Jumat, 23 Oktober 2015

Makalah Pendek Bahasa Arob Al Qur-an dan Bahasa Arob Al Hadits



Bahasa Arob Al Qur-an
dan Bahasa Arob Al-Hadits
Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi
Pendahuluan
Sumber-sumber Hukum Islam
Sistematika Hukum Islam diambil dari Al Qur-an Surat An-Nisa [4]:59 berikut:
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah  (Al Qur-an) dan taatilah Rosul (Sunnah-Hadis) (nya), dan ulil amri di antara kamu (Ijma' ulama'). Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)(Qiyas)jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Berdasarkan ayat ini ada empat dalil yang dapat dijadikan pijakan dalam menentukan hukum yaitu Al Qur-an, Al-Hadits, Ijma' dan Qiyas.
Agar terdapat kepastian dalam Hukum Islam maka Tafsir Kitab Al Qur-an dan Al Hadits itu juga harus pasti.
Pada makalah Menyatukan Tafsir Al Qur-an Dengan Jalan Bertanya Kepada Alloh telah dibuktikan bahwa berbeda dengan Bahasa Arob manusia dimana tiap kata-nya mempunyai beberapa makna, di dalam Al Qur-an tiap kata-nya hanya mempunyai satu makna
Makna Suatu Kata 
di Dalam Kitab Al Qur-an.
Dalam QS. Ali Imron [3]:7, Alloh Bersabda bahwa  ta’wil kata di dalam Al Qur-an itu hanya diketahui oleh Alloh Swt. Maka, untuk mengetahui takwilnya kita harus bertanya kepada Alloh Swt.
Takwil kata itu tidak ada di Kitab-kitab Tafsir Al Qur-an, karena pengarangnya tidak mengetahui takwilnya.
Cara Bertanya Kepada Alloh Swt   
1. Pertama-tama kita menentukan kata apa yang akan kita tanyakan maknanya kepada Alloh Swt,
2. Kita cari makna kata itu di dalam Kamus Al Qur-an atau Ensiklopedia Al Qur-an. Di antaranya adalah Qamus Al-Quran karangan Abdulqadir Hasan, karangan Drs. M. Zainul Arifin, Ensiklopedi Al-Qur’an karangan Prof. M. Dawam Rahardjo, karangan  Prof. Dr. M. Quraisy Shihab, MA dll.
Di dalam Kamus dan Ensiklopedi itu akan ditemukan beberapa makna dari kata yang kita tanyakan maknanya kepada Alloh Swt tersebut.
Karena kita nerpendapat bahwa setiap kata di dalam Al Qur-an hanya mempunyai satu makna (merupakan keistimewaan Al Qur-an) maka kita pilih salah satu makna kata yang kita anggap paling cocok dari makna-makna kata.yang kita temukan dalam Kamus dan Ensiklopedi itu.
3. Kemudian kita kumpulkan semua ayat yang mengandung kata yang akan kita tanyakan maknanya tadi. Kata-kata itu mempunyai akar kata yang sama. Biasanya terdiri dari tiga huruf mati.
 Untuk mencari ayat-ayat tersebut kita bisa menggunakan buku Konkordansi Qur'an karangan Ali Audah, Indeks Al-Qur'an karangan Sukmajaya dkk, dll. Biasanya akan ditemukan banyak ayat yang mengandung kata yang kita tanyakan itu.
4. Kata yang sudah kita pilih pada point 2 tadi kita masukkan ke dalam kurung di belakang kata yang kita tanyakan maknanya pada point 1 itu, pada semua ayat yang kita temukan tadi.
 Pada contoh ayat di bawah, kata yang kita tanyakan maknanya pada point 1 adalah kata rizki, sedang makna kata yang kita pilih pada point 2  adalah (makanan), kata ini kita tempatkan di dalam kurung di belakang kata rizki itu.
   QS. Al Baqoroh [2] :254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah sebagian rizki (makanan)  yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrob dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang yang kafir itulah orang-orang yang zalim.
5. Kemudian kita analisa apakah kata yang kita pilih maknanya itu sesuai dengan keseluruhan makna ayat di semua ayat yang kita temu-kan..
6. Bila makna yang kita pilih itu cocok di semua ayat yang kita temukan itu, maka itulah makna jawaban Alloh Swt atas kata yang kita tanyakan maknanya itu.
7. Bila makna yang kita pilih itu tidak cocok  dengan keseluruhan ayat, maka kita ambil kata yang lain. Selanjutnya prosedur pada nomor 1 sampai dengan nomor 6 diulangi lagi.
-----------------------------------------------------------------------------------
Dari beberapa kali pencarian makna kata-kata di dalam Al Qur-an terbukti bahwa
di dalam Al Qur-an setiap kata hanya mempunyai satu makna
-----------------------------------------------------------------------------------
Makna Suatu Kata 
di Dalam Kitab Al-Hadits.
Hadits Nabi Saw sangat berbeda dengan Al Qur-an. Karena Al Qur-an adalah sabda Alloh Swt yang diturunkan lewat Malaikat Jibril as. kepada seorang manusia yaitu Nabi Muhammad saw.
Sedang Hadits Nabi Saw adalah perkataan seorang manusia mulia berbangsa Arob yaitu Nabi Muhammad saw. Disabdakan beliau dalam bahasa Arob kuno kepada para sohabat yang berbangsa Arob, kemudian secara beranting digetok-tularkan dan akhirnya sampai kepada kita melalui kitab-kitab Hadits.
Tentu saja bahasa Arob dalam hadits-hadits itu menggunakan kaidah dan makna sesuai dengan bahasa Arob kuno. Dalam hal ini rizqi mempunyai dua makna yaitu makanan dan karunia.
Contoh hadits ke-1
Kontroversi Nabi mendoakan “kaya” bagi Anas bin Malik Ra.
Dalam hadits ini rizki mempunyai tiga arti yaitu umur, kekayaan dan anak, bukan bermakna makanan seperti di dalam Al Qur-an.
Doa Nabi kepada Anas bin Malik agar mendapat kekayaan dan anak yang banyak sangat terkenal. Sering dipakai sebagai contoh bolehnya kita berdoa minta kaya.
Anas bin Malik berasal dari Bani an-Najjar, anak dari Ummu Sulaim. Sejak kecil dia melayani keperluan Nabi Muhammad Saw, sehingga selalu bersama Rosululloh.
Setelah Nabi Muhammad Saw wafat, Anas bin Malik pergi dan menetap di Damaskus kemudian ke Basroh. Ia mengikuti sejumlah pertempuran dalam membela Islam. Ia dikenal sebagai sohabat Nabi Muhammad Saw yang berumur paling panjang.
Rosulullah Saw sering kali mendo’akan Anas bin Malik Ra. Salah satu doa Beliau untuknya adalah: “Allohumma Urzuqhu Maalan wa Waladan, wa Baarik Lahu (Ya Alloh, rizqikanlah / karuniakanlah ia harta dan keturunan, dan berkahilah hidupnya).”
Alloh Swt mengabulkan doa Nabi-Nya, dan Anas Ra menjadi orang dari suku Anshor yang paling banyak harta(rizqi)nya. Ia memiliki keturunan yang amat banyak, sehingga bila ia melihat anak serta cucunya maka jumlahnya melebihi 100 orang. Alloh Swt memberikan keberkahan pada umurnya sehingga ia hidup 1 abad lamanya ditambah 3 tahun lagi.
Adapun asbabul wurud cerita itu adalah hadis berikut:
Diriwayatkan daripada Anas Ra daripada Ummu Sulaim katanya: Wahai Rosululloh! Aku menjadikan Anas sebagai khodammu, tolonglah berdoa untuknya. Rosulullah Saw pun berdoa: Ya Alloh, banyakkanlah harta (rizqi) dan anaknya dan berkatilah apa yang diberikan kepadanya. Berkata Anas: "Demi Alloh, harta benda(rizqi)ku memang banyak dan anak begitu juga anak dari anakku memang banyak sekali dan sekarang sudah berjumlah lebih dari 100 orang(Shohih Bukhori, Muslim, kitab kelebihan para sohabat).
Komentar penulis.
Hadits ini mengandung kontroversi karena mirip do’a minta kaya yang dipanjatkan Nabi Saw bagi Sa’labah yang berakibat buruk baginya di dunia dan akhirot. Nabi sebelumnya tidak bersedia mendoakan dia kaya karena Nabi tahu sifat Sa’labah yang tidak kuat terhadap godaan karunia kekayaan.
Akibat dikabulkannya doĆ” Nabi Saw oleh Alloh Swt ternaknya berkembang biak sangat banyak. Namun karena sibuknya, dia lalu meninggalkan sholat berjamaah serta tidak mengeluarkan zakat dari ternaknya.
Berbeda dengan sifat Anas bin Malik Ra yang sangat diketahui oleh Nabi Saw karena dia berkum-pul dengan Nabi sangat lama. Tentu dia kuat terhadap godaan karunia kekayaan.
Contoh hadits ke-2.
Kata rizqi tidak bermakna makanan seperti di dalam Al Qur-an, tetapi bermakna anak keturunan.
Doa sebelum bercampur dengan isteri  :  Bismillah Allohumma Jannibnisy Syaiton Wa Jannibnisy Syaithon Ma Rozaqtana
Artinya : Dengan menyebut nama Alloh, ya Alloh, jauhkanlah syetan dari saya, dan jauhkanlah ia dari apa yang akan Engkau rizkikan (kurniakan) kepada kami (anak, keturunan).
Kesimpulan :
Berbeda dengan Al Qur-an yang setiap katanya hanya mempunyai satu makna, kata-kata di dalam Al Hadits mempunyai beberapa makna seperti pada Bahasa Arob manusia.
Jember 21 Oktober 2015
Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilp. (0331) 48112

Jember

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar