Rabu, 14 Oktober 2015

Makalah Pendek Menyatukan Tafsir Al Qur-an Dengan Bertanya Kepada Alloh Swt.



MENYATUKAN TAFSIR ALQUR-AN
DENGAN JALAN 
BERTANYA KEPADA ALLOH SWT


Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi

I. Pendahuluan
Dalam semua-bahasa di dunia setiap kata biasanya mempunyai beberapa makna. Ada 2 macam istilah yaitu homonim dan polisemi.
Homonim, adalah kata-kata yang bentuk dan cara pelafalannya sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. 
Dalam kamus, kata-kata berhomonim biasanya ditandai oleh urutan angka Romawi. Contoh:
karang I    = batu karang, sejenis batu kapur di laut.
karang II   = karangan bunga, susunan atau ikatan.
karang III  = karangan ilmiah, karya tulis.
karang IV  = pekarangan rumah, halaman.
karang V   = karang keputraan, tempat kediaman
Polisemi berarti suatu kata yang memiliki banyak makna.. Contohnya adalah kata kepala.
      Makna dasar kepala adalah bagian tubuh di atas leher, tempat otak dan pusat jaringan saraf. Selain itu, kepala digunakan dalam konteks pemakaian lainnya.
a. Bagian benda setelah atas atau bagian depan, contoh: kepala tongkat dan kepala surat.
b. Pemimpin atau ketua, contoh: kepala kantor, kepala pasukan, dan kepala daerah.
c. Sebagai kiasan atau ungkapan, contoh: kepala udang, kepala dua, dan besar kepala.
Demikian juga pada bahasa Arob, tiap kata bisa mempunyai beberapa makna (homonim dan polisemi).
Kajian Tentang Bahasa Arob
Bahasa Arob terbagi atas empat macam.
 1. Bahasa Arob pasaran yang dipakai oleh masyarakat sehari-hari.
 2. Bahasa Arob baku (bahasa Arob sastra) yang digunakan di tempat kerja, pemerintahan, dan media massa.
 3. Bahasa Arob klasik atau bahasa Arob kuno, yaitu bahasa Arob yang dipakai pada zaman Nabi Muhammad Saw.pada abad ke 7 M.
 4. Bahasa Arob Al Qur-an. 
Bahasa Arob Al Qur-an.
Alloh berfirman : Sesungguhnya Kami menjadikannya (yakni kalam Alloh) berupa Qur-an yang berbahasa Arob agar kamu dapat memahami (pesan-pesannya). (QS. Az-Zukhruf [43] : 3).
Seorang Ahli Tafsir periode awal bernama Muqatil ibn Sulaiman (w.150 H / 767 M.) menegaskan bahwa kata-kata di dalam Kitab Al Qur-an di samping memiliki makna yang definitif, juga memiliki alternatif makna lainnya, yang harus diketahui oleh para Ahli Tafsir Al-Qur-an.
Sampai sekarang pendapat ini masih dipakai.
Maka para ahli tafsir Al Qur-an berpendapat bahwa sama halnya dengan Bahasa Arab biasa (yang dipakai manusia) kata-kata yang terkandung di dalam Al Qur-an juga mempunyai beberapa makna (Homonim dan polisemi).
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Karena suatu kata di dalam Al Qur-an mempunyai beberapa makna, dimana tidak tentu makna mana yang berlaku, maka bisa terjadi ketidak pastian bahkan pertentangan dalam arti dan tafsir Al Qur-an. Selanjutnya bisa menimbulkan ketidak pastian dan pertentangan hukum.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
II. Permasalahan
Samakah Bahasa Arob Al Qur-an dengan Bahasa Arob manusia ?
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

III. Pemecahan Masalah

1. Pendapat Alloh Swt.
Berbeda dengan Bahasa Arob biasa (yang dipakai oleh manusia), ayat-ayat Al Qur-an, adalah kalimat Ilahi, yang serupa kefasihan dan keindahan susasteranya antara satu ayat dengan ayat lainnya.
Alloh berfirman : Alloh telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur-an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Alloh. Itulah petunjuk Alloh, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Alloh, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya. (QS. Az-Zumar [39] : 23).
2. Pendapat Ali bin Abi Tholib Kw.
Sayyidina Ali Kw. berkata : “Bisa jadi yang diturunkan Alloh sepintas terlihat serupa dengan ucapan manusia, padahal itu adalah ucapan (firman) Alloh sehingga pengertiannya tidak sama dengan pengertian yang ditarik dari ucapan manusia. Sebagaimana tidak satu pun dari makhluk-Nya yang sama dengan-Nya, demikian juga tidak serupa perbuatan Alloh dengan sesuatu pun dari perbuatan manusia. Firman Alloh adalah sifat-Nya, sedang ucapan manusia adalah perbuatan / aktivitas mereka. Karena itu juga jangan sampai engkau mempersamakan firman-Nya dengan ucapan manusia sehingga mengakibatkan engkau binasa dan tersesat / menyesatkan.
3. Pendapat Prof. Toshihiko Izutsu 
(Toshihiko Izutsu, Konsep-konsep Etika Religius dalam Quran, PT Tiara Wacana, Yogjakarta, 1993)
Prof. Toshihiko Izutsu  adalah seorang pakar bahasa Arab kuno (zaman turunnya Al-Qur'an). Menurut Izutsu kata-kata di dalam Al-Qur'an berasal dari bahasa Arob kuno dengan makna tertentu.
a. Makna asli kata itu dapat diperoleh dari syair-syair yang diciptakan pada zaman jahiliah.
b. Makna asli kata-kata bahasa Arob di dalam Al-Quran tidak bisa diperoleh dari kamus bahasa Arob modern yang sering berbeda dengan bahasa Arob kuno.
c. Kata-kata bahasa Arob kuno ini setelah dipakai oleh Al-Qur'an maknanya menjadi berubah dari aslinya.
d. Untuk bisa memahami Al-Quran dengan tepat, kita harus mengetahui makna baru kata-kata itu.
4. Menurut Pengamatan Penulis.
Sesuai dengan pendapat Sayidina Ali Kw. dan Prof. Toshihiko Izutsu, Bahasa Arob Al Qur-an berbeda dengan Bahasa Arob yang dipakai manusia / Bahasa Arob klasik.
Pada Bab Pendahuluan telah dibahas bahwa bila kata-kata di dalam Al Qur-an mempunyai beberapa makna (Homonim dan polisemia).sedangkan tidak tentu makna mana yang berlaku, maka bisa terjadi ketidak-pastian dan pertentangan hukum. Padahal Alloh Swt menyatakan bahwa tidak ada pertentangan di dalam Al Qur-an.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur-an? Kalau kiranya Al Qur-an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa' [4] : 82).
Agar tidak terjadi hal itu, maka setiap kata di dalam Al Qur-an seharusnya tidak mempunyai beberapa makna (hanya punya satu makna). Inilah keunggulan Al Qur-an.
Mengapa seyogyanya setiap kata di dalam Al Qur-an hanya mempunyai satu arti.
Mengingat bahwa di dunia ini Kitab Al Qur-an jumlahnya hanya satu, diciptakan oleh Alloh Swt yang satu, diturunkan melalui malaikat yang satu yaitu Jibril As, kepada Nabi yang satu yaitu Nabi Muhammad Saw,.maka makna kata-kata di dalam Al Qur-an seyogjanya hanya satu.
Dimana menurut Prof. Izutsu arti kata itu diciptakan oleh Alloh Swt. sendiri
Alloh Swt. bersabda : Ia yang telah menurunkan kepada engkau sebuah Kitab, sebagian daripadanya adalah ayat-ayat yang muhkam, yaitulah ibu dari kitab, dan yang lain adalah (ayat-ayat) yang mutasyabih. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan, maka mereka cari-carilah yang mutasyabih dari padanya itu, karena hendak membuat fitnah dan karena hendak menta'wil. Pada hal tidaklah mengetahui akan ta'wilnya itu, melainkan Alloh. Dan orang-orang yang telah mendalam pada ilmu, berkata mereka, "Kami percaya kepadanya, semuanya itu adalah dari sisi Tuhan kami." Dan tidaklah akan mengerti, kecuali orang-orang yang mempunyai isi fikiran jua. (QS. Ali Imron [3]:7) 
Karena hanya Alloh Swt saja yang mengetahui ta’wil-nya. maka kita tidak bisa mencari tawilnya dengan membaca kitab tafsír Al Qur-an yang dibuat oleh manusia yang mengarang tafsir itu..
Makna kata itu hanya dapat diperoleh dengan cara bertanya kepada Alloh Swt yang menciptakan Al Qur-an itu.
Cara Bertanya Kepada Alloh Swt.
1. Kita menentukan kata apa yang akan kita tanyakan maknanya kepada Alloh Swt, misalnya kata rizqi.
2. Kita cari makna kata itu di dalam Kamus Al Qur-an atau Ensiklopedia Al Qur-an. Di antaranya adalah Qamus Al-Quran karangan Abdulqadir Hasan, karangan Drs. M. Zainul Arifin, Ensiklopedi Al-Qur’an karangan Prof. M. Dawam Rahardjo, karangan  Prof. Dr. M. Quraisy Shihab, MA dll.

Di dalam Kamus dan Ensiklopedia Al Qur-an itu kata rizqi mempunyai beberapa makna sebagai berikut.

Nama Kamus  / Ensiklopedia
Makna Kata Rizqi
1
Kamus Al-Qur’an, Drs. M. Zainul Arifin
Harta, karunia
2

Qamus Al-Quran, Abdul Qadir Hasan
Rizqi, pemberian,   makanan
3
Ensiklopedi Al-Qur’an, Prof. M. Dawam Rahardjo

Penghasilan, keuntungan, kebutuhan, penghidupan, hak milik, laba, modal.
4
Ensiklopedia Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraisy Shihab, MA
Pemberian dalam bentuk  makanan, kekuasaan dan ilmu pengetahuan
Karena kita berpendapat bahwa kata rizqi di dalam Al Qur-an hanya mempunyai satu makna (merupakan keunggulan Al Qur-an) maka kita pilih salah satu makna kata yang paling cocok. Misalkan rizqi berarti makanan.
3. Kemudian kita kumpulkan semua ayat yang mengandung kata yang akan kita tanyakan maknanya tadi. Kata-kata itu mempunyai akar kata yang sama. Biasanya terdiri dari 3 huruf mati, pada kata rizqi adalah "r-z-q". Untuk mencari ayat-ayat tersebut kita bisa menggunakan buku Konkordansi Qur'an karangan Ali Audah, Indeks Al-Qur'an karangan Sukmajaya dkk, dll.
Ditemukan 97 ayat yang mengandung kata rizqi.
Uraian lengkapnya ada di nasimfauzi@blogspot.com Tafsir Rizqi Bukan Kekayaan”.
4. Kita masukkan makna kata rizqi adalah makanan di dalam kurung di belakang kata rizqi tadi. Contoh.
   QS. Al Baqoroh [2] :254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian rezki (makanan)  yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang yang kafir itulah orang-orang yang zalim.
5. Kemudian dianalisa apakah kata rizqi bermakna makanan itu sesuai dengan keseluruhan ayat.
6. Ternyata kata rizqi bermakna makanan betul-betul sesuai pada 97 ayat yang kita teliti itu. Lihat di nasimfauzi@blogspot.com
7. Bila kata rizqi bermakna makanan tidak sesuai dengan keseluruhan ayat maka diambil kata yang lain, misalnya harta atau karunia atau hak milik dll.
------------------------------------------------------------------------
Maka kata rizqi di dalam Al Qur-an adalah bermakna makanan (bukan bermakna harta, karunia dll.).
------------------------------------------------------------------------------
Kata rizqi bermakna makanan itu (bukan bermakna harta) bisa menimbulkan konsekwensi hukum, terutama hukum zakat. Lihat makalah penulis : Rizqi dan Zakat.
Contoh kata-kata lainnya dapat dilihat di internet nasimfauzi@blogspot.com                   
Jember, 12 Oktober 2015.

Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118 
Tilp. (0331) 481127 Jember



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar