjwab terhadap sekaratnya hutan-hutan, 85% amonia (NH3) disebabkan oleh emisi ternak.
Seekor sapi rata-rata menghasilkan Nitrogen dua kali lipat dibandingkan mobil dengan katalisator yaitu sekitar 36 kilogram per tahun.
Nitrogen, sesungguhnya adalah nutrisi esensial untuk padang rumput, hutan dan kehidupan di dalam air, namun jika berlebihan dapat menuju ke arah fertilisasi berlebihan (over-fertilization). Hal ini sangat terlambat untuk diketahui sebab hutan mula-mula tumbuh lebih cepat dengan pasokan nitrogen yang tinggi dan kemudian menunjukkan reaksi kehancuran hanya jika lapisan tanah menjadi sangat jenuh dengan nitrogen.
Pada tahun 1992, komite peneliti dari Bundestag Jerman untuk topik “Pemulihan atmosfir bumi” mencapai kesimpulan yang sama. Sehubungan dengan amonia (NH3), mereka mempublikasikannya dalam “Perubahan iklim mengancam pembangunan nasional”:
“Emisi amonia (NH3) secara nasional (Jerman Barat), secara benua (Eropa Barat) dan secara global , 80%nya dihasilkan oleh peternakan. 528.000 ton amonia (NH3) dibuang setiap tahun di Jerman Barat. Amonia (NH3) ditemukan di area tertentu, seperti di peternakan dan juga tempat penyimpanan dan produksi pupuk organik. Amonia dan Nitrogen yang dihasilkan dapat diturunkan dengan cara mengurangi jumlah ternak, mengubah makanan ternak, dan mengurangi produksi tinja cair. Hal ini akan menguntungkan tak hanya secara ekologis tapi juga secara ekonomis.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai dampak ekonomis dari hutan yang sekarat, maka dampak ini dapat dihitung dengan mengambil sebuah contoh yaitu Resort Davos di Swiss: Pemusnahan sebagian hutan dari hutan lokal akan menimbulkan biaya sekitar 267 juta Swiss Frank, pemusnahan seluruh hutan lokal akan menimbulkan biaya sebesar 508 juta Swiss Frank. Bahkan bila seluruh area pembatas hutan diganti dengan tanaman pembatas yang lebih banyak, hal ini akan tetap menimbulkan biaya sebesar 415 juta Swiss Frank.

3. PERUSAKAN AIR
Amonia (NH3) tak hanya berdampak sangat buruk terhadap hutan tapi juga air. Fertilisasi berlebihan menyebabkan pertumbuhan alga (ganggang) yang tidak alami, yang pada akhirnya menyerap oksigen dalam air. Peternakan yang ada di darat memproduksi sejumlah tinja cair yang sangat mengancam yang mencemari air. Sebagai contoh, danau Sempach dan danau Baldegg di Swiss diberikan pernafasan (respirasi) buatan dengan meniupkan sejumlah besar oksigen. Sekitar 50% pencemaran air di Eropa disebabkan oleh peternakan massal. Nitrat dari peternakan pada masa kini telah menembus sangat dalam hingga ke air tanah sehingga air minum mineral yang berlabel sesungguhnya tidak lagi layak untuk dijadikan air minum. Di Amerika Serikat, peranan peternakan dalam pencemaran air telah lebih besar daripada pencemaran oleh semua kota dan industri!
4. PENGASAMAN BERLEBIHAN TERHADAP LAPISAN TANAH
Amonia (NH3) dan Nitrogen Oksida (NO2) memberikan sumbangan besar atas pengasaman berlebihan (over-acidification) terhadap lapisan tanah. Hal ini telah terjadi di Belanda pada tahun 1989 sehingga departemen terkait mengambil tindakan terhadap masalah ini. Hasil penelitian Lembaga Kesehatan dan Perlindungan Lingkungan Belanda menyebutkan : “Nitrat dari tinja cair yang dilepaskan ke udara sebagai amonia (NH3) adalah peracunan lingkungan yang menyebabkan apa yang biasa disebut dengan hujan asam dan kandungan lain yang mengandung asam. Di Belanda, sebagian besar endapan hujan berasal dari gas amonia yang dihasilkan peternakan sapi “ ini menyebabkan kerusakan yang lebih besar dibandingkan polusi semua mobil dan pabrik di Belanda.”
Peternakan telah menyita 1/3 dari tanah massa di planet ini
Worldwatch Institute

5. EFEK PEMANASAN GLOBAL

Sampai sekarang, pada dasarnya angkutan dan industri sering dituding bertanggungjawab terhadap efek pemanasan global. Pengaruh peternakan dalam hal ini telah diabaikan sejak lama. Pimpinan Institusi Untuk Iklim, Lingkungan dan Energi di Wuppertal, Ernst U.v. Weizs√ɤcker berkomentar atas hal ini : “Sumbangan peternakan kepada efek pemanasan global kurang lebih sama dengan yang disumbangkan angkutan otomotif, jika kita mempertimbangkan musnahnya hutan untuk peternakan. Pengubahan padang savana menjadi gurun, erosi di pegunungan, kebutuhan air yang sangat besar untuk ternak, kebutuhan energi yang sangat besar untuk menggemukkan hewan adalah alasan bagi kita untuk bertindak lebih lanjut untuk setiap pon daging, demi lingkungan hidup kita.”
Selain oleh penyebab lain, efek pemanasan global disebabkan oleh tiga gas yaitu methana (CH4), karbon dioksida (CO2) dan nitrogen oksida (N2O). Ketiganya berasal dari peternakan besar. 12% emisi gas methana dihasilkan hanya oleh 1.3 milyar ternak yang dipelihara di seluruh dunia. Peternakan menghasilkan 115 juta ton gas methana dalam satu tahun. Hal ini jauh lebih berbahaya, jika kita tahu bahwa satu molekul methana menyumbang efek pemanasan global 25 kali lebih besar daripada satu molekul karbon dioksida.
Sejak 1970 lebih dari 20 juta hektar hutan tropis telah berubah menjadi peternakan. Worldwatch Institute 
Pembakaran hutan Amazon untuk peternakan

6. PEMBOROSAN SUMBER DAYA ALAM
        Konsumen yang bertanggungjawab atas produksi daging juga paling bertanggungjawab untuk pemborosan sumber daya alam. Sebidang tanah yang sama untuk menghasilkan satu kilogram daging, dapat menghasilkan 200 kilogram tomat atau 160 kilogram kentang untuk periode yang sama. Di Swiss, diperkirakan 67% tanah produktif digunakan sebagai peternakan atau digunakan untuk menumbuhkan pakan ternak. Sekitar 100 liter air dibutuhkan untuk menumbuhkan 1 kilogram biji-bijian, sedangkan produksi satu kilogram daging membutuhkan 2000 hingga 3000 liter air.

7. PEMBOROSAN BAHAN PANGAN
Satu bidang tanah dapat menghasilkan bahan pangan dengan kuantitas sbb 
Cherries 1.000 kg
Wortel 6.000 kg
Apel 4.000 kg
Daging sapi 50 kg
Seseorang membutuhkan 7 hingga 16 kilogram biji-bijian atau kacang kedelai untuk menghasilkan satu kilogram daging ternak. Hal ini merupakan cara yang paling efektif untuk memboroskan bahan pangan. Perpanjangan dari rantai makanan yang terkait dengan pengubahan biji-bijian menjadi daging menyebabkan, selain penyebab lain, 90% protein,99% karbohidrat dan 100% serat hilang begitu saja. Sebagai tambahan, hanya sebagian kecil dari tubuh hewan yang dijagal mengandung daging yang diinginkan yaitu hanya 35% dari berat tubuh ternak atau 39% dari berat anak sapi (tanpa tulang).
Lebih-lebih lagi, di Swiss 57 % biji-bijian digunakan untuk pakan hewan (1990). Di Amerika Serikat 80% panen biji-bijian digunakan untuk pangan 8 milyar hewan yang kemudian dijagal. Untuk kacang kedelai angkanya dapat mencapai 90% di seluruh dunia. Sekitar separuh produksi biji-bijian dunia dijadikan pakan hewan untuk konsumsi daging.
         Jika orang Amerika dapat makan daging 10% lebih sedikit saja, kuantitas biji-bijian yang dihemat dapat menyelamatkan satu milyar orang dari kelaparan. Sekitar 1,200,000 ton makanan bergizi diberikan kepada ternak di Swiss, kebanyakan biji-bijian. Swiss dapat menanggung pemborosan ini, namun negara-negara berkembang nampaknya tak sanggup menanggungnya. Seperti Laporan FAO, pada tahun 1981, 75% impor biji-bijian di dunia ketiga digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan pengembangan bahan pangan domestik bersaing dengan pengembangan bahan pakan ternak global.
Di Mesir, dalam 25 tahun terakhir, pengembangan jagung sebagai pakan ternak telah menyita tanah yang lebih besar daripada tanah untuk menghasilkan gandum, beras dan millet (=sejenis beras) yang merupakan bahan pangan pokok rakyat Mesir. Pertumbuhan dari biji-bijian yang digunakan sebagai pakan ternak telah meningkat dari 10% hingga 36%. Kejadian yang sama juga terjadi di negara yang mengalami peningkatan konsumsi daging.
Selama tahun 1950, 170 kilogram biji-bijian per kepala cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan populasi di Taiwan. Sampai 1990, konsumsi daging dan telur melonjak enam kali lipat. Kebutuhan biji-bijian per kepala meningkat menjadi 390 kilogram karena perpanjangan rantai makanan ini. Taiwan dapat memenuhi peningkatan kebutuhan ini dengan impor, selain meningkatkan produksi lokal. Bila Taiwan dapat mengekspor biji-bijian pada tahun 1950 maka pada tahun 1990 Taiwan harus mengimpor biji-bijian dari luar negeri sejumlah yang dibutuhkan, dan kebanyakan adalah biji-bijian untuk pakan ternak.
Hal yang sama menimpa mantan Uni Soviet. Konsumsi daging meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun 1950, bahkan permintaan untuk pakan ternak meningkat empat kali lipat. Di tahun 1990 ternak dari mantan Uni Soviet mengkonsumsi biji-bijian tiga kali lipat lebih besar dibandingkan konsumsi biji-bijian penduduknya. Impor biji-bijian untuk pakan ternak menunjukkan hal ini. Impor meningkat dari hampir nihil di tahun 1970 menjadi 25 juta ton per tahun di tahun 1990. Saat itu mantan Uni Soviet menjadi pengimpor pakan ternak kedua terbesar di seluruh dunia.

8. DAMPAK KESEHATAN
Pola makan vegetarian tidak hanya dapat dilakukan tapi juga sangat sehat.
Melalui perpanjangan rantai makanan dengan memberi makan hewan dengan pangan nabati dan kemudian memakan daging hewan, ada kerugian lainnya yaitu : pestisida, logam berat dan racun lain yang terkandung dalam pakan ternak akan bertambah tinggi di dalam tubuh hewan. Hal ini menyebabkan kandungan pestisida dalam daging 14 kali lipat dibandingkan pangan nabati, sedangkan kandungan pestisida produk susu 5.5 kali lipat dibandingkan pangan nabati. Konsumsi produk hewani dalam skala massal telah meningkat pesat selama beberapa dasawarsa terakhir sehingga kerugian pola makan daging mulai nampak jelas; tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan pembuluh darah, rematik, encok, radang kulit dan beberapa jenis kanker, hanyalah beberapa dari apa yang biasa disebut sebagai penyakit-penyakit akibat peradaban, yang mana kita tahu bahwa konsumsi produk hewani adalah pemicu utamanya. Klaim yang sering didengar adalah manusia butuh daging untuk tetap sehat. Hal ini telah dibuktikan salah oleh peneliti sejak lama dan hal ini hanya lobby yang selalu dinyatakan oleh beberapa perwakilan dari peternakan.

9. EKONOMI
Bagaimana mungkin konsumsi daging dapat terus meningkat di seluruh dunia meskipun banyak kerugian menimpa masyarakat yang berorientasi pada daging seperti yang disebutkan di atas? Di samping beberapa alasan psikologis dan sosial yang sebagian besar ditimbulkan oleh iklan (misalnya iklan bahwa daging memberi kekuatan, dll), ada satu aspek yang tak boleh diremehkan yaitu: uang. Dalam pandangan sekilas, hal ini nampaknya menjadi kontradiksi karena cabang ekonomi yang dirancang merusak pangan dan sumber daya alam akan runtuh dalam jangka waktu panjang. Tak ada kaitan yang masuk akal antara biaya dan keuntungan dari produksi daging seluruh dunia.

10. BIAYA DITANGGUNG PEMBAYAR PAJAK
Satu alasan mengapa industri daging tetap ada adalah bahwa pendapatan dari bisnis ini ditransfer ke kepemilikan pribadi, sedangkan biayanya ditanggung publik (dan itu bermuara pada pembayar pajak). Hal ini sangat terkenal dalam cabang ekonomi lain (misalnya industri otomotif). Tak ada kebenaran perlakuan terhadap biaya dalam industri peternakan pula. Menurut perkiraan yang dibuat oleh Worldwatch Institute di Washington, harga daging akan meningkat dua kali atau tiga kali lipat bila seseorang mempertimbangkan seluruh biaya ekologis termasuk pembakaran bahan bakar fosil, penurunan tingkat air tanah, pencemaran kimiawi terhadap permukaan tanah, dan pelepasan gas seperti amonia dan methana. Terakhir adalah biaya sistem kesehatan publik.
11. SUBSIDI GILA-GILAAN OLEH NEGARA
Sangat kontras dengan cabang ekonomi lainnya, industri daging adalah industri yang disubsidi oleh negara di hampir semua negara sebab industri ini tidak menguntungkan (kecuali bila publik yang menanggung biaya). Di Swiss, negara menggunakan sekitar 84% subsidi pertanian dan peternakan untuk produksi daging, produk susu dan telur. Hanya 16% subsidi tersebut yang tersedia untuk produksi makanan nabati.
Tak ada pasar yang gambarnya demikian rusak selain sektor peternakan. Dapatkah Anda membayangkan perusahaan perorangan menerima subsidi dari negara lebih banyak dari yang seharusnya melalui penjualan dari barang-barang yang diproduksinya? Bahkan pembelian barang-barangnya dijamin oleh negara? Semua negara Blok (Eropa) Timur dibimbing menuju ke tepi jurang oleh politik tertentu. Namun di negara dengan ekonomi pasar bebas, politik sejenis itu juga ada di dalam industri peternakan.
Pengeluaran negara untuk mengamankan harga dan penjualan (1992 dalam Swiss Frank)
        Untuk bisnis peternakan 1205.9 juta
        Untuk pertanian 332.1 juta
77% pendapatan Swiss dapat ditelusuri kembali ke subsidi secara langsung maupun tidak langsung seperti halnya berbagai bentuk campur tangan negara yang tak terhitung banyaknya. Subsidi ini membebani negara sebesar 7 milyar Swiss Frank setiap tahun. Sampai saat ini ada 3500 orang yang bekerja dalam birokrasi peternakan di Swiss. Mereka menghabiskan 900 juta Swiss Frank per tahun untuk mendukung organisasi peternakan saja. Sekitar 99.5% dari angka ini disediakan untuk peternak. Hal yang sama terjadi di negara industri lainnya. Bisnis ternak tak hanya didukung dan dijaga agar tetap hidup secara nasional tapi juga internasional. Dari 1963 hingga 1985, Bank Dunia memompa 1.5 milyar dollar Amerika Serikat untuk bisnis ternak di Amerika Latin, kebanyakan untuk peternakan besar. Tanpa memperhitungkan biaya yang harus ditanggung publik dan subsidi negara yang mengerikan, peternakan adalah bisnis gila berwajah ganda bagi peternak maupun bank. Di Amerika Serikat, pada waktu tertentu sekitar 2,000 peternak (atau petani yang menghasilkan pakan ternak) per minggu keluar dari profesi mereka sebab mereka tak sanggup bersaing dengan produksi daging masa kini yang sangat intensif. Peternak atau petani penghasil pakan ternak membutuhkan mesin yang semakin lama semakin mahal dan untuk dapat membeli mesin ini mereka membutuhkan pinjaman yang lebih tinggi dari bank. Selama 1986 misalnya, 160 bank Amerika Serikat bangkrut, kebanyakan mereka hancur karena bisnis peternakan.
12. KESIMPULAN PENTING
Karena pola makan seseorang adalah sangat pribadi, pengungkapan dampak-dampak buruk yang mungkin dapat terjadi dari pola makan tertentu, sangat tidak populer. Lebih-lebih, artikel ini yang mencoba memberi gambaran dampak buruk lingkungan dan ekonomi atas pola makan yang berlandaskan produk hewani, hanya dapat diterima oleh orang yang sadar dan mengerti tanggung jawab mereka terhadap lingkungan mereka. Semua topik yang disebutkan dalam artikel ini mempunyai dampak ekonomis yang serius. Sebuah sistem ekonomi yang dapat bertahan lama dan ramah lingkungan tidak mungkin terwujud tanpa mempertimbangkan fakta ini. Seseorang hanya dapat berharap bahwa di masa depan tak hanya aktivis lingkungan dan orang-orang yang mencegah kekejaman terhadap hewan, yang akan berupaya untuk menangani masalah konsumsi daging tapi juga ekonom dan politikus. Untuk pelopor ekonomi bebas seperti Werner Zimmermann, hal ini sangat alami. Mereka berjanji pada diri mereka sendiri untuk berubah dan mengikuti falsafah hidup vegetarian seperti halnya perubahan dalam sistem ekonomi kita. Sebaliknya mungkin kita tak perlu mengurusi perubahan dalam sistem ekonomi kita, yang mungkin sangat sulit kita lakukan, namun setiap orang dapat membuat langkah awal dengan mengubah pola makannya.

Dampak Lingkungan dari Industri Peternakan

1. KEHILANGAN KEANEKARAGAMAN HAYATI
  •       Kerusakan yang disebabkan oleh produksi peternakan mengancam flora dan fauna di seluruh dunia. Gaya hidup nabati di seluruh dunia diperhitungkan dapat mencegah lebih dari 60% kehilangan keragaman hayati.1
    (Rethinking Global Biodiversity Strategies, Netherlands Environmental Assessment Agency, 2010)
  •       Contoh: Di Mongolia, 82% dari keseluruhan area tanah ditujukan sebagai padang rumput permanen bagi hewan ternak untuk merumput, yang merupakan ancaman tunggal terbesar bagi kehilangan keragaman hayati di Mongolia dan seluruh Asia Tengah.2,3 (UN FAO)
2. PENGGUNDULAN HUTAN
  •       Peningkatan peternakan merupakan salah satu penyebab utama penggundulan hutan.4 (UN FAO, 2006)
  •       Sejak 1990-an sekitar 90% penggundulan hutan Amazon dikarenakan pembersihan lahan untuk tempat merumput sapi atau menanam makanan untuk peternakan.5
  •       Di Queensland, Australia, 91% dari pembersihan seluruh pohon dalam periode 20 tahun lebih telah dilakukan untuk tempat merumput peternakan.6 (recent report on a 20-year study commissioned by the Queensland government by Mr. Gerald Bisshop, retired principal scientist of the Queensland Department of Environment and Resources Management)
3. PENGGURUNAN
·         Penggurunan disebabkan oleh penggembalaan ternak yang berlebihan dan perluasan dari area menanam sumber makanan bagi peternakan. (TPN3 Rangeland Management in Arid Areas including the fixation of sand dunes, UNCCD, 2003) Lebih dari 50% erosi tanah di Amerika Serikat disebabkan oleh peternakan, yang menyebabkan penggurunan.
·         Lebih dari 50% erosi tanah di Amerika Serikat disebabkan oleh peternakan, yang menyebabkan penggurunan.8
  •       Sekitar 75 juta ton humus tererosi setiap tahunnya dikarenakan kesalahan manajemen pertanian, perubahan iklim, dan penggembalaan ternak. Hanya di Amerika Serikat saja, 54% humus habis karena penggembalaan yang berlebihan, dengan lebih dari 100 ton humus hilang per hektar setiap tahunnya.9
    (A study presented by Professor John Crawford at the recent Carbon Farming Conference held in New South Wales, Australia)
  •       Pada 2010, Irak, China, Chad, Australia dan Mongolia, di antara negara lainnya, dilaporkan mengalami kekeringan yang parah, dengan penggembalaan peternakan membuat kondisi semakin parah.
4. PENYAKIT
  •       Lebih dari 65% penyakit menular manusia diketahui ditularkan melalui hewan.10 Kondisi yang kotor dan tidak manusiawi dari pabrik peternakan menjadi pusat bakteri dan virus yang mematikan seperti flu burung dan flu babi.11
  •       Penyakit lainnya yang berhubungan dengan memakan daging: TBC, listeria, penyakit Crohn, penyakit sapi gila, campylobacter, Staphylococcus aureus, penyakit makanan-dan-mulut, HIV, wabah radang paru-paru 2009 yang berjangkit di China.
  •       Antibiotik yang dipakai teratur dalam peternakan menyebabkan bakteri bermutasi, menjadi penyakit yang kebal obat.12,13,14
5. EMISI GAS RUMAH KACA
  •      Peternakan dan produknya bertanggung jawab atas setidaknya 51% seluruh emisi gas rumah kaca. (Goodland, Anhang, 2009)15
  •       Aerosol, atau partikel yang dilepaskan bersamaan dengan CO2 dari bahan bakar fosil meskipun mengganggu aspek kesehatan, tetapi memiliki efek mendinginkan yang menyeimbangkan efek pemanasan CO2. Oleh karena itu, emisi peternakan telah memainkan peran yang lebih besar dalam pemanasan global selama ini. (Mohr, 2009)16
  •       METANA Metana yang hampir 100 kali lebih berdaya daripada CO2 selama periode 5 tahun,17 namun menghilang dari atmosfer jauh lebih cepat dibandingkan dengan CO2 yang butuh waktu berabad-abad atau ribuan tahun.  Sumber metana terbesar yang disebabkan oleh manusia adalah peternakan.18
  •       Emisi METANA dari peternakan diremehkan.
    Berdasarkan perhitungan ulang, para peneliti Amerika Serikat dari Universitas Missouri telah menyimpulkan bahwa jumlah metana yang dipancarkan dari kotoran peternakan sapi dan babi dapat menjadi lebih tinggi sebanyak 65% dari yang diperhitungkan sebelumnya.
    19,20
  •       OZON DI PERMUKAAN TANAH (TROFOSFER) adalah gas rumah kaca yang paling umum ketiga setelah karbon dioksida dan metana. Makanan hewan yang difermentasikan menghasilkan gas ozon yang berbahaya, dan pada tingkat regional lebih tinggi dari tingkat yang dipancarkan oleh mobil.22,23,24,25
  •       KARBON HITAM, (4.470 kali lebih berdaya daripada CO2), terutama dihasilkan dari hutan dan padang rumput yang dibakar demi peternakan, bertanggung jawab atas 50% peningkatan total temperatur di Arktik dan percepatan terhadap mencairnya lapisan es di penjuru dunia. Karbon hitam tertinggal di atmosfer hanya selama beberapa hari atau minggu, jadi mengurangi emisi ini dapat menjadi jawaban cepat yang efektif untuk memperlambat pemanasan dalam waktu dekat ini. 26 (Nature Geoscience)
  •       DINITROGEN OKSIDA adalah gas rumah kaca dengan potensi sekitar 300 kali lebih panas daripada CO2. Enam puluh lima persen dari emisi dinitrogen oksida di dunia berasal dari industri peternakan. 27 
6. PENGGUNAAN TANAH
  •       Produksi peternakan menggunakan 70% dari seluruh tanah pertanian dan 30% permukaan tanah tanpa-es di planet ini.28 (Livestock’s Long Shadow, UN FAO, 2006)
7. KERUSAKAN LAUTAN
  •       Sektor peternakan adalah sumber polusi gizi terbesar, yang menyebabkan perkembangan alga beracun dan penyusutan oksigen, menyebabkan “zona mati” di laut yang tidak mampu untuk mendukung makhluk laut apapun. 29 (Livestock’s Long Shadow, UN FAO, 2006)
  •       90% dari semua ikan besar telah menghilang dari lautan, sebagian besar akibat kelebihan penangkapan ikan. 30 (Nature Journal, Myers & Worm, Dalhousie Univ, May 15, 2003)
  •       Perikanan (peternakan ikan), bertanggung jawab terhadap 50% dari konsumsi ikan dan kerang secara global, yang mengancam ikan liar. 31 (Proceedings of the National Academy of Sciences, 2009)
  •       Contoh: Diperlukan 5 pon ikan liar untuk menghasilkan 1 pon salmon.32 (Naylor. Stanford's Woods Institute for the Environment and Freeman Spogli Institute for International Studies)
  •       Sepertiga sampai setengah dari penangkapan ikan global digunakan sebagai pangan ternak (babi dan ayam).33,34 (Annual Review of Environment and Resources, Sea Shepherd)
8. POLUSI
  •       Dari semua sektor, industri daging adalah sumber polusi air terbesar. Limbah ternak yang berlebihan dan tidak diatur, pupuk kimia, pestisida, antibiotik, dan zat pencemar terkait ternak meracuni saluran air.35
  •       Industri peternakan menghasilkan 64% dari semua amonia, yang menyebabkan hujan asam dan hidrogen sulfida, jenis gas yang berbahaya.36,37
  •       Satu peternakan menghasilkan lebih banyak limbah dan polusi dibanding seluruh limbah kota Houston, Texas, AS.38
  •       Pada tahun 1996, industri sapi, babi dan ayam AS menghasilkan 1,4 miliar ton limbah ternak, atau 130 kali lebih banyak daripada yang diproduksi oleh keseluruhan populasi manusia.39
  •       Kotoran ternak sudah dikenal sebagai penyebab utama baik itu polusi air tanah dan pemanasan atmosfer. Terlebih lagi, kebocoran kotoran dan pupuk pertanian lainnya bertanggung jawab terhadap sekitar 230 penyusutan oksigen di zona-zona mati di sepanjang pesisir AS saja.40,41
  •       Contoh: Zona mati di Teluk Meksiko yang dihasilkan akibat limbah ternak adalah salah satu yang terbesar di dunia sebesar lebih dari 8.000 mil persegi.42
  •       Penyebaran danau kotoran Rodrigo de Freitas di Brasil pada bulan Februari 2010 menyebabkan ikan mati lemas dan kematian sebanyak 80 ton ikan.43,44
  •       Perikanan mencemari lingkungan dengan ganggang beracun dan bahan kimia seperti pestisida dan antibiotik.45 (WWF)
9. PEMAKAIAN SUMBER DAYA BERLEBIHAN
  •       Bahan Bakar. Satu potong daging sapi panggang seberat 6 ons memerlukan 16 kali energi bahan bakar fosil lebih banyak daripada satu hidangan vegan berisi tiga jenis sayuran dan nasi. 46(NYTimes)
  •       Satu kilogram daging sapi setara dengan berkendara sejauh 250 kilometer dan menyalakan lampu 100-watt selama 20 hari tanpa henti.47 ( (National Institute of Livestock and Grassland Science in Japan)
  •       Emisi. Emisi pola makan daging setara dengan mengendarai mobil sejauh 4.758 kilometer – 17 kali dari emisi pola makan vegan organik, yang hanya setara dengan 281 kilometer berkendara. Dengan kata lain, pola makan vegan organik menghasilkan 94% lebih sedikit polusi dibanding pola makan daging. 48,49 (Institute for Ecological Economy Research in Germany)
  •      Tanah. Satu orang pemakan daging memerlukan dua hektar (10 km persegi) – yaitu empat ekar tanah – untuk mendukungnya. Tapi dua hektar yang sama, atau empat ekar tanah, bisa mendukung gaya hidup sehat dari 80 orang vegan.
  •       Makanan. Saat ini, 80% anak-anak yang kelaparan tinggal di negara-negara yang mengekspor hasil pertanian yang biasanya dijadikan makanan ternak.50
  •       Dua pertiga ekspor biji-bijian AS digunakan untuk memberi makan ternak bukannya untuk memberi makan manusia.51
  •       Memproduksi 1 kilogram daging sapi memerlukan 7 kilogram biji-bijian untuk makanannya yang bisa digunakan secara langsung untuk konsumsi manusia, 52,53 sementara menghasilkan kurang dari sepertiga jumlah protein dari biji-bijian itu.54
  •       Sekitar 40% persediaan biji-bijian dunia diberikan kepada ternak.55 dan 85% dari kedelai kaya protein dunia diberikan untuk makanan sapi dan hewan lainnya.56.
  •       Air. Satu orang menggunakan lebih dari 15.000 liter air perharinya untuk pola makan daging, ini 15 kali lebih banyak dibanding pemakaian air vegan.57,58
10. KEKURANGAN AIR
  •       Menurut Stockholm International Water Institute, pertanian bertanggung jawab terhadap 70% dari semua pemakaian air, sebagian besar untuk produksi daging.59
  •       Memerlukan lebih dari 200.000 liter air untuk memproduksi 1 kilogram daging sapi, tapi hanya perlu 2.000 liter untuk memproduksi 1 kilogram kedelai, 900 liter untuk menghasilkan gandum, dan 650 liter untuk menghasilkan jagung. 60 (Pimentel D, Berger B, Filiberto D, et al. (2004) Water Resources, Agriculture, and the Environment)

Laporan PBB th 2006 - dampak industri peternakan terhadap lingkungan
Mungkin masih kurang banyak orang yang tahu bahwa pada th 2006 FAO mengeluarkan laporan berjudul "Livestock’s Long Shadow–Environmental Issues and Options"
Di situ disebutkan bahwa ekuivalen gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri peternakan modern di seluruh dunia nilainya lebih besar daripada total emisi CO2 seluruh transportasi bermotor di dunia. Laporan asli bisa dibaca di sini: http://www.virtualcentre.org/en/libr...d/A0701E00.htm
Kenapa bisa begitu? Jawabannya ada pada jumlah hewan ternak yang luar biasa besar. Peternakan menyita 30% daripada seluruh permukaan tanah kering di bumi. Dari seluruh area tanah subur 33% dijadikan ladang bagi pakan ternak. Limbah berupa kotoran ternak yang terurai melepaskan gas NO2 dan CH4 ke udara. NO2 adalah senyawa yang 296 kali lebih berpotensi menimbulkan gas rumah kaca daripada CO2. Selain itu sistem pencernaan sapi juga menghasilkan gas metana (methane atau CH4) yang dikeluarkan saat sapi-sapi itu bersendawa. Gas ini memiliki nilai kesetaraan emisi gas rumah kaca 23 kali lebih besar daripada CO2. Belum lagi kerusakan lingkungan karena hutan yang tadinya menjadi paru-paru dunia, dialihkan fungsinya menjadi ladang ternak. Jadi kontribusi sektor ini dalam memperbesar efek gas rumah kaca sungguh berlipat ganda.
Berdasarkan fakta ini, maka bila kita benar-benar ingin mengurangi efek gas rumah kaca secara drastis, mengubah pola makan kita semua menjadi pola makan yang berbasiskan tanaman adalah pilihan yang paling efektif dan bijaksana. Tentu saja selain itu berbagai tindakan hijau lainnya yang sudah sering diposting dalam forum ini ikut serta membantu, terutama adalah dengan menanam pohon sebanyak mungkin.
John Robbins, dalam bukunya Diet for a New America menyebutkan bahwa dibutuhkan 16 pon pakan ternak dan biji-bijian (grains) untuk memproduksi 1 pon daging. Jika kacang-kacangan dan sayuran ini langsung dikonsumsi manusia; atau ladang pakan ternak dialihkan menjadi ladang sayuran / kacang-kacangan, maka beralih dari makan 1 kg daging sapi menjadi 1 kg “ veggie steak” bisa diartikan memberikan kesempatan makan bagi 15 orang lain.

Komentar Penulis Tentang Pengaruh Peternakan Terhadap Pemanasan Global
Dari uraian di atas ternyata industri peternakan di dunia menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global dengan bukti=bukti sebagai berikut:
Pemanasan global ditimbulkan oleh produksi gas-gas yang bisa menimbulkan efek rumah kaca ke atmosfer. Yaitu uap air (H2O), karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan ozon. Juga gas dinitro oksida (N20), gas amonia (NH3) dan gas hidrogen sulfida (H2S).
Peternakan dan produknya bertanggung jawab atas setidaknya 51% seluruh emisi gas rumah kaca. (Goodland, Anhang, 2009).
Limbah berupa kotoran ternak yang terurai melepaskan gas dinitro oksida (NO2) dan methan (CH4) ke udara. NO2 adalah senyawa yang 296 kali lebih berpotensi menimbulkan gas rumah kaca daripada CO2. Selain itu sistem pencernaan sapi juga menghasilkan gas metana (methane atau CH4) yang dikeluarkan saat sapi-sapi itu bersendawa. Gas ini memiliki nilai kesetaraan emisi gas rumah kaca 23 kali lebih besar daripada CO2. Tinja hewan, bagaimanapun juga, tetap dibuang begitu saja di permukaan tanah. Hasilnya adalah nitrogen (N) dalam bentuk amonia (NH3), yang pada masa kini ditetapkan sebagai faktor yang paling bertanggungjwab terhadap sekaratnya hutan-hutan, 85% amonia (NH3) disebabkan oleh emisi ternak.
Pemakaian tanah dan tanaman pangan di dunia
untuk manusia dan ternak.
- Saat ini, 80% anak-anak yang kelaparan tinggal di negara-negara yang mengekspor hasil pertanian yang biasanya dijadikan makanan ternak.
  Maka masalah kelaparan di dunia dapat diatasi dengan cara mengurangi populasi ternak

- Dua pertiga ekspor biji-bijian AS digunakan untuk memberi makan ternak bukannya untuk memberi makan manusia.
- Sekitar 40% persediaan biji-bijian dunia diberikan kepada ternak, dan 85% dari kedelai kaya protein dunia diberikan untuk makanan sapi dan hewan lainnya.
- Peternakan telah menyita 1/3 dari tanah massa di planet ini [16].
Worldwatch Institute
.
- Sejak 1970 lebih dari 20 juta hektar hutan tropis telah berubah menjadi peternakan. Worldwatch Institute.
- Sebidang tanah yang sama untuk menghasilkan 1 kg daging, dapat menghasilkan 200 kg tomat atau 160 kg kentang untuk periode yang sama.
- Di Swiss, diperkirakan 67% tanah produktif digunakan sebagai peternakan atau digunakan untuk menumbuhkan pakan ternak.
= Di Swiss 57 % biji-bijian digunakan untuk pakan hewan (1990).
- Di Amerika Serikat 80% panen biji-bijian digunakan untuk pangan 8 milyar hewan yang kemudian dijagal.
- Untuk kacang kedelai angkanya dapat mencapai 90% di seluruh dunia [19].
- Sekitar separuh produksi biji-bijian dunia dijadikan pakan hewan untuk konsumsi daging.
- Satu bidang tanah dapat menghasilkan bahan pangan dengan kuantitas sbb Cherries 1.000 kg, wortel 6.000 kg, apel 4.000 kg dan daging sapi 50 kg.
- Seperti laporan FAO, pada tahun 1981, 75% impor biji-bijian di dunia ketiga digunakan sebagai pakan ternak. Bahkan pengembangan bahan pangan domestik bersaing dengan pengembangan bahan pakan ternak global.
- Di Mesir, dalam 25 tahun terakhir, pengembangan jagung sebagai pakan ternak telah menyita tanah yang lebih besar daripada tanah untuk menghasilkan gandum, beras dan millet (=sejenis beras) yang merupakan bahan pangan pokok rakyat Mesir.
- Di tahun 1990 ternak dari mantan Uni Soviet mengkonsumsi biji-bijian 3 X lipat lebih besar dibandingkan konsumsi biji-bijian penduduknya.
- Di Mongolia, 82% dari keseluruhan area tanah ditujukan sebagai padang rumput permanen bagi hewan ternak untuk merumput, yang merupakan ancaman tunggal terbesar bagi kehilangan keragaman hayati di Mongolia dan seluruh Asia Tengah. (UN FAO).
- Sejak 1990-an sekitar 90% penggundulan hutan Amazon dikarenakan pembersihan lahan untuk tempat merumput sapi atau menanam makanan untuk peternakan.
- Di Queensland, Australia, 91% dari pembersihan seluruh pohon dalam periode 20 tahun lebih telah dilakukan untuk tempat merumput peternakan.

Solusi Pengendalian pemanasan global
Dikutip dari Buku “Pemanasan Global” karangan tim SOS, terbitan Kompas Gramedia. Jakarta, 2011.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa peternakan dan perikanan merupakan faktor utama penyumbang utama emisi gas rumah kaca dan penyebab utama pemanasan global. Karena itu, untuk menghindari terlewatinya titik tanpa harapan serta titik kritis pemanasan global maka tidak ada cara lain kecuali mengurangi konsumsi serta penggunaan produk hewani walaupun cara-cara lain, seperti penanaman pohon, penggunaan energi alternatif dan sebagainya tetap harus dilakukan.
Solusi terbaik adalah mulai dari diri kita sendiri. Kita dapat mulai mengubah pola makan kita dengan lebih banyak mengonsumsi produk nabati daripada produk hewani. Produk hewani adalah semua yang berasal dari hewan termasuk daging, ikan, unggas, telur dan susu. Selain itu kita juga mengurangi penggunaan bahan-bahan hewani yang lain, seperti tas kulit, sepatu kulit, dan sebagainya. Di samping itu, kita juga dapat berhemat dalam segala hal, baik dalam penggunaan bahan bakar, penggunaan air, penggunaan plastik, dan yang lainnya.
 Langkah selanjutnya, marilah kita menginformasikan masalah pemanasan global ini kepada orang di sekeliling kita kepada pemerintah, kepada para pejabat, dan kepada siapa pun yang kita temui. Jika semakin banyak orang yang mengonsumsi lebih banyak produk nabati maka akan tercipta peluang bisnis yang besar.
Beberapa orang berfikir bahwa perubahan pola konsumsi dari produk hewani ke nabati akan memerosotkan perekonomian negara, karena dengan demikian industri peternakan dan perikanan, serta produsen pakan ternak akan lesu, padahal dua hal itu merupakan sumber devisa yang tinggi bagi negara. Ketakutan yang serius itu tentu terjadi pada sejumlah produsen pakan ternak. Tetapi di saat yang kritis ini, kita tidak boleh hanya mementingkan kepentingan sekelompok peternak saja. Menyelamatkan bumi dari ancaman pemanasan global seharusnya berada dalam prioritas yang utama, di atas kepentingan ekonomi dan politik.
Saat ini, Indonesia mengimpor jagung yang sebesar 45-50 %-nya digunakan untuk pakan ternak. Padahal untuk memenuhi kebutuhan domestik, pada tahun 2006 Indonesia harus mengimpor jagung hingga 1,6 juta ton. Kalau saja semuanya itu dipergunakan untuk makanan manusia, tentu tak ada lagi daerah yang kekurangan pangan di Indonesia.
Kita mungkin tidak perlu menutup industri peternakan dan perikanan. Tetapi dengan mengubah pola hidup diri kita sendiri, serta menyadarkan orang di sekitar kita, demikan seharusnya, maka kebutuhan akan daging, unggas, ikan, telur dan susu secara alami akan berkurang. Pada akhirnya para pebisnis peternakan dan perikanan akan mulai mengalihkan usahanya ke bidang lain secara alami. Sungguh kita telah memboroskan uang hasil pangan manusia hanya untuk memberi makan ternak, sementara setengah dari penduduk Indonesia mengalami kelaparan tersembunyi.
Saat ini sudah banyak kalangan dan orang terkenal dari berbagai belahan dunia yang sudah mendukung gerakan penangkalan pemanasan global dengan mengikuti pola hidup hijau, baik dari golongan pemimpin keagamaan, pejabat tinggi dunia, kalangan artis, para olahragawan, dan terutama dari para ilmuwan. Dengan demikian, kita harapkan solusi utama pemanasan global yang dengan mudah dimulai oleh setiap individu dari dapur dan piring makan kita sendiri itu akan terus bergulir hingga menjadi suatu gaya hidup baru pada era kehidupan mendatang yang lebih baik.

Beberapa cara lain untuk mencegah terjadinya Pemanasan global atau Global warming:
*        Berhemat energi. Seperti dalam penggunaan bahan bakar minyak, listrik (jangan pakai alat-alat  elektronika kalau tidak jelas kebutuhannya).
*        Menggunakan kendaraan bermotor seperlunya saja. Kalau hanya dekat,  tidak perlu menggunakan motor atau mobil.
*        Mengurangi pembakaran. Misal, pembakaran sampah, hindari pembakaran hutan.
*        Penghijauan hutan
*        Hindari penggunaan barang secara mubazir
*        Untuk ekosistem laut, hindari perusakan karang dan pencarian ikan dengan merusak ( penggunaan bom atau semacamnya).
Source:http://ilmupedia.com/akademik/geografi/627-pemanasan-global-termasuk-pola-muka-bumi.html

Pencegahan pemanasan global dalam bentuk gambar.




Penutup
Penulis yakin bahwa makalah ini tidak sempurna. Bila para pembaca menemukan kejanggalan dan kesalahan mohon diberitahukan kepada penulis untuk dilakukan koreksi. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Akhirnya, Wallohul muwaffiq ila aqwamittoriq.
Wassalamu ‘alaikum 
Jember, 20 Maret 2003.

Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tlp. 0331 481127 Jember


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar