Rabu, 13 Agustus 2014

Akhlaq Yang Tak Terpuji




Kelemahan Ras Adam
(Homo sapiens sapiens)
Menurut Al-Quran


Oleh : Ir. Agus  Haryo Sudarmojo *


Dari delapan kelemahan utama ras Adam, ternyata sifat bohong adalah kelemahan manusia yang sangat berbahaya. Sifat inilah yang merupakan dosa awal makhluk, seperti yang dilakukan oleh iblis ketika membangkang perintah Allah untuk bersu|ud kepada Adam.
Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi Adam a.s. yang merupakan bagian dari makhluk Homo sapiens sapiens, mempunyai kelebihan dari makhluk serupa yang telah hadir di planet Bumi, seperti telah dijelaskan dalam subbab sebelumnya, yaitu:
1. Sebagai khalifah-Nya di bumi,
2. Sebagai makhluk semisamawi (langit)-duniawi (bumi) yang di dalam dirinya ditanamkan sifat mengakui Tuhan dan keesaan-Nya,
3. Memiliki kebebasan (free will),
4. Tepercaya (amanah),
5. Memiliki rasa tanggung jawab,
6. Mempunyai bekal kecenderungan ke arah kebaikan dan kejahatan,
7. Dan sebagainya.
Pada poin 6 di atas, ras Adam a.s. disebut mempunyai bekal kecenderungan menjadi baik dan buruk. Hal itulah justru yang membuat ras Adam mempunyai kelemahan, yang selanjutnya bila mereka tidak meminta perlindungan dan memohon petunjuk kepada Sang Khaliknya maka akan menjadi sebuah keburukan karena merupakan lahan yang sangat subur bagi setan untuk mencapai tujuannya.
Berikut adalah kelemahan-kelemahan makhluk Homo sapiens sapiens yang telah menguasai Planet Bumi sejak 140.000-120.000 tahun lalu.

1. Pelupa
Sifat pelupa manusia ternyata dapat menjadi manfaat sekaligus dapat menjadi mudarat bagi kehidupannya. Bila kita lihat dari segi manfaatnya lupa adalah anugerah buat kita, coba bayangkan seandainya kita tidak mempunyai sifat lupa maka akan bertumpuk dalam memori otak kita pengalaman-pengalaman pahit yang telah terjadi atau lalui sehingga dapat membuat kita menjadi tertekan kemudian tidak bisa tidur, bahkan yang ekstrem dapat membuat kita gila. Hal tersebut dapat juga menghambat kenyamanan pribadi dan hubungan persahabatan antarsesama manusia.
Sebaliknya, sifat lupa dapat menjadi kemudaratan bila tidak dimanfaatkan oleh manusia sesuai dengan tuntunan llahi sehingga dapat menjadi lahan yang subur bagi setan untuk melakukan aktivitasnya. Bukankah Al-Quran mengabadikan sifat lupa manusia generasi pertama ketika Adam a.s. dan Siti Hawa harus ke-luar dari kebun/taman yang indah ("Surga"), seperti bunyi ayat di bawah ini.
وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا
Dan sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat (QS Tha Ha [20]: 115)
 Ayat tersebut, di samping menjelaskan faktor lupa, juga mengisyaratkan penyebabnya, yaitu "Kami tidak dapati padanya kemauan yang kuat". Artinya tekad untuk mengingat secara terus-menerus terhadap musuh Allah Swt. sempat terabaikan oleh Adam a.s. dengan kata lain bahwa kebulatan tekad untuk terus mengingat perintah Allah Swt. itu adalah benteng bagi manusia.
_________________    
1. Perintah Allah ini tersebut dalam QS Al-Baqarah (2): 35. dalam menghadapi setan dalam memanfaatkan sifat pelupa sebagai kelemahan manusia.
Karena sifat pelupa manusia itulah, Allah Swt. pernah berpesan kepada Nabi Muhammad Saw.:
إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
24. Kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah" [879]. dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". (Q.S. Al-Kahfi [18] : 24).
[879]  menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada nabi Muhammad s.a.w. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar Aku ceritakan. Dan beliau tidak mengucapkan Insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). Tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah Surat Al-Kahfi ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana nabi lupa menyebut Insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.
Pemanfaatan sifat pelupa manusia oleh setan, diabadikan dalam surah dan ayat di bawah ini.
اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi. (QS Al-Mujadilah [58]: 19)
Demikianlah, setan pada akhirnya memanfaatkan sifat lupa untuk menundukkan manusia.

2. Iri Hati
Sifat ini merupakan sifat yang sangat disenangi oleh setan, dengan kata lain iri hati adalah pintu gerbang masuknya pengaruh setan yang paling luas dan merupakan rumah idamabbya untuk bersemayam dalam tubuh manusia. .
Pembunuhan pertama dari makhluk Homo sapiens sapiens (ras Adam a.s.) pertama di Planet Bumi ini menurut Al-Quran dilakukan oleh putra dari Nabi Adam a.s. yang bernama Qabil terhadap putra yang lain, yaitu Habil. Faktor penyebab terjadinya pembunuhan tersebut adalah iri hati yang mendalam dari Qabil terhadap Habil. Hal ini diabadikan dalam firman Allah Swt. di bawah ini.
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil), la berkata (Qabil), "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS Al-Ma'idah [5]: 27)
Begitu pula contoh keturunan ras Adam a.s. yang lainnya, yang teraniaya oleh keturunan lainnya (saudara-saudaranya) karena faktor iri hati, akibat bisikan nafsu mereka yang diembuskan oleh setan sehingga menyebabkan Nabi Yusuf a.s. dijerumuskan ke dalam sebuah sumur tua. Seperti bunyi ayat di bawah ini.
     
     Bukankah Nabi Musa juga melakukan hal yang melampaui batas karena ingin pembuktian akan keberadaan Allah Swt., ia pernah memohon untuk dapat melihat Allah di Bumi, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya di bawah ini:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
Engkau sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu, maka jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.' Tatkala Tuhannya menampakkan diri pada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.' (QS Al-A'raf [7]: 143)
     Begitu pula dengan Nabi Muhammad Saw., beliau ingin agar seluruh manusia beriman sampai-sampai Allah "kasihan" kepadanya:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS Al-Qashash [28]: 56)
Contoh sifat tamak seperti di atas, masih dapat digolongkan sifat keingintahuan yang menggebu-gebu, artinya masih mengandung hal yang positif, belum mewakili sifat tamak yang negatif.
Seperti Sayidina Ali katakan: "Ada dua jenis manusia tamak yang tidak akan pernah merasa puas: pemburu ilmu dan pemburu harta."
Karena ketamakannya, kedua jenis manusia ini selalu ingin dan selalu berusaha untuk terus menambah apa yang telah mereka raih. Tentu terpuji seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat yang tinggi di sisi Allah melalui pencariannya terhadap ilmu. la sangat sadar akan firman Allah Swt.:
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran). (QS Al-Kahfi [18]: 6)
Keinginan Rasul Saw. yang demikian menggebu mengundang banyak ayat Al-Quran yang mengingatkan beliau hanya bertugas untuk menyampaikan ajaran, bukan menjadikan mereka beriman.
              
3. Tamak
     Tamak adalah keinginan yang menggebu untuk memperoleh sesuatu secara tidak wajar. Sehingga harus diakui bahwa keinginan menggebu untuk meraih sesuatu yang disukai merupakan sifat manusia sehingga sifat tamak memang sulit untuk dihilangkan.
     Coba kita perhatikan kembali, tentang kisah bapak dan ibu ras Homo sapiens sapiens : Adam dan Hawa, bukankah dia "terusir" dari taman (Jannah) karena keinginannya mereka untuk hidup kekal di dalamnya sehingga Iblis memanfaatkan hal itu:
 فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ
Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS Tha Ha [20]: 120)
___________________________________
     3 Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan) karena menurut setan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati, pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab Al-Quran dan hadis tidak menerangkannya. Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam Surah Tha Ha ayat 120, tetapi itu adalah nama yang diberikan setan.
 Itulah yang membuat Adam teperdaya dan lupa karena sejak semula Allah telah menetapkan bahwa manusia ditugaskan untuk menjadi Khalifah di Planet Bumi, bukan hidup kekal tanpa melalui kehidupan duniawi. Tetapi Adam lupa diri akibat keinginan yang melampui batas itu.
 Bukankah Nabi Musa juga melakukan hal yang melampaui batas karena ingin pembuktian akan keberadaan Allah Swt., ia pernah memohon untuk dapat melihat Allah di Bumi, seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya di bawah ini:

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَانِي وَلَٰكِنِ انظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
     143.  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman". (Q.S. Al-A’rof [7] : 143).
[565]  para Mufassirin ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
Begitu pula dengan Nabi Muhammad Saw., beliau ingin agar seluruh manusia beriman sampai-sampai Allah "kasihan" kepadanya:
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran). (QS Al-Kahfi [18]: 6)
 Keinginan Rasul Saw. yang demikian menggebu mengundang banyak ayat Al-Quran yang mengingatkan beliau hanya bertugas untuk menyampaikan ajaran, bukan menjadikan mereka beriman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
56.  Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Q.S. Al-Qoshosh [28] : 56).
Contoh sifat tamak seperti di atas, masih dapat digolongkan sifat keingintahuan yang menggebu-gebu, artinya masih mengandung hal yang positif, belum mewakili sifat tamak yang negatif.
Seperti Sayidina All katakan: "Ada dua jenis manusia tamak yang tidak akan pernah merasa puas: pemburu ilmu dan pemburu harta."
Karena ketamakannya, kedua jenis manusia ini selalu ingin dan selalu berusaha untuk terus menambah apa yang telah mereka raih. Tentu terpuji seorang Muslim yang tamak terhadap ilmu. Muslim seperti ini senantiasa menginginkan derajat yang tinggi di sisi Allah melalui pencariannya terhadap ilmu. la sangat sadar akan firman Allah Swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis," maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu," maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Mujadilah [58]: 11)
 Jika  tamak terhadap ilmu masih terpuji, bagaimana dengan tamak terhadap harta? Tentu sangat hina dan tercela. Ketamakan terhadap harta hanya akan menghasilkan sifat rakus, laksana serigala yang terus mengejar dan memangsa buruannya, walaupun harta itu bukan haknya. Secara fitrah, manusia memang sangat mencintai harta kekayaan dan berhasrat keras mendapatkannya sebanyak mungkin dengan segala cara.
 Allah Swt. berfirman:
قُل لَّوْ أَنتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَّأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ قَتُورًا
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan karena takut membelanjakannya." dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS Al-Isra' [17]:100)
Demikian Allah menggambarkan ketamakan para pencari harta. Kisah tentang Qarun, yang diabadikan dalam Al-Quran, hanyalah salah satu contohnya. Bagaimana ketamakan Qarun terhadap harta telah menjadikannya lupa bersyukur kepada Allah, bahkan kufur terhadap-Nya. Akibatnya, Allah membenamkan Qarun bersama seluruh harta yang ia bangga-banggakan ke dalam bumi (QS Al-Qashash [28]: 76-81).
Anehnya, 'Qarun-Qarun' lain terus bermunculan hingga hari ini. Pada sebagian orang (pada sebagian pejabat dan wakil rakyat, sekadar contoh), sifat 'qarun' demikian menonjol. Walau rata-rata mereka sudah kaya raya, gaji mereka pun sebagai pejabat/wakil rakyat sudah sangat tinggi, korupsi tetap mereka jalani; suap tetap mereka terima; dan cara-cara haram untuk mengeruk kekayaan tetap mereka upayakan.
Bahkan, keinginan untuk tetap berkuasa melalui Pemilu atau Pilkada terus mereka perjuangkan meski harus mengeluarkan dana miliaran rupiah sebagai modal pelicinnya. Dengan itu, mereka berharap, saat mereka menjadi pejabat atau wakil rakyat, mereka tetap bisa terus menumpuk-numpuk harta kekayaan tanpa peduli halal-haram.
Padahal, sekalipun seseorang kaya raya, tetap hanya bebe-rapa suap saja makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Selebihnya, sebesar dan sebanyak apa pun hartanya, ia tak akan pernah bisa membawanya saat ia mati dan dimasukkan ke liang lahat. Inilah sifat tamak yang paling menakutkan.
    
4. Ketergesaan
Sifat ketergesaan adalah melakukan aktivitas dengan tanpa perhitungan sebab dan akibatnya sehingga menyebabkan penyesalan dikemudian hari.
Ketergesaan sangat berbeda dengan gerak cepat. Ketergesaan sering disebabkan karena seseorang tidak memikirkan atau kurang memperhitungkan akibat suatu tindakannya sehihgga dapat menyebabkan seseorang melakukan kewajiban asal jadi bahkan mengantar seseorang mengambil jalan pintas yang berten-tangan dengan ketentuan hukum.
Rasulullah Saw. bersabda sebagai berikut.
"Tidak tergesa-gesa/berpikir matang bersumber dari Allah dan keter-gesa-gesaan bersumber dari setan."
Berpikir secara matang dan memperhitungkan dampak sebab dan akibatnya itulah yang dapat membedakan tingkat kemahiran seseorang sehingga dapat menjadi orang yang luar biasa, bukan menjadi orang yang biasa-biasa saja, apalagi orang yang ceroboh karena ketergesaan.
Sering sekali untuk melangkah kita membutuhkan keberanian, tetapi tahukah Anda apa arti keberanian, kehati-hatian, dan kecerobohan?
Keberanian bukanlah melakukan sesuatu yang jelas akibatnya, tetapi keberanian adalah melakukan sesuatu yang akibatnya belum jelas sehingga mungkin dapat mengorbankan jiwa dan harta benda.
Karena itu bila hendak membulatkan tekad, janganlah sekali-kali memberanikan diri, kecuali dalam hal yang Anda harapkan manfaatnya pada masa datang lebih besar daripada apa yang Anda korbankan masa kini dan hendaknya harapan itu melebihi kecemasan Anda.
Anda tidak dikatakan pemberani bila hanya menelusuri jalan yang telah terbentang. Walaupun demikian, keberanian harus dilakukan dengan perhitungan yang teliti, walaupun hasil yang diharapkan belum sepenuhnya pasti. Tidak juga dikatakan pemberani bila melangkah tidak tahu akibatnya, yangterakhir ini disebut bukan pemberani, tetapi kecerobohan sebagai buah dari ketergesaan.
Hal inilah yang merupakan anjuran setan yang berusaha sebisanya agar anak cucu keturunan Adam a.s. selalu dalam ketergesaan sehingga mudah untuk dijerumuskan sesuai dengan keinginannya.
    
5. Amarah
  Sifat amarah adalah luapan hati akibat sesuatu yang tidak berkenan, biasanya ketika daya pikir logika tidak sanggup memecah permasalahan yang dihadapinya. Itulah api yang ada dalam dada manusia, kobarannya akan menjadi-jadi jika ada yang meniupnya.
  Manusia yang terperangkap dalam sifat amarah ini akan terlihat gemetar, air mukanya berubah, ucapannya tidak teratur, dan gerak-geriknya tidak menentu. Sifat amarah bila memengaruhi kita secara terus-menerus merupakan sumber penyakit dalam tu-buh manusia sehingga dapat menyebabkan seseorang dapat meninggal dunia disebabkan organ-organ tubuhnya bekerja dengan tidak teratur.
  Al-Quran menyatakan kepada musuh-musuh Islam:
هَا أَنتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
  Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman pada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, "Kami beriman," dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), "Matilah kalian disebabkan oleh kemarahan kalian." Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (QS All 'Imran [3]: 119)
  Nabi Muhammad Saw. pernah diingatkan oleh Allah Swt.
فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ
لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS Al-Shaffat [37]: 142-144)
 Itulah sanksi yang diterima Nabi Yunus karena meninggalkan tugas dakwah atas dorongan amarah kepada kaumnya.
___________________________
4   Sebab Yunus tercela ialah karena dia lari meninggalkan kaumnya.
Jika seseorang merasa ada sesuatu yang mengajaknya untuk marah, Al-Quran dan Sunnah mengajarkan agar memohon perlindungan Allah dari setan karena setanlah yang mengipasi dan menuangkan bensin untuk menciptakan api di dalam qalbu. Juga dianjurkan untuk diam bahkan meninggalkan tempat,
Nabi Muhammad Saw. bersabda sebagai berikut.
"Kalau salah seorang di antara kamu marah, sedang ketika dia berdiri, hendaklah dia duduk, kalau amarahnya telah reda (maka syukurlah dan kalau belum) hendaklah dia berbaring." (HR Abu Dawud dan Ibn Hibban)
Sifat amarah jelas akan menjadi salah satu pintu gerbang setan untuk menjerumuskan manusia.
    
6. Pembantah
Sifat membantah adalah suatu kelakuan yang hanya mementingkan din sendiri sehingga cenderung untuk menolak sesuatu karena tidak sesuai dengan keinginannya saja walaupun dihadapkan dengan kebenaran. Kelakuan seperti ini disebut sebagai Pembantah.
Manusia cenderung untuk memiliki sifat membantah sesuai dengan firman Allah di bawah ini.
خَلَقَ الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ
Dia telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata. (QS Al-Nahl [16]: 4)
Coba kita telaah dengan baik siapa makhluk yang sanggup tidak mengakui adanya Tuhan Pencipta Segala Sesuatu, rasanya hanyalah manusia yang dapat berbuat seperti itu. Bahkan iblis atau setan pun tidak ada yang ateis, mereka semua percaya dan takut kepada Allah Swt. Dengan kata lain hanya makhluk manusia (Homo sapiens sapiens) yang sanggup membantah adanya kekuatan yang Mahadahsyat, yaitu Tuhan Semesta Alam.
Walaupun demikian, bila dibandingkan dengan makhluk yang serupa dengannya (Homo Neanderthal, Erestus, dan sebagainya) hanya makhluk seperti kita jualah yang dapat sadar akan keberadaan Sang Penciptanya juga.
Di bagian lainnya, Allah Swt. berfirman sebagai berikut.
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَّرِيدٍ
كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَن تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَىٰ عَذَابِ السَّعِيرِ
Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat Yang tetah ditetapkan terhadap setan itu adalah barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya dan membawanya ke azab neraka. (QS Al-Hajj [22]: 3-4)
Al-Quran tidak melarang kita untuk berdiskusi dengan penganut agama lain, walaupun di ujungnya dapat menimbulkan per-bedaan pendapat, tetapi Al-Quran melarang apabila kita diskusi yang ujungnya mengakibatkan pertengkaran. Al-Quran juga melarang kita berdiskusi tanpa disertai pijakan ilmu pengetahuan dan petunjuk lllahi.
وَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ
ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۖ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ
Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya [978], Dengan memalingkan lambungnya[979] untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. ia mendapat kehinaan di dunia dan dihari kiamat kami merasakan kepadanya azab neraka yang membakar. (Q.S. Al-Hajj [22] : 8-9).
[978]  maksud yang bercahaya ialah: yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil.
[979]  Maksudnya: menyombongkan diri.
      Demikian salah satu sifat kelemahan manusia ini dan sif at ini pula yang merupakan sarana setan untuk mencapai tujuannya agar manusia menjadi makhluk pembantah yang nyata kepada Allah, sekaligus menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara sesamanya.


7. Congkak
Sifat congkak adalah keyakinan yang berlebihan akibat dari ke-mampuan memiliki harta dan kedudukan/jabatan atau karena keadaan yang lebih menguntungkan. Sehingga terlupakan bahwa segala sesuatu terjadi karena Allah semata bukan lainnya. Sifat ini biasa bersamaan datangnya dengan sifat angkuh dan sombong, yang muncul karena merasa diri lebih dari orang lain. Al-Quran memperingatkan kita semua sebagaimana berikut ini.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئًا ۚ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
33.  Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (Q.S. Luqman [31] : 33)
    Bahkan beberapa sahabat Nabi pernah terkena bisikan setan pada saat Perang Hunain. Ketika itu, mereka merasa congkak dengan berkata, "Hari ini kita tidak akan kalah karena jumlah kita banyak." Ini jelas merupakan bisikan setan karena kekalahan dan kemenangan bukan ditentukan oleh jumlah personil, tetapi di-tentukan oleh Allah Swt.
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ ۙ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُم مُّدْبِرِينَ
   25.  Sesungguhnya Allah Telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (Ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak Karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu Telah terasa sempit olehmu, Kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. (Q.S. At-Taubah [9] : 25)
Manusia hendaknya memang membersihkan jiwa dari sifat ini karena melalui sifat ini juga merupakan kesenangan setan dalam upaya memperdaya manusia.
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ    
6.  Hai manusia, apakah yang Telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah. (Q.S. Al-Infithor [82] : 6).
     
8. Angkuh/Sombong
Angkuh adalah sifat keengganan untuk menerima kebenaran se-telah mengetahuinya, serta menutup mata bila menyangkut hak orang lain. Jiwa manusia diliputi oleh sifat ini, pada saat ia merasa rhemiliki kelebihan.
Sesungguhnya sifat inilah yang membuat jin (iblis) menjadi takabur karena kesombongannya merasa lebih dari makhluk manusia yang telah diciptakan oleh Allah Swt. sehingga berani menentang perintah Allah Swt. Apabila manusia memperlihatkan sifat ini maka sesungguhnya ia sudah meniru sifat jin (iblis) yang dapat merendahkan harkat dan martabat dirinya sendiri.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab Mis, "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (Q.S. Al-A'raf [7]: 12)
 Kedua ayat di atas jelas menunjukkan bahwa iblis merasa bahwa ia lebih unggul dan mulia dari manusia (Adam) yang hanya terbuat dari tanah karena menurutnya unsur api lebih hebat dari unsur tanah. Seandainyapun unsur api lebih hebat dari unsur tanah, bukankah kemuliaan di sisi Allah Swt. tidak ditentukan oleh kehebatan dari unsurnya, tetapi ditentukan oleh keseriusan peng-abdian makhluk kepada-Nya, dan sesungguhnya iblis pun tahu akan hal ini, tetapi dia tetap mengingkarinya.
 Bila kita sebagai keturunan makhluk ras Adam a.s. (Homo sapiens sapiens) tidak mampu menghindar dari sifat angkuh atau sombong, maka sesungguhnya kita telah dikuasai oleh iblis atau setan. Keangkuhan paling besar yang dapat dilakukan oleh ras Adam a.s. adalah tidak menerima kebenaran mutlak kalimat "La llaha ilia Allah" : Tiada tuhan melainkan Allah. Seperti yang dilakukan oleh iblis ketika pertama kali menunjukkan sifat kesom-bongannya, yang sesungguhnya dia menolak kebenaran kalimat tauhid di atas.
Mari kita perhatikan cerita di bawah ini, tentang tujuh alasan mengapa Iblis membangkang terhadap perintah Allah Swt. (Shi-hab, 2006). Iblis mengadu dengan mempertanyakan keadaannya kepada Malaikat.
"Aku mengakui dan percaya bahwa Allah adalah Tuhanku dan Tuhan seluruh makhluk. Dia Maha Mengetahui lagi Mahaku-asa, tidak dipertanyakan tentang kodrat dan kehendak-Nya. Aku berserah diri kepada-Nya. Bila Dia berkehendak (menciptakan sesuatu), Dia hanya berfirman: Kun fayakun/Jadilah, maka jadilah. Dia Mahabijaksana, tetapi ada sekian pertanyaan yang tertuju terhadap kebijaksanaan-Nya:
• Tuhan telah mengetahui sebelum dia menciptakanku, apa yang aku lakukan. Maka, mengapa Dia menciptakan aku?
• Jika Dia menciptakan aku sesuai dengan kehendak-Nya, mengapa Dia membebankan kepadaku tugas-tugas yang sebenarnya tidak berguna bagi-Nya jika kulakukan, tidak juga Dia merugi bila kuabaikan?
• Dia telah menugaskan kepadaku aneka tugas dan telah kupenuhi berdasarkan asas pengetahuan serta ketaatan. Maka mengapa Dia menugaskan lagi aku bersujud kepada Adam!
• Kalaupun Dia menugaskan kepadaku secara mutlak dan menugaskan secara khusus untuk bersujud kepada Adam, mengapa Dia mengutuk aku dan mengusirku dari Taman ("Surga"), padahal aku tidak melakukan sesuatu kecuali ber-kata: Aku tidak akan sujud kecuali kepada-Mu?
• Kalaupun Dia menugaskanku secara mutlak/khusus, dan sebagai akibatnya aku dikutuk dan diusir-Nya dari Taman ("Surga"), mengapa dia memberiku kesempatan untuk menggoda Adam sehingga dia pun terpaksa keluar dari Taman ("Surga")? Bukankah lebih baik dia tidak memperkenankan aku menggodanya sehingga Adam dapat dengan tenang hidup di Taman ("Surga") tanpa terganggu olehku?
• Kalaupun Dia telah mengusir aku dari Taman ("Surga") dan tercipta permusuhan di antara aku dan Adam, mengapa pula dia menganugerahkan kepadaku kemampuan untuk menggoda anak cucunya? Aku dapat melihat mereka, sedangkan mereka tidak dapat melihatku. Aku dapat memengaruhi mereka dengan bisikan-bisikanku, sedangkan kekuatan dan kemampuan mereka tidak dapat memengaruhiku. Bukankah membiarkan anak cucu Adam itu hidup dalam kesucian, seba-gaimana keadaan mereka ketika lahir, lebih baik buat mereka?
• Kalau semua itu harus terjadi, mengapa Dia memenuhi per-mohonanku untuk hidup sampai waktu tertentu (kiamat)? Bukankah lebih baik jika permohonan itu ditolak-Nya sehingga dunia ini diliputi oleh kebaikan dan keharmonisan?"
Mari kita teruskan cerita di atas. Setelah mendengar berbagai alasan dan pertanyaan di atas, Allah Swt. berfirman kepada para malaikat.
Katakan kepada. Iblis, "Engkau berbohong, tidak tulus ketika berkata bahwa engkau berserah diri kepada-Ku. Kalau engkau benar dan jujur dalam ucapanmu bahwa Aku adalah Tuhan seru sekalian alarm, pastilah engkau tidak akan berkata 'mengapa'. Bukankah Aku Tuhan yang tiada Tuhan selain Aku? Tidak dipertanyakan apa yang Aku lakukan, sedangkan semua makhluk akan diminta pertanggungjawabannya."
Bila kita memperhatikan berbagai pertanyaan yang diutara-kan oleh Iblis di atas, seolah-olah semua pertanyaan itu logis bila kita hanya mengikutinya dengan logika semata. Mungkin kita pun sebagai makhluk Homo sapiens sapiens, dapat mengajukan pertanyaan yang sama bila kita hanya selalu mengikuti kekuatan daya logika kita semata.
Sebaliknya, bila dipahami secara mendalam makna pertanyaan di atas, kita akan tahu bahwa sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Iblis di atas muncul karena didasari sifat angkuh/sombong, mengandung kebohongan dan iri hati yang berujung pada pembangkangan kepada perintah Allah Swt.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Allah berfirman, "Apakah yang menghalahgimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab Iblis "Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dan tanah." (QS Al-A'raf [7]: 12)
Itulah sifat angkuh/sombong setan atau Iblis yang dapat di-miliki oleh kita sebagai bagian dari ras Adam a.s. (Homo sapiens sapiens). Coba kita perhatikan, ketika diperintah oleh Allah Swt. agar sujud, Iblis tidak langsung menerima dan mengikuti perintah-Nya, tetapi dia mempertimbangkan apakah akan dia laksanakan perintah-Nya atau tidak karena kesombongan dirinya. Dia pertim-bangkan apakah perintah itu sesuai dengan nalarnya atau tidak.
Seandainya Iblis kemudian melakukan perintah sujud yang telah diperintahkan oleh Tuhan semesta alam, tetap saja ia tidak menunjukkan penyerahan diri secara mutlak kepada Allah pada-hal beragama adalah sebuah penyerahan diri secara penuh kepada Allah Swt.
Agama atau perintah-perintah Allah tidak diturunkan atau ditetapkan oleh-Nya untuk dipertimbangkan oleh manusia apakah dikerjakan atau tidak, berdasarkan kesesuaian dengan nalarnya. Sesungguhnya agama itu berisi perintah dan larangan-Nya yang ditetapkan untuk dipercaya dan dilaksanakan, baik dipahami maupun tidak.
Memang kita diperbolehkan setelah menerima dan melaksa-nakan perintah atau larangan-Nya kemudian membahas, mem-pelajari, dan mencari hikmah serta rahasia perintahnya untuk kemudian dipahami. Itu bukanlah hal yang terlarang.
Bukankah Allah sering mengakhiri firman-firman-Nya dengan pertanyaan: "Tidakkah kamu pikirkan? Tidakkah kamu perguna-kan akalmu? Apakah kamu tidak melihatnya ...?" Semua kalimat tersebut mengajak kita sebagai keturunan ras Adam a.s. untuk mempelajari dan mencari hikmah perintah dan larangan-Nya.
Setelah mempelajarinya, kita menemukan jawaban yang memuaskan. Itulah yang diharapkan, tetapi bila tidak menemukan jawaban yang memuaskan, sebagai hamba Allah yang taat kita harus berucap, "Sami'na wa atha'na" yang artinya 'kami mende-ngar dan menaatinya'.
Oleh sebab itu, bila kita mengikuti pertanyaan-pertanyaan Iblis yang mungkin secara keseluruhan benar berdasarkan pertim-bangan logika, maka kita akan tetap dikecam dan dihukum oleh Allah Swt. karena keengganan untuk taat dan pasrah total kepada perintah Allah yang menciptakan seluruh isi langit dan bumi ini.
Astaghfirullah... ampuni kami ya Allah, hampir saja kami tergiring untuk membenarkan pertanyaan Iblis di atas, hingga kami cenderung untuk menyalahkan Allah Swt. sebagai pencipta seluruh makhluk yang mempunyai wewenang di atas segala-galanya, dan mempunyai maksud yang sering tidak dapat kami mengerti karena maksud dan manfaatnya ada di masa depan yang belum kami lalui.
Itulah sifat angkuh/sombong yang tercipta sebagai bagian dari kelemahan manusia, ras Adam a.s. alias makhluk Homo sapiens sapiens. Bila dibiarkan merasuk ke dalam qalbu kita, sifat tersebut akan menggiring kita kepada keengganan taat dan pasrah secara total kepada seluruh perintah dan larangan-Nya.
Setelah mengetahui seluruh kelemahan utama manusia keturunan Adam seperti kita ini, segeralah kita sadar bahwa betapa rentannya kita terhadap godaan setan atau Iblis yang terkutuk,
Selanjutnya, dari kedelapan kelemahan utama manusia ras Adam seperti kita, ternyata sifat sombong adalah kelemahan manusia yang sangat berbahaya. Seseorang dapat melakukan kedelapan kelemahan di atas karena satu kelemahan saja, yaitu sifat sombong tersebut. Sifat inilah yang merupakan dosa awal makhluk, seperti yang dilakukan oleh Iblis ketika membangkang perintah terhadap Allah untuk bersujud kepada Adam.
Seseorang dapat menzalimi orang lain karena sifat sombong. Dan dengan mengagungkan sifat ini, manusia dapat mudah menjadi iri hati, tamak, congkak, pemarah, pembantah terhadap Sang Pencipta, dan sebagainya. Suatu negara dapat menyerang nega-ra lain tanpa alasan atau dengan alasan yang dibuat-buat karena sifat sombong ini karena terlalu percaya diri. Bahkan seorang mantan Kepala Negara Amerika seperti George Bush telah dilem-par sepatu oleh seorang wartawan karena kesombongannya— karena ia tidak merasa sedikit pun bersalah ketika negaranya menyerang Irak tanpa alasan sehingga menyebabkan ribuan orang mati.
Boleh jadi karena sifat sombong manusia inilah nantinya Planet Bumi akan hancur. Masing-masing negara saling luncurkan bom atom nuklir untuk membalas serangan yang ada. Astagh-firuliah...!
Maka hanyalah perlindungan Allah Swt. yang dapat menyelamatkan kita dari malapetaka yang bersumber dari kelemahan kita sendiri. Jika kita tidak berlindung kepada Allah Swt, kelemahan itu akan dipergunakan oleh Iblis untuk menyukseskan misinya, yaitu membawa kita bersamanya memasuki kediaman abadi mereka di akhirat, yaitu Neraka yang menyala-nyala.

Ya Allah,
kuatkanlah kami
dari segala kelemaKan yang ada,
agar dapat mengarungi dunia ini
 di bawah petunjuk-Mu
dan selalu mampu menjauhi larangan-Mu.
Ya Khalik,
Engkaulah yang mengilhamkan
sifat kefasikan dan ketakwaan
dalam jiwa kami,
maka bimbinglah kami,
tuntunlah kami,
janganlah tinggalkan kami
 dalam kesendirian,
dalam mengarungi kehidupan
 sendau gurau di dunia ini,
sambil menunggu kekidupan abadi,

di alam akhirat-Mu.

* Tentang Penulis

AGUS HARYO SUDARMOJO lahir dl Jakarta pada 31 Juli 1964, adalah putra keempat darl seorang ayah bernama Agus Sudono (mantan Wakil Ketua DPA Rl). Dia menikah dengan Sri Retno Handayani, seorang arsitek, dan dikaruniai tiga orang anak yang bernama: Bayubening P.S., Bramaseta J., dan Canang Wirabhumi N.
Dia adalah seorang ahli geologi lulusan Universitas Trisakti, dan se­orang pengusaha di bidang agroindustri. Dia pun pernah menjadi dosen selama tujuh tahun di Universitasnya.
Dalam perjalanan hidupnya, penulis pernah menggeluti dunla kebatinan ala Kejawen. Goa, gunung, dan lautan telah dijelajahinya demi mencari kebenaran sejati di alam dunia ini. Pada 2004, penulis merasa kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang selalu merasa diawasi oleh-Nya. Di saat itulah dia mulai "terjebak" dalam kenikmatan meng­geluti informasi-informasi yang tersirat dan tersurat dalam Al-Quran dan hadis sahih. Dia bertekad untuk terus menyenangi sains dan mencintai Al-Quran.
Dia bukanlah seorang ahli agama. Selain kegemarannya mengupas makna-makna yang terkandung dalam Al-Quran dan Al-Hadis, ia juga senang mendekat pada alam dengan cara bersepeda, berkemah, dan berenang, demi cintanya kepada Sang Kekasih yang menciptakan alam jagat raya ini.
Penulis adalah generasi keenam dan seorang pahlawan kemerdekaan nasional yang sering dijuluki sebagai Pangeran Sambernyowo kemudian dinobatkan menjadi KGPAA Mangkoenagoro I, yang sebagai penyebar agama Islam pada abad ke-18. Hal inilah yang menggugah sanubarinya untuk bersyiar Islam secara modern dalam zamannya, untuk berbagi ilmu yang telah didapatnya.
Dalam kesehariannya penulis tetap sebagai seorang ayah yang sederhana, dekat dengan karyawan dan petani dalam mengembangkan bisnisnya.


Jember, 13 Agustus 2014

Pengutip :
Dr. H.M. Nasim Fauzi
Jalan Gajah Mada 118
Tilpun (0331) 481127 Jember


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar