Jumat, 16 Oktober 2015

Makalah Pendek Antara Maaliki Yaumiddiin dan Maliki Yaumiddin

.

ANTARA MAALIKI YAUMIDDIIN
DAN MALIKI YAUMIDDIIN



Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi

Lanjutan makalah :
Menyatukan Tafsir Al Qur-an Dengan Cara
Bertanya Kepada Alloh Swt (MTA)
I. Pendahuluan
Kita diwajibkan dalam sehari semalam melaksanakan sholat lima waktu 17 rokaat, dimana setiap rokaatnya kita wajib membaca Surat Al-Fatihah.
Ayat ke-4 Surat Al-Fatihah biasanya dibaca Maaliki yaumiddiin yang maknanya adalah Yang Memiliki hari agama (kiamat).
Tentang ayat ke-4 Surat Al-Fatihah ini, Prof Dr Quraisy Shihab MA dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (Tafsir atas Surat-surat pendek Berdasarkan Urutan Turunnya Wahyu), menulis sebagai berikut :
Ada dua bacaan yang populer dan sah menyangkut ayat ke-4 ini, yaitu ada yang memanjangkan mim (baca Maalik) yang diartikan “Pemilik” dan ada pula yang memendekkan (baca Malik) yang berarti Raja.
Seorang pemilik belum tentu menjadi raja, sebaliknya kepemilikan seorang raja biasanya melebihi kepemilikan pemilik yang bukan raja.
Kata “raja” biasanya digunakan untuk menyebut penguasa atas manusia, sedang kata “pemilik” digunakan untuk penguasa atas harta benda yang tidak bernyawa. Atas dasar pertimbangan ini sementara ulama lebih senang bacaan Malik yang berarti Raja karena ia memberikan kesan keagungan dan kebesaran, di samping itu – kata mereka – Al Qur-an mengisyaratkan bahwa Alloh Swt adalah Raja pada hari Pembalasan. Dalam Al Qur-an banyak ayat-ayat yang menegaskan hal ini, antara lain:
لَهُ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَ يُنفَخُ فِى ٱلصُّووَ (٧٣)
Dan baginya kerajaan (kekuasaan) pada hari ditiup sangkakala (QS Al-An’aam [6]:73)
‌ۚ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ لِّلَّهِKerajaan  pada hari itu (kiamat) adalah milik Alloh (QS. Al-Hajj [22]:56)
Argumentasi fihak yang membaca Maaliki yaumiddiin
Pahala yang diterima oleh yang membaca Maaliki yaumiddin melebihi yang membaca Maliki yaumiddiin karena lebih panjang bacaannya (melebihi 1 huruf).
Komentar Penulis
Bacaan Maaliki yaumidiin dan Maliki yaumiddin kedua-duanya sama sahnya. Dalam pandangan penulis argumentasi pembaca Maliki yaumiddin lebih kuat daripada pembaca Maaliki yaumiddiin.
Boleh dikatakan Ayat ke-4 Surat Al-Fatihah ini mempunyai dua makna. Makna pertama adalah  Yang memiliki hari agama, sedang makna kedua adalah Raja hari agama. Sehingga tidak ada kepastian.
Setiap kata di dalam Al Qur-an seharusnya hanya punya satu makna.
Dalam makalah MTA dikatakan bahwa Bahasa Arob Al Qur-an adalah istimewa karena setiap katanya hanya mempunyai satu makna. Berbeda dengan Bahasa Arob manusia yang setiap katanya mempunyai beberapa makna (homonim dan poli-semi, lihat makalah MTA).
Maka kita harus memilih makna manakah yang lebih tepat di antara dua kalimat : Maaliki yauumid-diin dan Maliki yaumiddin dengan cara bertanya kepada Alloh Swt (lihat makalah MTA).
Cara Bertanya Kepada Alloh Swt.
1. Kata yang kita tanyakan maknanya kepada Alloh Swt adalah kata malik (dan maalik).
2. Makna kata malik (dan maalik) di dalam kamus Al Qur-an adalah sebagai berikut:

Nama Kamus Al Qur-an
Makna malik dan maalik
1

Qamus Al-Quran, Abdul Qadir Hasan
Yang memiliki, raja
Karena kita beranggapan bahwa kata malik (dan maalik) hanya mempunyai 1 makna maka kita misalkan memilih makna malik (dan maalik) adalah raja.
3. Ayat-ayat Al Qur-an yang mengandung kata malik (dan maalik).
    Dari Qamus Al-Quran, Abdul Qadir Hasan diperoleh daftar ayat sebagai berikut.
a. Maalik bermakna memiliki : QS. Al-Fatihah [1]:4, QS. Ali Imron [3]:26, QS. Zukhruf [43]:77.
b. Malik bermakna raja : QS. Al-Kahf [18]:79, QS. An-Nas [114]:2, QS. Al-Baqoroh [2]:246, 247, QS. Yusuf [12]:43, 50, 54, 72, 76, QS. Thoha [20]:114, QS. Al-Mu’minun [23]:116, QS. Al-Hasyr [59]:23, QS. Al-Jumu’ah [62]:1, QS. Al-Qomar [54]:55.
4. Kita masukkan makna kata malik (dan maalik) adalah raja di dalam kurung di belakang kata malik (dan maalik) tadi.
5. Kemudian dianalisa apakah kata malik (dan maalik) bermakna raja itu sesuai dengan keseluruhan makna ayat.
Analisa ayat-ayat yang mengandung kata malik (dan maalik).
1. QS. Al-Fatihah [2]:4 : مَـٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ (٤) Maliki / maaliki (raja) hari agama (kiamat). (Cocok)
2. QS. Ali Imron [3]:26 :  قُلِ ٱللَّهُمَّ مَـٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِى ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ (٢٦)
Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang Malikal (merajai) mulki (kerajaan), Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. (Cocok)
Kasus QS Ali Imron [3]:26 ini = kasus ayat ke-4 Surat Al-Fatihah, dimana Malik dan Maalik keduanya sah dipakainya. Artinya Malik di sini mempunyai dua arti yaitu Memiliki dan Merajai.
3. QS. Zukhruf [43] 77 Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.
Malik di sini adalah nama Malaikat penjaga neraka, maka ayat ini kita keluarkan dari analisa.
4. QS. Al-Kahf [18]:79  Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang malik (raja) yang merampas tiap-tiap bahtera.
5. QS. An-Nas [114]:2. Malik (raja) manusia.
6. QS. Al-Baqoroh [2]:246. Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang malik (raja) supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Alloh".
7.  QS. Al-Baqoroh [2]:247. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Alloh telah mengangkat untukmu Thalut menjadi malik (raja)."
8. QS. Yusuf [12]: 43. Al-malik (raja) berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): "Sesungguhnya aku bermimpi melihat 7 ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus-kurus dan 7 bulir (gandum) yang hijau dan 7 bulir lainnya yang kering."
9. QS. Yusuf [12]: 50. Al-malik (raja) berkata: "Bawalah dia kepadaku."
10. QS. Yusuf [12]: 54. Dan al-malik (raja) berkata: "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku".
11. QS. Yusuf [12]: 72. Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala al-malik (raja), dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya".
12. QS. Yusuf [12]: 76. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala al-malik (raja) itu dari karung saudaranya.
13. Thoha [20]:114. Maka Maha Tinggi Alloh Al-Maliku (Raja) Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur-an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan."
14. QS. Al-Mu’minun [23]:116. Maka Maha Tinggi Alloh Al-Malik (Raja) Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai)
15. QS. Al-Hasyr [59] : 23. Dialah Alloh Yang tiada Tuhan selain Dia, Al-Malik (Raja), Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan.
16. Al-Jumu’ah [62]:1. Senantiasa bertasbih kepada Alloh apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Al-Malik (Raja) Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
17. Al-Qomar [54]:55.  Di tempat yang disenangi  di sisi Tuhan Maliik Muqtadir. (Maliik adalah nama Alloh Swt yang berjumlah 99, maka kita keluarkan dari analisa).
Dengan demikian malik bermakna raja pada ke-15 ayat ini, semuanya cocok dengan keseluruhan makna ayat masing-masing.
Kesimpulan
-------------------------------------------------------------------------------
Sebagai bagian dari keistimewaan Al Qur-an yang setiap kata-katanya hanya mempunyai satu makna, kata malik di dalam  Al-Qur-an juga hanya mempunyai satu makna yaitu raja.
Maka bacaan malik pada QS. Al-Fatihah ayat ke-4 dan QS. Ali Imron ayat ke-26 adalah Maliki (raja), bukan Maaliki (yang memiliki)
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Jember, 12 Oktober 2015.
Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilpun (0331) 481127
Jember 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar