Sabtu, 30 April 2011

Merokok Harom ? 05



Merokok Tak Masalah Asal Takaran Pas

JEMBER. Sebenarnya, kebiasaan merokok bukannya yang menyebabkan konsumen menderita banyak penyakit. Sebab, bila takarannya pas, meskipun merokok, tetap bisa memiliki tubuh yang sehat.
Paling tidak itulah yang diungkapkan dr Sudjono Kadis SpKj, salah seorang narasumber dalam Seminar Merokok Sehat bertajuk Strategi dan Implementasi yang diselenggarakan LPM Unej kerja bareng Setda Povinsi Jawa Timur di gedung LPM Unej, kemarin siang.
Menurut Sudjono, yang juga staf pengajar di Fakultas Kedokteran Unej ini, sejak dulu merokok selalu diidentikkan dengan perilaku tidak sehat. Perilaku yang bisa mengakibatkan serangkaian penyakit yang tidak hanya berbahaya, namun juga mematikan.
Hingga akhirnya ada fatwa yang mengharamkan merokok. “Namun, hingga kini belum ada penelitian yang benar-benar membuktikan bahwa merokok memang mengakibatkan penyakit, yang berujung pada kematian,” terangnya di depan peserta seminar.
Bahkan, projek Monica, yang dibuat oleh World Health Organization (WHO) yang bertujuan menjelaskan berbagai kecenderungan kematian kardiovaskuler, yang semula diduga berkaitan erat dengan kebiasaan merokok, belum bisa membuktikan hal itu.
Padahal survei dilakukan selama 10 tahun sejak 1970-1980 dengan jumlah responden sebanyak 10 juta orang, dengan jenjang usia antara 25-64 tahun.
Dalam survei tersebut, lanjut Sudjono, ternyata sama sekali tidak ditemukan adanya hubungan antara trend faktor risiko utama kardiovaskuler seperti kolesterol serum darah, tekanan darah, dan konsumsi merokok. Penyebab utama kematian akibat kardiovaskuler justru diakibatkan defisiensi atau kekurangan asam folat.
“Kematian akibat kanker paru, yang lebih banyak terjadi di Amerika daripada di Jepang disebabkan oleh konsumsi energi lemak di Amerika lebih banyak dibandingkan di Jepang,” katanya. Yakni sebesar 40 persen dari kebutuhan harian per orang. Sedangkan di Jepang, konsumsi energi lemak per orang hanya 8 persen saja.
Dia menambahkan, selama ini yang menjadi masalah dalam konsumsi rokok adalah kandungan nikotin. Ini merupakan zat utama dalam bahan baku rokok, daun tembakau si emas hijau.
Nikotin juga berperan sebagai komponen psikoaktif tembakau. Sekaligus sebagai zat adiktif, yakni zat yang bisa menimbulkan keinginan untuk meneruskan penggunaan dan kecenderungan menaikkan dosis.
“Hanya saja, dalam kasus merokok, ketergantungan masih bisa dikontrol. Tidak sampai mengakibatkan euphoria, penyalahgunaan obat-obatan, dan tidak ada fly,” katanya. Bahkan, tingkat ketergantungan terhadap nikotin masih di bawah alkohol dan di atas kafein.
Karena itu, sejatinya, nikotin tidak berbahaya, selama tidak dikonsumsi dalam jumlah berlebih. Yakni sebanyak 60 miligram pada orang dewasa yang bisa berakibat kematian atau fatal dose.
Di otak ada reseptor nikotin yang disebut agonis asetil kolin yang nantinya akan mengaktifkan asetilkolin nikotinik, untuk mengikat nikotin.
Di otak, kata dia, nikotin hanya bertahan selama 15 detik. Di dalam darah sebanyak 25 persen. Nikotin mampu meningkatkan konsentrasi di sirkulasi hormon noradrenalin, dan epinefrin. Tidak hanya itu, rokok juga bisa melepaskan vasopressin, endorphin, ACTH dan kortisol. Efeknya, bisa meningkatkan perhatian, belajar, waktu relaksasi, mood meningkat, dan persaan depressi hilang. “Itu sebabnya, merokok bisa memberi kenikmatan,” katanya.
Hanya saja, nikotin juga bisa menjadi penyebab keracunan. Dengan gejala, mual, muntah, salivasi, tensi naik, gangguan tidur, tidak mampu berkonsentrasi, diare, lemah, pucat, nyeri kepala, pusing dan gemetar atau tremor.
“Yang paling penting itu, kita menggunakan ajaran Paracelsus. Yakni, tidak ada racun di dunia ini. Yang ada adalah dosis yang tidak benar,” sambungnya.
Dengan begitu, konsumen rokok akan termotivasi mencari takaran yang pas. Pastinya, sangat tergantung pada individu masing-masing konsumen. Selain itu, yang diperlukan adalah kemampuan mengendalikan diri dalam mengkonsumsi apapun, termasuk rokok.
“Yang harus dikendalikan adalah frekuensi, jumlah yang dikonsumsi. Sehingga tidak berlebihan dan di luar kemampuan tubuh.
Menurut Ir Surachmad dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Barang Surabaya yang kemarin juga menjadi narasumber, kadar nikotin bisa ditentukan sejak dari awal menanam. “Kalau ingin nikotinnya rendah, gunakan saja daun di bagian bawah., pemupukan rendah N, dan penyimpanan harus cukup lama,” katanya. Hanya saja, ini berlaku untuk rokok kretek, yang campuran utamanya adalah tembakau. (Iie). Jawa Pos, Kamis, 13 Mei 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar