Selasa, 15 Juli 2014

Tafsir Taqwa adalah Takut 01



Apakah arti taqwa itu ?
Mari kita tanyakan kepada Alloh Swt.


Oleh : Dr. H.M. Nasim Fauzi

Motto
öNä39s)ø?r&y «!$#YÏ㨠ö/ä3tBtò2r& bÎ)
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah
ialah orang yang paling bertaqwa


Pendahuluan
Setiap melaksanakan sholat Jum’at di masjid kita selalu diingatkan oleh khotib untuk bertaqwa, karena seruan untuk bertaqwa adalah merupakan salah satu rukun khutbah Jum’at.
Rukun atau hal-hal yang harus ada pada khutbah ada lima;
1.      Memuji kepada Alloh dengan melafadhkan kata-kata pujian.
2.      Membaca sholawat kepada nabi Muhammad Saw.
3.      Berwasiyat kepada hadirin untuk taqwa.
4.      Mendoakan kepada semua orang mu’min (baik yang sudah mati maupun yang masih hidup).
5.      Membaca Al Qur-an (paling sedikit satu ayat).
(Dikutip dari Kitab Kifayatul akhyar.)

Di dalam Al-Qurán dan Terjemahnya yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI dalam mengartikan taqwa pada QS. Al-Baqoroh [2] : 2 tertulis sebagai berikut :
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Alloh dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengertian ini mungkin berdasar pada pendapat Umar bin Khottob Ra. berikut:
Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsirnya bahwa: Umar Ibnul Khathab Ra. bertanya kepada Ubai Ibnu Ka’ab Ra. tentang TAQWA ini, maka berkatalah Ubai kepada Umar:
“Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri?”
“Ya, Pernah”. Jawab Umar.
Ubai bertanya lagi: “Apa yang anda lakukan saat itu?”.
Umar menjawab: “Saya akan berjalan dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati sekali agar tak terkena dengan duri itu”. Lalu Ubai berkata: “Itulah TAQWA”.
Demikianlah yang biasanya dikatakan oleh khotib sholat Jum’at.
Karena panjangnya arti taqwa itu maka bagi para jamaah Jumat ýang teringat hanya : taqwa adalah mengerjakan segala perintah Alloh dan menghindari segala larangannya. Kalimat memelihara diri dari siksaan Alloh dilupakan, padahal itulah yang terpenting.
Selama hidup, penulis hanya dua kali mendengar khotib sholat Jumát mengartikan taqwa dengan takut sebagaimana judul makalah.
Pertama dikatakan oleh ayahanda penulis sendiri berpuluh-puluh tahun yang lalu sewaktu beliau berkhutbah sholat Jum’at di masjid Jamik Jember. Ayah penulis adalah seorang kiyahi yang pernah belajar di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang di bawah bimbingan Hadrotusy Syekh K.H. Hasyim Asy’ari (kakeknya Gus Dur).
Yang kedua dikatakan oleh seorang khotib sholat Jum’at beberapa tahun yang lalu di Masjid Al-Huda Kaliwates Jember.
Sewaktu arti taqwa berarti takut ini penulis kemukakan di suatu ceramah, pendapat ini disalahkan oleh seorang dosen IAIN yang sedang hadlir. Yang benar katanya adalah pendapat yang umum tadi.

Peran taqwa di pemerintahan RI

Setelah terjadi G30S PKI tahun 1965, agar peristiwa itu tidak terulang, MPR RI mewajibkan semua pejabat di NKRI untuk bertaqwa kepada Tuhan YME. Syarat ini berlaku sampai sekarang.
Nyatanya kejadian korupsi di kalangan Pemerintahan RI tetap saja merebak. Bahkan juga terjadi di kalangan tokoh-tokoh politik yang bergelar Ustaz dan Kiyahi Haji. Mungkin arti taqwa yang panjang tadi tidak menimbulkan rasa takut berbuat kejahatan pada para pemimpin kita itu.
Maka dalam makalah ini akan kita uji manakah di antara dua pengertian ini yang benar.


Permasalahan


Manakah yang benar di antara dua arti taqwa:
1.    Taqwa berarti takut terhadap saat menghadap Tuhannya,                       ( خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ pada QS. Ar-Rohman [55]: 46)
2.    Takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya (Terjemah Al Qur-an Kementerian Agama RI)..


Pembahasan

A. Tinjauan kata taqwa menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA.
Secara etimologi kata ini merupakan bentuk mashdar dari kata ittaqa – yattaqi, yang berarti ‘menjaga diri dari segala yang membahayakan’. Sementara pakar berpendapat bahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan ‘berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu’. Kata takwa dengan pengertian ini dipergunakan di dalam Al Qurán, misalnya pada  QS Al-Mukmin [40]:45 dan QS Ath-Thur [52]:27.
Kata ini berasal dari kata waqa – yaqi - wiqayah, yang berarti ‘menjaga diri’, ‘menghindari’, dan ‘menjauhi’, yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. Penggunaan kata kerja waqa dapat dilihat antara lain dalam QS Al-Insan [76]:11, QS. Ad-Dukhon [44]:56 dan QS. Ath-Thur [52]:28. Penggunaan bentuk ittaqa dapat dilihat, antara lain, dalam QS. Al-Arof [7]:96. 
Kata taqwa juga sinonim dengan kata khouf dan khosyyah yang berarti ‘takut’.
Bahkan kata ini mempunyai pengertian yang hampir sama dengan kata taat. Kata taqwa yang dihubungkan dengan kata tho’at dan khosyyah digunakan Al Quran di dalam QS. An-Nur [ 24]:52.
B. Arti taqwa di dalam Kamus dan Ensiklopedia.
Dalam beberapa kamus dan ensiklopedia yang penulis baca arti taqwa adalah sebagai berikut:

Nomor.
Nama kamus dan ensiklopedia
Arti taqwa
01.

02.
03.
Kamus Bahasa Indonesia, Daryanto S.S.
Kamus Arab, M Kasir Ibrahim
Qamus Al-Quran, Abdul Qadir Hasan
Kesalehan hidup

Menjaga
Berbakti, menjaga
04
Wikipedia bahasa Indonesia
Memelihara, melindungi
05.

06.

07.
Ensiklopedi Al-Qur’an , H. Fachrudin Hs.
Ensiklopedi Al-Qur’an, Prof. M. Dawam Rahardjo
Ensiklopedia Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraisy Shihab, MA.
Memelihara diri dari bahaya

Takut kepada Tuhan

Menjaga diri, menghindari,  menjauhi, takut, taat.
08.

09.
Ensiklopedi Islam Ringkas, Cyril Glasse
Ensiklopedi Islam Indonesia, Prof. Dr. H. Harun Nasution
Kesalehan yang ditimbulkan dari rasa kagum pada Allah.
Waspada, menjaga diri dan takut.

Dari kamus dan ensiklopedia di atas kita bisa menggolongkan arti taqwa menjadi dua:
1. Menjaga diri (dari siksaan Allah), yaitu pada semua kamus/ensiklopedia, kecuali Kamus Bahasa Indonesia dan Ensiklopedia Islam ringkas Cyril Glasse.
2. Takut (terhadap Allah), yaitu pada Ensiklopedi Al-Qur’an, Prof. M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedia Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraisy Shihab, MA. dan Ensiklopedi Islam Indonesia, Prof. Dr. H. Harun Nasution.
Untuk memilih dari dua arti taqwa ini mana yang cocok dengan artinya di dalam Al Qur-an lebih dahulu kita mengingat pendapat Sayyidina Ali Ra. tentang bahasa  Arob Al Qur-an sebagai berikut:
C. Pendapat Ali Ra. tentang Bahasa Arob Al Qur-an
Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali Ra pernah mengingatkan bahwa:
 “Bisa jadi yang diturunkan Alloh sepintas terlihat serupa dengan ucapan manusia, padahal itu adalah ucapan (firman) Alloh sehingga pengertiannya tidak sama dengan pengertian yang ditarik dari ucapan manusia.   Sebagaimana tidak satu pun dari makhluk-Nya yang sama dengan-Nya, demikian juga tidak serupa perbuatan Alloh dengan sesuatu pun dari perbuatan manusia. Firman Alloh adalah sifat-Nya, sedang ucapan manusia adalah perbuatan/aktivitas mereka. Karena itu juga jangan sampai engkau mempersamakan firman-Nya dengan ucapan manusia sehingga mengakibatkan engkau binasa dan tersesat/menyesatkan.
Bila bahasa Arob di dalam Al Qur-an dimaknai sesuai dengan bahasa Arob manusia maka Al Quran menjadi multi tafsir sebagaimana yang telah terjadi sekarang. Sehingga tidak ada kepastian.
Untuk itu kita harus memaknai kata taqwa sesuai dengan Bahasa Arob Al Qur-an, dengan jalan bertanya kepada penciptanya yaitu Alloh Swt. sesuai dengan Surat An-Nisa [4] :59 :
ـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ‌ۖ فَإِن تَنَـٰزَعۡتُمۡ فِى شَىۡءٍ۬ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ‌ۚ ذَٲلِكَ خَيۡرٌ۬ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلاً 
 Hai orang-orang yang beriman, toatilah Allah dan toatilah Rosul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Maksud ayat ini adalah: bila terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, kita harus kembali kepada Alloh, yang dapat diartikan sebagai: “Kita harus bertanya kepada Alloh”.
Kita tidak bisa "bertanya kepada Alloh" dengan cara membaca Tafsir Al Qur-an yang dikarang oleh para ahli tafsir, karena itu berarti kita bertanya kepada manusia yaitu para ahli tafsir Al Qur-an tersebut.
D. ”Bertanya kepada Alloh” tentang arti taqwa
Agar kita dapat ”bertanya kepada Alloh Swt.”
1. Mula-mula kita harus berpendapat bahwa setiap kata di dalam Al Qur-an hanya mempunyai satu arti.
Dasarnya adalah :
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Mengingat bahwa di dunia ini Kitab Al Qur-an jumlahnya hanya satu, diciptakan oleh Alloh yang satu, diturunkan melalui malaikat yang satu yaitu Jibril, kepada Nabi yang satu yaitu Nabi Muhammad Saw. Maka makna kata-kata di dalam Al Qur-an seyogjanya hanya satu
--------------------------------------------------------------------------------------------
2. Kita kumpulkan semua ayat yang mengandung kata yang dimaksud, dalam hal ini kata taqwa.
Di pasaran sudah ada buku-buku index Al Qur-an. Di antaranya yang penulis pakai adalah:
a. Indeks Al-Qur’an, Sukmajaya dan Rosy Yusuf
b. Indeks  Al-Qur’an, N.A. Baiquni dkk.
c. Konkordansi Qur’an, Ali Audah
3. Kita masukkan arti kata yang dimaksud (yaitu ‘takut’) di dalam kurung, di belakang kata tersebut.
Contoh:
Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (* takut). (QS. Al-Baqoroh [2]:2).

 Keterangan : (* Takut kepada saat menghadap Tuhannya.
4. Kita teliti apakah artinya memang sesuai dengan konteks ayat.
---------------------------------------------------------------------------------------------
Bila arti yang dimaksud memang sesuai dengan konteks semua ayat, maka itulah jawaban Alloh bahwa ”taqwa berarti takut” adalah betul.
E. Tinjauan psikologis terhadap rasa takut pada manusia
Penulis perlu membahas ini agar kita mempunyai gambaran bagaimana besarnya pengaruh rasa takut ini terhadap kehidupan manusia.

Otak kita terbagi atas 3 bagian:
1. Batang otak atau otak reptil, paling sederhana, bekerja secara otomatis (tanpa difikir), disebut naluri, yang terbagi atas.
a. Naluri bertahan hidup yaitu: Naluri bernafas, haus dan lapar
Fight or flight (berkelahi atau melarikan diri), bila merasa kuat timbul nafsu marah dan berkelahi, bila merasa lemah timbul rasa takut, akan lari atau bersembunyi.
b. naluri berkembang biak atau nafsu sex dan memelihara keturunan.
2. Sistem limbik atau otak mammalia, mengatur emosi, fungsinya lebih rumit daripada batang otak karena menggunakan sistem hormonal yang kerjanya lebih lambat dibanding kerja naluri.
3. Otak besar untuk berfikir.
Terlihat dalam uraian ini bahwa rasa takut adalah termasuk naluri yang berpangkalan di batang otak. Reaksinya sangat cepat karena tidak perlu difikir lebih dahulu.
Karena memelihara diri dari siksaan Alloh dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya bukan termasuk naluri, tetapi termasuk inteligensi, yang difikir terlebih dahulu, sehingga kerjanya lebih lambat,

Hasil Penelitian

1. Daftar ayat-ayat Al Qur-an yang mengandung kata taqwa
Menurut prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, kata taqwa dalam berbagai bentuk dan  konteksnya ada 258, tetapi penulis baru menemukan 216 buah sebagai berikut. 

1.[2] :2
2. [2]: 21
3.[2]:24
4.[2]:41
5.[2]:48
6.[2]: 63
7.[2]:66
8.[2]:103
9.[2]:123
10.[2] :177

11.[2]:179

12.[2]:180
13. [2]:183
14.[2]:187
15.[2]:189
16.[2]:189
17.[2]:194
18.[2]:194
19.[2]:196
20.[2]:197
21.[2]:203
22.[2]:203
23.[2]:206
24.[2]:212
25.[2]:223
26.[2]:231
27.[2]:233
28.[2]:237
29.[2]:241
30.[2]:278
31.[2]:281

32.[2]:282
33.[2]:283
34.[3]:15
35.[3]:28
36.[3]:28
37.[3]:50
38.[3]:76
39.[3]:76
40.3]:102
41.[3]:102
42.[3]:115
43.[3]:120
44.[3]:123
45.[3]:130
46.[3]:131
47.[3]:133
48.[3]:138
49.[3]:172
50.[3]:179
51.[3]:186
52.[3]:198  
53.[3]:200  
54.[4]:9
55.[4]:77
56.[4]:129
57.[4]:131
58.[5]:2
59.[5]:2
60.[5]:4
61.[5]:7
62.[5]:8


63.[5]:8
64.[5]:11
65.[5]:27
66.[5]:35
67.[5]:46
68.[5]:57
69.[5]:65
70.[5]:88
71.[5]:93
72.[5]:93
73.[5]:93
74.[5]:96
75.[5]:100
76.[5]:106
77.[5]:112
78.[6]:32
79.[6]:51
80 [6]:69
81.[6] 72
82.[6]:155
83.[7]:26
84.[7]:35
85.[7]:63
86.[7]:65
87.[7]:96
88.[7]:128
89.[7]:156
90.[7]:169
91.[7]:164
92.[7]:171
93.[7]:201

94.[8]:1
95.[8]:25
96.[8]:29
97.[8]:34
98.[8]:69
99.[9]:4
100.[9]:7
101.[9]:36
102.[9]:108
103.[9]:109
104.[9]:119
105.[10]:123
106.[10]:6
107.[10]:31
108.[10]:63
109.[11] :78
110 [12]:57
111.[12]:90
112.[12]:109
113.[13]:35
114.[15] :45 
115.[15]:90
116.[16]:2
117.[16]:30
118.[16]:30
119.[16]:31
120.[16]:52
121.[16]:128
122.[19]:13
123.[19]:18
124.[19]:63


125.[19]:72
126.[19]:85
127.[20]:113
128.[20]:132
129.[21]:48
130.[21]:49
131.[22]:1
132.[22]:32
133.[22]:37
134.[23]:23
135.[23]:32
136.[23]:52
137.[23]:87
138.[24]:34
139.[24] 52
140.[25]:15 
141.[26]:11
142.[26]:90
143.[26]:106
144.[26]:108
145.[26]:110
146.[26]:124
147.[26]:126
148.[26]:131
149.[26]:132
150[26]:142
151.[26]:144
152.[26]:150
153 [26]:161
154.[26]:163
166.[33]:37

155.[26]:179
156.[26]:184
157.[27]:53
158.[28]:83
159.[29]:16
160.[30]:31
161.[31]:33
162.[33]:1
163.[33]:3
164.[33]:32
165.[33]:55
166.[33]:70
167.[36]:45
168.[37]:124
169.[38]:49
170.[39]:10
171.[39]:16
172.[39]:20
173.[39]:28
174.[39]:33
175.[39]:57
176.[39]:61
177.[39]:73
178.[41]:18
179.[43]:63
180:[44]:51
181.[47]:17
182.[48]:26
183.[49]:1
184.[49]:3
185.[58]:9

186.[49]:10
187.[49]:12
188.[49]:13
189.[49]:44
190.[50]:31
191.[51]:15
192.[52]:17
193.[54]:54
194.[57]:28
195.[58]:9
196.[59]:9
197.[59]:7
198.[59]:18
199.[59]:18
200.[60]:11
201.[64]:16 
202.[65]:1
203.[65]:2
204:[65]:4
205.[65]:5
206.[65]:10
207.[68]:34
208.[69]:48
209.[71]:3
210.[74]:56
211.[77]:41
212.[78]:31
213.[91]:31
214.[92]:5
215.[92]:17
216. [96]:12

3. Daftar ayat secara lengkap setelah diberi arti takut dalam kurung kami lampirkan pada makalah berikutnya: Tafsir Taqwa di dalam Al Qur-an Seri ke 2.
4. Ternyata mengartikan taqwa dengan takut pada 215 ayat tersebut semuanya sesuai dengan konteks ayat masing-masing.
5. Definisi taqwa
Dari ayat-ayat itu diperoleh definisi taqwa sebagai berikut:
a. Takut terhadap kegoncangan yang dahsyat di hari kiamat. Yaitu QS Al-Haj [22]: 1.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّڪُمۡ‌ إِنَّ زَلۡزَلَةَ ٱلسَّاعَةِ شَىۡءٌ عَظِيمٌ۬ (١)
1.  Hai manusia, bertakwalah (* takut) kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
b. Takut terhadap hari kita dibangkitkan dan dihimpun di padang mahsyar. Yaitu QS Al-An’am [6]: 51.
وَأَنذِرۡ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحۡشَرُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ‌ لَيۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِىٌّ۬ وَلَا شَفِيعٌ۬ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ (٥١)
Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa (* takut).
c. Takut terhadap (pengadilan) hari Kiamat. Yaitu QS. Al-Baqoroh [2]: 48, QS. Al-Baqoroh [2]: 123, QS Al-An’am [6]: 51 dan QS. Lukman [31] : 33.
وَٱتَّقُواْ يَوۡمً۬ا لَّا تَجۡزِى نَفۡسٌ عَن نَّفۡسٍ۬ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يُقۡبَلُ مِنۡہَا شَفَـٰعَةٌ۬ وَلَا يُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ۬ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ (٤٨)
48.  Dan takutlah (فَٱتَّقُواْ ) kamu terhadap hari (pengadilan Alloh, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (QS. Al-Baqoroh [2]: 48).
وَٱتَّقُواْ يَوۡمً۬ا لَّا تَجۡزِى نَفۡسٌ عَن نَّفۡسٍ۬ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يُقۡبَلُ مِنۡہَا عَدۡلٌ۬ وَلَا تَنفَعُهَا شَفَـٰعَةٌ۬ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ (١٢٣)
123.  Dan takutlah (فَٱتَّقُواْ ) kamu kepada suatu hari (pengadilan) di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafa'at kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. (QS. Al-Baqoroh [2]: 123)..
وَأَنذِرۡ بِهِ ٱلَّذِينَ يَخَافُونَ أَن يُحۡشَرُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ‌ لَيۡسَ لَهُم مِّن دُونِهِۦ وَلِىٌّ۬ وَلَا شَفِيعٌ۬ لَّعَلَّهُمۡ يَتَّقُونَ (٥١)
Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut (يَخَافُونَ) akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa'atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa (* takut). (QS Al-An’am [6]: 51).
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمۡ وَٱخۡشَوۡاْ يَوۡمً۬ا لَّا يَجۡزِى وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِۦ شَيۡـًٔا‌ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقٌّ۬‌ فَلَا تَغُرَّنَّڪُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا وَلَا يَغُرَّنَّڪُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ (٣٣)
33.  Hai manusia, bertakwalah (* takut) kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (QS. Lukman [31] : 33).
d. Takut terhadap hari pembalasan. Yaitu QS. Ali ’Imron [3]: 281.
وَٱتَّقُواْ يَوۡمً۬ا تُرۡجَعُونَ فِيهِ إِلَى ٱللَّهِ‌ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٍ۬ مَّا ڪَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ (٢٨١)
281.  Dan takutlah (فَٱتَّقُواْ ) kamu kepada hari (pembalasan) yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Ali ’Imron [3]: 281).
e. Takut terhadap neraka. Yaitu QS. Al-Baqoroh [2]: 24 dan QS. Ali Imron [3]:131:

فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْٱلنَّارَٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ‌ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ (٢٤)
24.  Maka jika kamu tidak dapat membuat (satu surat seperti Al Qur-an) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), maka takutlah (فَٱتَّقُواْ ) kamu terhadap neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqoroh [2]: 24).
وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِىٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ (١٣١)
131.  Dan takutlah (فَٱتَّقُواْ ) kamu terhadap api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir. (QS. Ali Imron [3]:131).
f. Definisi panjang orang yang bertaqwa (مُتَّقِينَ) : Orang yang takut terhadap (saat menghadap Tuhannya), Tuhan yang Maha Pemurah sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. Dijanjikan-Nya bagi mereka Syurga.
Yaitu QS Qof [50]: 31-33.
وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ لِلۡمُتَّقِينَ غَيۡرَ بَعِيدٍ 
Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa (* takut), pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). (QS. Qof [50]: 31).
هَـٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ۬ (٣٢) مَّنۡ خَشِىَ ٱلرَّحۡمَـٰنَ بِٱلۡغَيۡبِ وَجَآءَ بِقَلۡبٍ۬ مُّنِيبٍ (٣٣) 
Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya)
(yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (QS Qof [50]: 32-33)
 g: Nama lain dari taqwa adalah khouf.
Dengan membandingkan (QS. Ar-Rohman [55]: 46-76) dan (QS. Ad-Dukhon [44]: 51-56).
Secara logika, bila:
[Orang yang bertaqwa]     =+   akan mendapat surga
[Orang yang takut terhadap
saat menghadap Tuhannya]     =+  akan mendapat surga
Maka : [Orang yang bertaqwa]  =+  [Orang yang takut terhadap saat menghadap Tuhannya]

Takut = khouf (خَافَ)   mirip =+
Takut = Taqwa (uqø)s? )
QS. Ar-Rohman [55]: 46-76 mirip =+
QS. Ad-Dukhon [44]: 51-56
وَلِمَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ (٤٦)
 فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٧)
 ذَوَاتَآ أَفۡنَانٍ۬ (٤٨)
 فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٤٩)
 فِيہِمَا عَيۡنَانِ تَجۡرِيَانِ (٥٠)
 فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥١)
 فِيہِمَا مِن كُلِّ فَـٰكِهَةٍ۬ زَوۡجَانِ (٥٢)
 فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (٥٣)
مُتَّكِـِٔينَ عَلَىٰ فُرُشِۭ بَطَآٮِٕنُہَا مِنۡ إِسۡتَبۡرَقٍ۬‌ وَجَنَى ٱلۡجَنَّتَيۡنِ دَانٍ۬ (٥٤)

46.  Dan bagi orang yang takut terhadap saat menghadap Tuhannya ada dua syurga.
47. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?, 48.  Kedua syurga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.
49.  Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
50.  Di dalam kedua syurga itu ada dua buah mata air yang mengalir
51. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
52.  Di dalam kedua syurga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.
53.  Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
.54.  Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat..
.
إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ أَمِينٍ۬ (٥١) فِى جَنَّـٰتٍ۬ وَعُيُونٍ۬ (٥٢) يَلۡبَسُونَ مِن سُندُسٍ۬ وَإِسۡتَبۡرَقٍ۬ مُّتَقَـٰبِلِينَ (٥٣) ڪَذَٲلِكَ وَزَوَّجۡنَـٰهُم بِحُورٍ عِينٍ۬ (٥٤) يَدۡعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَـٰكِهَةٍ ءَامِنِينَ (٥٥) لَا يَذُوقُونَ فِيهَا ٱلۡمَوۡتَ إِلَّا ٱلۡمَوۡتَةَ ٱلۡأُولَىٰ‌ وَوَقَٮٰهُمۡ عَذَابَ ٱلۡجَحِيمِ (٥٦) فِى جَنَّـٰتٍ۬ وَعُيُونٍ۬ (٥٢) يَلۡبَسُونَ مِن سُندُسٍ۬ وَإِسۡتَبۡرَقٍ۬ مُّتَقَـٰبِلِينَ (٥٣) ڪَذَٲلِكَ وَزَوَّجۡنَـٰهُم
51. Sesungguh-nya orang-orang yang bertakwa (* takut) berada dalam tempat yang aman,
52.  (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air;
53.  Mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan,
54.  Demikianlah. dan kami berikan kepada mereka bidadari.
55.  Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran),
56.  Mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. dan Allah memelihara mereka dari azab neraka,

Dan seterusnya, lihat di Tafsir Taqwa di dalam Al Qur-an Seri ke 1

Terbukti Taqwa = khouf
= takut  terhadap saat menghadap Tuhannya
مِّن خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ (QS. Ar-Rohman [55]: 46)
h. Orang yang bertaqwa juga berusaha agar keluarganya selamat dari azab neraka ( فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ) (QS. At-Tur [52] : 17-28)
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ
فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ سُرُرٍ مَّصْفُوفَةٍ  وَزَوَّجْنَاهُم بِحُورٍ عِينٍ
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ  كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
وَأَمْدَدْنَاهُم بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ
يَتَنَازَعُونَ فِيهَا كَأْسًا لَّا لَغْوٌ فِيهَا وَلَا تَأْثِيمٌ
وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ
وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ
قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ
فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ
إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ  إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan,
mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka.
 (Dikatakan kepada mereka): "Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan",
mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.
Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini.
Di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa.
Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.
Dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya.
Mereka berkata: "Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab)". (takut keluarga kami diazab)
Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka.
Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dialah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. (QS. At-Tur [52] : 17-28).
i. Apakah QS. Ali ’Imron [3]: 102 : takutlah engkau kepada Alloh setakut-takutnya.
Tidak bertentangan dengan
QS. At-Taghobun [64]:16 : bertakwalah (* takut) kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.
Takut kepada Alloh setakut-takutnya diperoleh dengan cara :.
i. Beriman akan Alloh Swt. dan kepada adanya hari akhir.
ii. Membayangkan hari kiamat, hari kebangkitan, penghimpunan manusia di padang Mahsyar, pengadilan Alloh, penimbangan amal, shiroth dan neraka sehingga timbul rasa takut.
iii. Selalu membayangkannya setiap saat.
Bertakwalah (* takut) kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu artinya:
Kemampuan orang membayangkan hari akhirot tidak sama.
Juga sesuai dengan QS Al Baqoroh 286, Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’aha  (Alloh tidak membebani seseorang itu kecuali sesuai menurut kemampuannya).
Tafsir lain adalah sesuai dengan rangkaian ayat tentang kemampuan seseorang untuk menafkahi keluarganya tidak sama.
QS. Ali ’Imron [3]: 102
QS. At-Taghobun [64]:16
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
102.  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah (* takut) kepada Allah sebenar-benar takwa (* takut)  kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ  وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Maka bertakwalah (* takut) kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
j. Apakah bedanya bertakwa kepada Alloh ( تَّقُوا اللَّهَ) (dan takut kepada Alloh (!$# |·øƒs) pada QS. An-Nuur [24] : 52 ?

Menurut Terjemah Al Qur-an Kementerian Agama RI :
yang dimaksud dengan takut ·øƒsukepada Allah ialah takut kepada Allah disebabkan dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan yang dimaksud dengan takwa ialah takut kepada Allah dari segala macam dosa-dosa yang mungkin terjadi.
Tafsir lain adalah :   Yakhsya (·øƒs) takut terhadap barang yang kelihatan yaitu Alloh mampu menciptakan langit dan bumi (alam semesta), yang amat besar, tentu Alloh juga sanggup menciptakan neraka.
(Taqwa (#qà)¨?) : takut terhadap saat menghadap Tuhannya (barang yang ghoib)
وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ وَيَتَّقۡهِ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡفَآٮِٕزُونَ 
52.  Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan[1046].
k. Orang yang paling mulia di sisi Alloh
Orang yang paling mulia di sisi Alloh adalah orang yang paling takut kepada saat akan menghadap Tuhannya. (QS. Al-Hujurot [49]: 13).
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ۬ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَـٰكُمۡ شُعُوبً۬ا وَقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوٓاْ‌ إِنَّ أَڪۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَٮٰكُمۡ‌ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ۬
  
13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa (* takut)  diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
l. Taqwa di dalam Kitab Injil


Taqwa (*takut terhadap saat menghadap Tuhannya).di dalam Kitab Injil pada QS Al-Maidah [5]: 46 yang lengkap ada pada Injil Barnabas, penulis lampirkan dalam makalah selanjutnya : Tafsir Taqwa di dalam Al Qur-an Seri ke 3.

5:46









Dan kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. dan kami Telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa (* takut).




Kesimpulan



Arti taqwa di dalam Al Qur-an adalah takut (takut  terhadap saat menghadap Tuhannya, خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ   ,QS. Ar-Rohman [55]: 46).



Penutup


Demikianlah pembahasan penulis tentang arti kata taqwa di dalam Al Qur-an. Penulis bukanlah seorang yang ahli dalam bahasa Arab atau Tafsir Al Qur-an.
 Penulis yakin bahwa makalah ini tidak sempurna. Bila para pembaca menemukan kesalahan mohon diberitahukan kepada penulis untuk dilakukan koreksi. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih.
 Wallohu muwaffiq ila aqwamith thoriq, wassalamu ‘alaikum w.w.



Jember, 12 Juli 2014.



Dr. H.M. Nasim Fauzi
 Jalan Gajah Mada 118
             Tlp. (0331) 48927
                    Jember


Kepustakaan
01. Abd. Bin Nuh dan Oemar Bakri, Kamus Arab Indonesia, Mutiara, Jakarta, 1979.
02. Abdul Qadir Hassan, Qamus Al-Quran, Al Muslimun, Bangil, 1964.
03. Ali Audah, Konkordansi Qur’an, Litera AntarNusa; Mizan, Bandung, 1997.
04. Departemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, CV Asy-Syifa, Semarang, 1999.
05. Drs. M. Zainul Arifin, Kamus Al-Qur’an, Apollo, Surabaya, 1997.
06. Hassan Shadily, Ensiklopedi Indonesia, Ichtiar Baru – Van Hoeve, Jakarta, Tanpa tahun.
07. Elias A Elias &  Edward  E. Elias, H. Ali Almascatie BA,  Kamus Saku Arab Inggris Indonesia, Almaarif, Bandung, Tanpa tahun.
08. M Kasir Ibrahim, Kamus Arab, Apollolestari, Surabaya, Tanpa tahun.
09. M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir, Lentera Hati, Tangerang, 2013.
10. Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ X,Yayasan Nurul Islam, Jakarta, 1966.
11. Prof. Dr. M. Quraisy Shihab, MA , Ensiklopedia Al-Qur’an, Lentera Hati, Jakarta, 2007.
12. Prof. M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an, Paramadina, Jakarta, 1996.
13. Toshihiko Izutsu, Konsep-konsep Etika Religius dalam Quran, PT Tiara Wacana, Yogjakarta, 1993.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar